
Hail tau jika dia terlalu muda untuk inara guru yang sangat dia idolakan tapi bukankah cinta tak pandang usia? Hail menjadi bersemangat berangkat sekolah walaupun dia tau inara hanya menganggap dia sebagai murid biasa seperti mutid yang lain. Walaupun dia tau saingannya adalah hilman supir sekaligus seorang bodyguardnya. Tapi hail tak peduli karena sebelum ada ijab kabul inara masih layak diperjuangkan. Begitulah mottonya.
"Hail..." seorang murid dari kelas 2 memanggilnya memberikan dia sebuah kotak entah apa isinya namun hail tak ambil peduli. Matanya masih mengejar inara yang baru saja keluar dari kelas, bukan kelas hail. Hail berpaling dan berlari diikuti murid perempuan itu. Baju seragam hail ditarik seorang murid perempuan itu.
"hail tunggu..." teriak gadis itu sambil menarik seragam hail.
"ahh..." seragamnya sobek karena ditarik dengan kuat, "apaan sih? siapa sih lu?!" hail tampak kesal karena kehilangan inara dari pandangannya.
"hail aku cuma..." gadis itu berdiri dihadapan hail dia bicara dengan gugup
"apa?" hail tampak malas meladeni
Gadis itu menatap hail sambil menunduk dia menggenggam tangan kanan hail dan memberikan kotak itu. Setelahnya gadis itu pergi. Dia berlari meninggalkan hail yang bengong dengan kelakuan ajaib gadis itu.
"cie... yang banyak fans" suara yang terasa familiar bergema ditelinganya. Hail menoleh ke asal suara ternyata inara yang berdiri dibelakangnya.
"eh.. bu ini.. ga seperti..." hail menjadi gugup bingung untuk menjelaskan. Inara mendekat padanya tersenyum, senyum itu membuat jantung hail terasa berhenti dia sangat menyukai swnyum itu. Inara menepuk pundak hail, "gapapa asal jangan kamu mainin hati perempuan ya" setelah berkata seperti itu inara beranjak dari sana ke arah kantor ruang guru.
"bu... ini... bu... ahhh..." kesal hail.
Hasybi melihat ke arah hail yang seperti orang kebingungan, "kenapa il?"
Hail hanya menggelengkan kepala namun hasybi melihat kepergian inara. Dasarnya hasybi memang kurang peka atau karena terlalu cuek dia pun meninggalkan hail yang sedang galau.
"bang..." panggil hail yang melihat kepergian hasybi. Hasybi hanya menoleh pada hail, "kok lu ga hibur gue sih?" kesal hail mengikuti hasybi
"laper gue" jawab hasybi singkat sambil berjalan
"bang..." teriak hail manja dia pun mengikuti hasybi berjalan ke arah kantin.
Saat dikantin hasybi menyuruh hail untuk membeli makanan sedang dia membeli minum. Dilihatnya habil sudah duduk ditepi dekat lapangan sambil melihat ke arah lapangan. Hasybi yang lebih dulu datang memperhatikan abangnya yang fokus melihat ke arah lapangan. Dia mengikuti arah pandang abangnya. Dilihatnya maya sedang mengelap keringat pacarnya sambil tersenyum dan memberikan sebotol air yang hasybi tau dia adalah teman sekelas abangnya.
"kalau suka bilang bang" lamunan habil seketika buyar dengan ucapan hasybi.
"bi lu ngerasa ga sih kalau kita tuh lahir kecepetan" ucap habil
"bener bang gue kecewa banget deh" hail yang baru datang menyahut.
"ga ah biasa aja" ucap hasybi sambil memakan bakso kesukaannya.
"dasar ga peka!" gerutu habil dan hail bersamaan.
"seandainya gue lahir lebih dulu dari bu inara mungkin gue bisa jadi pacarnya sekarang. Ga takut kesaing sama pak hilman" keluh hail
Hasybi menatap hail dengan mulut menganga hendak makan bakso tapi tak jadi. Sedang habil mengaduk bubur didepannya.
