
Jihan menatap sebelah kakinya yang di rantai. Seorang pelayan wanita sedang membantunya mengganti baju. Dia akhirnya dirantai setelah beberapa kali mencoba lari dan membuat keributan dengan meminta bantuan penumpang lain. Hingga Marcell harus bersusah payah mengarang cerita agar tidak dicurigai.
Kedua pergelangan tangannya kini membiru karena kuatnya cengkraman tangan anak buah Marcell ketika menahannya. Rasa pedih juga ia rasakan ketika besi borgol bergesekan dengan kakinya.
Pelayan itu melirik wajah Jihan ketika mendengar ringisannya. Ketika ia memperhatikan kakinya yang lecet, dia memanggil pengawal yang berjaga diluar, lalu memberitahu mereka hal tersebut. Akhirnya salah satu diantara mereka mengganti borgol berantai itu ke kakinya yang lain.
Jihan sudah sangat pasrah, dia bahkan tidak diizinkan melaksanakan ibadah karena diberikan baju yang tidak menutupi auratnya. Dia hanya diberikan gaun panjang. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai begitu saja. Jihan terus menangis, tidak mau makan sampai Marcell akan datang dan memaksanya dengan ancaman.
Jihan tidak tahu malam dan siang. Kamar itu tampa jam dan tampa jendela. Jihan hanya menghitung hari dari jumlah sarapan yang diberikan pelayan wanita yang mengurusnya. Pelayan itu bahkan tidak berani menatap matanya. Begitu juga para anak buah Marcell.
"Nona, waktunya anda makan." kata pelayan itu.
Jihan melirik nampan yang diletakkan di sisi kasur. Lalu menatap pelayan yang terus menurunkan pandangannya.
"Aku wanita bersuami." Jihan mengatakannya seperti mayat hidup yang bisa berbicara.
"Ma-maafkan saya."
Jihan memperhatikan pelayan itu, dia baru menyadari bahwa pelayan itu masih sangat muda. Rambutnya bewarna coklat, kulitnya coklat gelap dan memiliki tubuh tinggi yang ramping. Dia juga selalu ketakutan ketika berbicara pada Jihan.
"Kamu dari mana?"
Mendapat pertanyaan itu, pelayan itu tersentak, dia semakin menunduk.
"Bahasa inggrismu juga tidak begitu lancar, apa kamu dari Asia?"
"Sa-saya dari vietnam, tapi saya lahir di afrika selatan."
Pintu terbuka dengan pelan. Pelayan itu mundur ketepi dan merapatkan punggungnya pada dinding. Jihan masih memperhatikannya ketika Marcell sudah duduk di sisi kasurnya.
"Apa kalian juga memaksa anak dibawah umur untuk melakukan hal-hal kotor?" tanya Jihan datar, bola matanya bergerak perlahan menatap Marcell yang juga menatapnya.
"Aku senang akhirnya kamu mau berbicara lagi," sahut Marcell karena sejak naik ie kapal ini, Jihan tidak mau bicara dan hanya akan memberontak sebagai usaha untuk kabur. "Jangan pikirkan hal lain, kepala kecil ini hanya boleh memikirkanku. Buka mulutmu!" laniutnya, dia sudah memegang piring dan mengangkat sendok berisi makanan.
"Sampai kapan kamu akan menahanku?" Marcell ingin mengelus rambutnya, namun Jihan menepis tangan itu dengan kasar. Membuat Marcell mengeraskan rahangnya. Dia kesal karena Jihan masih saja menolaknya.
"Terimalah kenyataan, Jihan. Mulai sekarang, kita akan selamanya bersama."
Jihan mebalasnya dengan tatapan menghina dan sarat akan kebencian.
"Aku masih istri sah dari suamiku kalau kamu lupa." balasnya.
"Itu tidak bearti apa-apa bagiku Ji, mulai sekarang kamu hanya akan bergantung padaku. Di duniamu yang baru, kamu tidak punya pilihan sayang." Marcell tersenyum, lalu meletakkan kembali piring ditangannya ke atas meja. Dia menggenggam kedua tangan Jihan dan menciumnya dengan lembut.
"Hanya kamu yang aku inginkan sejak pertama kita bertemu disekolah. Kamu, adalah tujuan utamaku kembali pulang." Mata penuh obsesi yang ditunjukkan Marcell membuat Jihan merinding.
Marcell melepaskan tangan Jihan, lalu memeluknya dengan erat. Jihan takut, tapi dia juga tidak bisa melawan lagi. Setelah kehilangan banyak berat badan dan terus-terusan melawan, dia kehabisan tenaga.
Dia benci setiap kali tubuhnya disentuh oleh Marcell. Dia memikirkan Chris. Baginya, hanya Chris yang boleh menyentuhnya. Akhirnya dengan perasaan benci dan marah, Jihan meneteskan air matanya lagi. Ketidak berdayaan membuatnya frustasi.
"Jangan menangis, Jihan. Aku hanya memelukmu bukan memperkosamu."
