
Sejatinya beberapa orangtua bekerja keras hingga hampir tak ada waktu untuk anak bukanlah karena mereka tak memyayangi anak-anak mereka. Justru karena mereka terlalu sayang hingga takut anaknya hidup dengan kekurangan. Mereka berusaha keras agar anak-anak bisa hidup layak. Karena saat menjadi orangtua tanggung jawab mereka bukan hanya mendidik mereka tapi menjamin kehidupan mereka dari mulai dalam kandungan, lahir hingga mereka dewasa sekalipun mereka sudah mandiri tetap orangtua bertanggung jawab terhadap hidup mereka. Karena tanggung jawab orangtua bukan hanya didunia tapi juga diakhirat. Bersyukurlah wahai anak-anak jika mendapati orangtua yang menyayangi kalian dan selalu ada waktu. Untuk anak-anak yang ditinggal orangtua bekerja keras hingga tak ada waktu jadilah anak baik yang membanggakan orangtua buktikan jika mereka tak sia-sia memberi kalian fasilitas yang lebih layak daripada anak-anak lain yang diperhatikan orangtuanya tapi masih serba kekurangan.
Jadilah pribadi yang melihat sisi positif bukan hanya sisi negative dan menyalahkan orangtua atas kelakuan kalian yang nakal diluar batas. Karena sejatinya tak ada orangtua yang mau melihat anaknya kekurangan.
Untuk para orangtua saat mereka tua saat itulah mereka akan berpikir dunia yang mereka kejar bukanlah hal penting lagi disaat anak-anak menjadi sukses mereka menjadi lupa untuk memperhatikan orangtuanya. Orangtua selalu bisa memberikan hidup layak, makan kenyang untuk semua anak-anaknya tapi belum tentu anak-anak yang banyak dan sukses bisa memberikan kehidupan yang layak untuk orangtua yang sudah mulai menua dan rapuh.
Ada pepatah mengatakan, kasih ibu sepanjang jalan kasih anak sepanjang galah. Tak akan bisa kita membalas kebaikan orangtua apapun bentuknya. Selagi mereka hidup jadilah anak yang baik setidaknya jangan membebani pikiran mereka dengan masalah kita jika kita bahkan belum bisa memberikan sesuap nasi pada orangtua yang masih harus bekerja keras dimasa tuanya.
ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜
jadi mewek kan authornya
_
Annasya berjalan mengelilingi rumahnya, beberapa maid yang sedang membersihkan rumahnya menyapanya yang diangguki oleh nasya. Triple h sedang berenang dibalik kaca pembatas ruang tengah dan kolam renang dia melihat kepada anak-anaknya yang sedang menikmati kebersamaan mereka. Araf mendekat pada nasya, "sayang udah makan?" araf memeluk dan mencium kepala nasya yang terbalut hijabnya.
"mas udah pulang?" nasya mencium tangan araf
"emmm... kita kan mau jalan-jalan sama anak-anak mumpung mereka disini" nasya mengangguk senyum terukir diwajah cantiknya.
"aku panggil anak-anak dulu ya kamu siap-siap" araf berjalan ke arah kolam renang. Nasya mengangguk mengiyakan.
Mereka pergi kemall untuk makan siang bersama setelahnya nonton bioskop. Nasya seperti seorang ratu yang dijaga 4 pengawal. Dia tersenyum melihat betapa protektifnya araf dan anak-anaknya menjaga dirinya.
Setelah seharian bersenang-senang bersama araf mengajak nasya kerumah utama untuk mengunjungi keluarganya. Araf mendengar jika ibunya tengah sakit. Nasya dan anak-anaknya mengiyakan.
Leni menyambut bahagia kedatangan anak, menantu dan 3 cucunya.
"mi, gimana kabar mami hari ini?" nasya memegang dahi leni, "mami demam. udah berapa hari mi?"
"semenjak kasus yayasan bergulir sya" hana yang baru datang menjawab pertanyaan nasya sambil membawa baki berisi teh hangat.