"gue waktu nembak maya dia bilang gue kaya adik kecil dia karena usia kita yang terpaut jauh. Padahal cuma 4 tahun" kali ini habil yang biasanya paling diam dan paling bisa memendam perasaannya pun ikut berkeluh kesah.
"bang lu bisa ga sih peka dikit ama sodara!" kesal hail yang tak ditanggapi hasybi yang sedang asyik memakan baksonya. Sedang habil hanya menggelengkan kepalanya.
"triple h sodarakuhhhh...." teriak gibran dari jauh dan langsung bergabung dengan sikembar. Dia mencomot gorengan didepannya.
"muka lu pada ditekuk kenapa sih?" gibran yang memperhatikan saudaranya merasa bingung. Melirik pada hasybi dia hanya menggeleng dia tau tak kan mungkin dapat jawaban dari manusia tak berperasaan ini.
"bang lu pernah pacaran ga?" hail bertanya tapi matanya masih fokus pada batagor didepannya.
"ga lah gue aja belum pernah ngerasain suka ama cewe gimana mau pacaran gue bukan lu il yang macarin siapa aja tanpa perasaan kalau dah bosen lu putusin" gibran bicara panjang lebar.
Hail langsung menatap kesal pada gibran, "ishhh ngeselin banget sih lu bang!"
"mang kenapa sih lu nanya kaya gitu il? sejenak gibran terdiam dan langsung tertawa membuat triple h heran.
"lu masih waras kan bang?" tanya hasybi menatap pada gibran.
"hahaha... ya iyalah lu pikir gue lu!" gibran tertawa terkekeh, "jadi ceritanya kalian ini lagi kasmaran? lu il biasanya tanpa lu nembak sekali lirik aja cewe pada klepek-klepek sama lu"
"habil... lu suka siapa sih? masih si maya itu? lu liat noh anak smp disebelah yang seumuran lu banyak yang lebih cantik dari maya" gibran menatap pada hasybi, "ah... kalau hasybi mah pacarnya ga lain dari buku paling galaunya dia nentuin kuliah dimana"
Habil, hasybi dan hail bangkit dari duduknya mendesah kesal dan meninggalkan gibran sendiri dikantin. Gibran yang melihat kepergian mereka heran, "ehh... kok gue ditinggal? belum juga makan gue"
Triple h tak peduli mereka tetap berjalan meninggalkan gibran dikantin.
\*\*\*\*
Bel pulang berbunyi seperti biasa hilman menjemput triple h dia menunggu diparkiran. Saat menunggu triple h keluar kelas hilman berbincang dengan inara disebuah bangku yang da dipinggiran taman dekat parkiran. Hail yang melihat itu merasa kesal dia melihat hilman tampak sangag akrab dengan inara. Inara tersenyum lebar bahkan sesekali tertawa membuat hail merasa kesal bukan main. Habil yang mendengar hail menggeram kesal merangkul pundak hail berjalan menuju mobil. Hasybi berteriak pada hilman yang masih asyik ngobrol dengan inara, "pak hilman masih mau kerja ga?!" teriak hasybi tanpa peduli perasaan orang lain. Hilman langsung mendongak kemudian berpamitan pada inara dan berlari ke arah mobil dimana anak majikannya sudah berdiri menunggu mobil dibuka. Inara melambaikan tangannya pada hilman yang dismabut hilman.
"pak hilman akrab banget sama bu inara kalian udah pacaran?!" selidik hail
Hilman tersenyum pada hail melalui kaca, "ga den saya sama inara hanya berteman"
Hail hanya ber-oh ria mendengar jawaban hilman. Setelahnya semua terdiam sepanjanh jalan sampai tiba dirumah.
Triple H menyalami ibunya yang sudah berdiri menyambut mereka dengan senyum tapi 2 anaknya lemas dan tak bersemangat membuat nasya heran.
💓💓💓
💓💓
💓
jangan lupa untuk like, komen, vote dan kasih bintang ya....