Marcell menarik dirinya, lalu tersenyum masam. Dia membenci fakta bahwa Jihan tidak akan mau menerimanya. Rencananya sudah gagal saat Jihan melihatnya membunuh sore itu. Mau tidak mau dia terpaksa melakukan pemaksaan seperti ini.
"Aku hanya akan menyentuhmu lebih jauh ketika kita menikah. Aku masih menghormatimu, jadi sampai saat itu tiba, berusahalah untuk menyukaiku."
"Aku masih istri sah suamiku!" bentak Jihan, "Apa kamu gila!" tambahnya.
"Istri Chris? Itu jika dia masih hidup bukan? Setelah dia mati kamu bebas dan aku akan menikahimu."
Hanya satu hal yang bisa dipikirkan Jihan melihat pria dihadapannya ini. Marcell benar-benar sudah gila akan obsesinya.
"Akulah yang lebih dulu mengenalmu Jihan. Kamu adalah orang pertama yang mengulurkan tangan padaku. Kamu juga akan menjadi orang terakhir yang berada disisiku. Itulah kenapa... Aku sangat berusaha keras mendapatkan kekuasaan ini." ujar Marcell. "Hanya untuk membawamu kesisiku." Lalu dia tersenyum lagi.
Pikirannya melayang pada masa kecilnya di panti. Hingga ia bertemu Jihan, dia hanyalah seorang anak yang selalu mendapat hinaan dan ejekan. Bukan hanya dari teman sekolah, bahkan anak panti dan pengurus panti juga menghindarinya karena dia selalu bermasalah disekolah. Tidak ada seorangpun yang mempercayainya.
Jihan adalah teman pertama yang mau berbicara padanya. Bersikap normal dan mau berteman dengannya. Sampai pada akhirnya dia bertemu ayah Jihan ketika mengantarnya pulang.
Perkataan ayah Jihan saat itulah yang menjadikan ia memiliki obsesi yang lebih besar lagi. Kemarahan dan keinginan menjadi satu. Membuat seorang anak yang berprestasi dalam pelajaran itu memilih pilihan yang salah dalam hidupnya.
'Jangan dekati anakku. Anak berhargaku hanya boleh bergaul dengan anak yang pantas.'
Bukan hanya kalimat tersebut, tapi tatapan merendahkan dari ayah Jihan saat itu membuat Marcell merasa sangat terhina. Belum lagi perlakuan teman Jihan yang merupakan anak kepala sekolah. Marcell semakin membenci keadaannya yang miskin dan yatim piatu. Karena itu, ketika kesempatan datang dia tidak menyia-nyiakannya.
.
Jihan seperti berada dalam sangkar emas. Dia ditempatkan dalam satu kamar dengan fasilitas yang sangat mewah. Di sebelah kamarnya, adalah kamar Marcell.
Dia dilayani oleh gadis yang sama ketika ia ada di kapal. Jihan hanya boleh berada di dalam kamar dan di taman belakang. Area yang juga dilarang bagi anggota mereka untuk di datangi tampa alasan khusus.
Seorang pria memberi isyarat pada gadis yang melayani Jihan. Memberikan sebuah kertas kecil yang diselipkan pada plastik obat yang ia berikan. Itu adalah vitamin yang dijadwalkan untuk Jihan dari dokter pribadi Marcell. Hal itu karena Jihan terus saja tidak mau makan dan beberapa kali pingsan.
.
Di tempat lain, Chris sedang duduk di hadapan psikiaternya. Tampak lebih kurus. Dalam masa pemulihan mentalnya ia tetap bekerja meskipun dari rumah. Arjun dan Jordi yang mengendalikan situasi di dalam perusahaan.
"Chris, bagaimana perasaanmu saat ini?" Psikiaternya masih muda, umurnya tidak jauh berbeda dengan Chris yang masih tiga puluhan. Namun penampilannya terlihat lebih muda. Dengan rambut yang diwarnai menjadi pirang, wajahnya seperti seorang model papan atas dengan satu anting di telinga kirinya.
"Seperti biasa, aku baik-baik saja."
Jawaban itu membuat psikiaternya yang bernama Teo itu tidak puas. Dia tahu Chris masih sangat sulit menunjukkan kelemahannya pada orang lain. Dari semua hal, pola pikir dan prinsip itu belum bisa ia rubah dari sosok Chris.
"Aku senang mendengarnya. Untuk saat ini kamu tidak membutuhkan obat lagi. Pengendalian emosimu sudah cukup baik. Aku harap, motifasimu tetap sama. Terkadang, motifasi bisa menjadi hal baik untuk seseorang."
Chris meminum tehnya dengan elegan, lalu tersenyum tipis kemudian. "Motifasi itu seperti rasa makanan dilidah. Jika sesuai seleramu, kamu akan menghabiskan makananmu. Begitu juga sebaliknya. Aku terlalu egois dan kekanakan, seperti yang kamu katakan selama ini, aku harus mengubah pola pikirku. Dan motifasiku membuat jalan semakin lancar."
Teo membuat ekspresi kalah yang kentara. Dia sudah berusaha mengatakan kata kekanakan dengan lebih halus, namun Chris yang pintar ini tentu saja mengerti maksudnya. Terkadang Teo merasa dia menjadi tertekan tampa alasan selama berbicara dengan Chris.