"mi jangan terlalu memikirkan masalah yayasan kan udah ada papi sama bang zaki" nasya memandang pada ibu mertuanya yang duduk dikasur dan terlihat pucat. Leni tersenyum mendapati nasya yang masih seperti biasanya. Tidak seperti yang dia dengar kalau nasya belakangan sering lupa bahkan hal-hal kecil.
"mami baik-baik aja namanya udah tua kecapekan wajar sayang. Kamu sendiri himana keadaan kamu? mami dengar kamu masih sering kontrol?" leni berucap sambil menerima segelas air putih dan 2 butir obat dari tangan hana.
"kontrol jahitan mi, nasya baik-baik aja mami ga usah khawatir ya"
"mi... nasya punya anak calon dokter hebat dimasa depan mami jangan khawatir" hana menenangkan ibu mertuanya.
"alhamdulillah dalam keluarga kita ada 2 orang dokter yang bisa diandalkan" leni tersenyum dan menggenggam tangan nasya dan hana, "nikmat Allah yang selalu mami syukuri dapat menantu yang 1 pandai masak selalu mengisi perut kami dengan makanan lezat dan yang 1 seorang dokter yang selalu memantau kesehatan mami. Betapa beruntungnya zaki dan araf"
***
"papi juga lagi memikirkannya raf. Saham abinaya makin terperosok" bayu mengusap hidungnya
"apa yang bisa araf bantu pi?" araf terlihat serius dengan pertanyaannya. Bayu menggelengkan kepalanya zaki menengadahkan kepalanya menghembuskan nafas berat.
"setelah pemberitaan media saham makin merosot tajam. Besok akan diadain lagi rapat pemegang saham. Selama ini abinaya corp bergerak dibanyak bidang selain pendidikan, retail dan lainnya. Tapi ga nyangka hanya dalam sekejap semua berakhir dengan pemberitaan media" zaki tersenyum kecut mengambil air segelas dan meminumnya.
"kita masih memikirkan jalan keluarnya" gumam bayu.
Araf mengangguk saja mendapati abang dan ayahnya yang sedang frustasi menghadapi masalah diperusahaan. Leni terbaring sakit bukan hanya memikirkan perusahaan tapi juga memikirkan nasya yang mengalami alzheimer. Penyakit yang diderita ayah mahesa sebelum meninggal menurun pada nasya menantunya.
Dia sangat tau bagaimana dari awal sampai pada ayah mahesa meninggal karena tak bisa menelan makanan. Bahkan melupakan anak-anak yang dicintainya.
Menjelang pukul 7 nasya sekeluarganya pamit untuk pulang. Sesampainya dirumah nasya kedatangan faiqa dan danu. Nasya berjalan perlahan ke arah danu tersenyum memegang danu, "om... udah pulang. Masya Allah..." Semua tercengang mendapati nasya yang linglung melihat danu seperti baru bertemu. Padahal mereka baru bertemu beberapa hari lalu.
Danu mengerti kondisi nasya dia membimbing nasya masuk kedalam.
"om... habis darimana?" danu tersenyum melihat nasya
"sya... selama om ga disamping kamu, apa aja yang kamu lakuin?"
"aku... aku... ngapain ya?" nasya malah bertanya pada dirinya sendiri.
"udah jangan terlalu dipikirkan" danu mengelus pipi nasya lembut, "sekarang kamu makan ya habis itu minum obat dan istirahat"
Nasya tersenyum menganggukkan ucapan danu, "om sering-sering ya kesini. Nasya udah punya anak"
"om udah tau, sekarang kamu istirahat ya"
"om nasya pengen banget bisa kekampung nengokin bunda sama ayah" ucap nasya
"nanti ya kalau om udah selesai tugas kita kesana bersama ya"
"ini siapa om? kok dia nangis?" nasya melihat pada faiqa yang sedang menutup mulutnya menahan tangis.
"ini istri om. Namanya faiqa" faiqa memeluk nasya
"mas..." nasya menoleh pada suaminya
"ayo istirahat hari ini udah banyak hal yang kita lakuin. Kamu pasti lelah yuk..." araf mengajak nasya naik kekamarnya.
Nasya menoleh pada danu dan faiqa juga anak-anaknya yang melihat padanya.