Seperti yang berusaha ia katakan, Chris terperangkap dalam emosi masa kanak-kanaknya. Chris tidak melepaskan kenangan buruk dan perlakuan dingin dari keluarganya. Dalam dirinya, Chris menolak melupakan perlakuan itu dan menjadikannya dendam tak berkesudahan. Membuat tingkat depresinya semakin tinggi dan pada akhirnya menciptakan suatu emosi yang tak terkendali. Dimana otaknya selalu berpikir bahwa menyakiti akan membuat rasa sakitnya hilang. Dan menyakiti penyebab dia mendapatkan rasa sakit adalah hal yang selalu ia pikir benar.
"Jadi, kamu sudah tahu dimana istrimu berada?" Teo mengubah topik pembicaraan. Membahas Jihan adalah sumber motifasi Chris untuk melunak dan mengikuti arahannya selama ini.
Sorot mata Chris berubah, ada kilat berbahaya disana. "Apa kamu pikir aku hanya diam saja bergelung dengan penyakitku?"
"Itu bagus, jangan memanggilku lagi karena aku ingin kembali ke istriku. Aku sudah terlalu lama tinggal disini." keluhnya.
Chris tersenyum tipis, "Terima kasih, Teo "
Teo terbatuk-batuk, tersedak tehnya ketika Chris mengatakan itu saat dia minum.
"Ah... Maafkan aku. Aku senang kamu menjadi lebih baik. Aku dengar kata itu sangat langka darimu untuk orang lain." Teo terkekeh setelah mengatakannya.
.
Setelah Chris benar-benar merasa jauh lebih baik, dia segera kembali pada rencananya. Membawa Jihan kembali. Meski ia harus membayar mahal untuk itu, Chris tidak peduli asal dia bisa menyelamatkan Jihan dari Marcell. Selama sebulan terakhir, dia sudah diserang secara diam-diam sebanyak tiga kali. Jika dia tidak tahu kotornya dunia ini dan tidak menguasai bela diri, dipastikan Chris sudah mati sejak lama.
"Tuan, lebih aman bagi Anda untuk menempatkan seseorang disisi Anda. Sampai rencana kita berhasil, Anda masih berada dalam bahaya." Arjun tidak mengatakannya hanya untuk sekedar basa basi, dia benar-benar melihat banyaknya potensi bahaya dari pihak Marcell.
"Aku bisa menanganinya," tolaknya, Chris masih belum mempercayai siapapun untuk menjaganya, dia percaya bahwa siapapun bisa menghianatinya. "Bagaimana dengan Loan?".
"Masih disekitar istri Anda, Tuan. Dia baru saja mengirimkan gambar pagi ini." Arjun buru-buru mengirimkannya pada Chris lewat pesan chat.
"Dia semakin kurus." lirihnya.
Chris mengeraskan rahangnya. Jika bukan campur tangan pemimpin organisasi gelap yang tidak lain adalah ayah angkat Marcell, dia tidak akan sesulit ini menghadapi Marcell.
"Loan mengatakan bahwa kemungkinan besar Marcell ingin menikahi Jihan secara sah untuk membuatnya mengikuti keinginannya, Anda pasti sangat tahu prinsip Jihan. Tapi karena Anda masih hidup sampai sekarang, dia tidak bisa melakukannya. Jihan akan menolaknya, dan Marcell tidak mau memaksa dengan kekerasan. Sejauh ini, Loan bilang Marcell terlihat masih ingin mendapatkan hatinya."
"Aku punya rencana," sahut Chris.
"Rencana?"
Ketika Chris mengatakan rencananya, Arjun langsung melotot dan tidak menerimanya. Dia bahkan tampa sadar menggebrak meja, urat takutnya tiba-tiba hilang seketika.
"Anda pasti sudah gila, kan? Itu sangat berbahaya! Bagaimana mungkin... Lagi pula, bagaimana kalau Anda salah prediksi? Tidak! Anda jangan gila, Tuan! Kita bahkan tidak tahu bagaimana cara pembunuh bayaran itu bergerak!"
"Sejauh ini orangnya masih sama. Kita hanya perlu mendapatkan identitasnya dan melihat gaya permainannya selama ini."
"Tapi..." Arjun masih menolak.
"Hubungi Alex, suruh dia mencari tahu. Dia punya banyak informasi tentang orang-orang dari dunia bawah."
Arjun masih tidak bergerak, dia masih menolak ide Chris dengan keras. Sampai Chris yang duduk di kursi kekuasaannya mendongak, menatapnya dengan tatapan penuh perintah yang tak ingin di bantah.
Arjun menghela napas, mau tidak mau dia menghubungi Alex yang entah ada dimana saat ini. Pria itu selalu bertindak seperti pemabuk berat akhir-akhir ini untuk mendapatkan sumber informasi. Arjun tidak mengerti kenapa Alex memilih cara itu. Satu-satunya yang bisa ia pikirkan adalah Alex suka bersenang-senang. Dia menyelam sambil minum air.