
Tapi ku t'lah mengatakan padamu
Aku tak bisa hidup tanpamu
Bagiku itu hanyalah dirimu
Waktu berlalu jika diisi bersamamu
Aku mencintaimu terima kasih banyak
Tolong peluk aku dengan hangat
Agar aku selalu hidup dalam cintamu
.
.
.
Araf menunggu nasya dengan sabar disebuah rumah sakit. Dia terus menggenggam tangan nasya dengan lembutnya. Selepas kembali dari semarang kondisi nasya sempat memburuk. Dia menjadi tidak ingat apapun, dia pun sering buang air kecil sembarangan. Bahkan dia lupa caranya makan.
Kondisi ini membuat araf menjadi semakin sering meninggalkan kantor. Dia ingin selalu berada disisi nasya dalam keadaan apapun. Walaupun araf memakai jasa perawat tapi sepenuhnya araf mengurus nasya. Hanya jika araf sedang mandi atau ketoilet dia akan meninggalkan nasya pada perawat.
Kondisi nasya yang seperti itu membuat anak-anak dan keluarga besar araf sedih. Terlebih hasybi yang jauh dari keluarga dan tidak bisa sering-sering kembali.
Danu dan faiqa datang menjenguk nasya dirumah sakit, danu merasa sedih saat melihat kondisi nasya yang kurus dan pucat.
Nasya sedang duduk berhadapan dengan araf. Araf sendiri sedang menyuapi nasya seperti anak kecil. Danu yang baru melihat kondisi keponakannya merasa sedih. Trenyuh hatinya teriris sembilu. Faiqa sudah menangis terlebih dahulu sampai pda akhirnya danu sendiri tak sanggup untuk msuk kedalam. Faiqa mengikuti suaminya yang mengambil duduk dikursi panjang. Seumur hidupnya tak pernah faiqa melihat suaminya menangis. Faiqa duduk disamping suaminya, "kak..." panggil faiqa sesenggukan. Dia ingin menguatkan suaminya tapi dia sendiri pun tidak kuat.
Danu mengusap matanya menghembuskan nafas berulang kali, "i'm fine" danu menatap pada istrinya yang sudah banjir airmata. Faiqa mwngangguk saja tak menjawab karena dia sendiri sudah tak sanggup bicara. Saat faiqa dan danu berusaha menenangkan diri datanglah Leni dan bayu orangtua araf.
"danu.. kenapa disini?" tanya leni. Tanoa kata faiqa bangkit fan memeluk leni.
"kami ga sanggup mba masuk kedalam" faiqa menangis sesenggukan. Leni menepuk pundak faiqa dia sendiri baru mengetahui nasya masuk rumah sakit pagi ini. Maka dari itu dia dan bayu baru datang kerumah sakit dan belum melihat kondisi nasya.
"kita harus kuat fai..." ucap leni
"benar kalau kita ga kuat bagaimana kita bisa menguatkan araf dan keluarganya. Mereka butuh support kita" bayu mencoba bijaksana.
"om danu..." saat mereka sedang bersedih sebuah suara memanggil danu. Mereka pun menoleh melihat ke arah nasya yang memanggil danu.
"om..." nasya melebarkan tangannya meminta pelukan dari om yang sufah seperti ayahnya ini.
Danu bangkit dan memeluk nasya, "nasya kangen sama om... om kapan pulang?" tanya nasya dengan wajah sumringah. Araf yang berdiri dibelakangnya hanya diam tak bersuara karena dia sendiri terharu. Disaat dia bahkan lupa dengan anak-anaknya tapi nasya mengingat danu jauh dilubuk hatinya.
"om akan sering ada dijakarta sekarang om ga akan pergi-pergi lagi" ucap danu menenangkan nasya.
"om mereka siapa?" seketika leni dan faiqa menangis. Nasya bahkan tak mengingat lagi mertua dan tantenya.
Danu menghembuskan nafas lembut, "mereka orang yang paling menyayangi kamu" nasya terdiam mendengarnya.
Leni memdekat pada nasya, "ini mami sayang" leni memeluk nasya. Nasya memandang pada danu dimatanya seperti meminta penjelasan.
"ibu mertua kamu" nasya mengangguk saja tak mengerti. Faiqa mendekat dengn terisak dia menggenggam tangan nasya.
"ini...?" nasya meminta penjelasan lagi, "aku pusing" keluh nasya.
Seperginya nasya semua terisak tak lagi bisa menahan airmatanya.
"pi... kenapa nasya bisa seperti ini" tangis leni dipelukan suaminya.
"udah... yang terpenting sekarang kesehatan nasya. Dia ga bermaksud melupakan kita. Dia menyayangi kita" bayu mencoba membesarkan hati istrinya. Faiqa sendiri sedari tadi tak bisa menahan airmatanya. Dia terus menangis.
"kak bukannya Alzheimer hanya menyerang lansia? kenapa nasya bisa kena kak? dia bahkan belum genap 37 tahun" faiqa bertanya pada suaminya.
"dalam kasus tertentu usia 20-an dan 30-an juga akan mengalaminya fai jika dia memiliki keturunan. Ayah mahesa memang ada keturunan alzheimer beruntung mahesa dulu ga ngalamin. Aku pikir ga akan ada yang mengalami lagi setelah melihat mahesa ga ngalamin alzheimer. Tapi aku bener-bener ga tau kalau pada akhirnya malah nasya yang mengalami" Danu mengerutkan dahinya dan mengusap wajahnya dengan kedua tangnnya.
***
Habil sedang membaca buku disebuah taman saat ponselnya berdering dia melihat adiknya hasybi menelepon.
"assalamu'alaikim bi"
"wa'alaikumsalam bang. bang apa bener mama sekarang udah mulai hilang ingatan?" tanya hasybi terdengar suara hasybi bergetar seperti orang yang hendak menangis. Habil mengerutkan dahinya dia sendiri bingung hendak menjawab apa.
"bang" panggil hasybi
"ga sepenuhnya kok. Lu kan kuliah kedokteran lu pasti tau kan tahap pertahap kondisi mama nantinya" habil tak ingin membuat hasybi semakin sedih tapi dia juga tak mungkin berbohong. Terdengar isakan diseberang sana sepertinya hasybi mulai menangis.
"bi... kita harus tegar, harus kuat. Supaya kita bisa menjaga mama sama-sama"
"gimana gue bisa jaga mama bang? gue jauh hiks" tangis hasybi mulai terdengar.
"dengan doa bi, sejauh apapun lu doa akan sampai pada penerimanya" ucap habil yang tak ingin adiknya menjadi rapuh apalagi dia kini di negeri orang jaub dari sanak saudara, "lu harus fokus sama kuliah lu supaya bisa jadi dokter dan bisa merawat mama" ucal habil.
"iya bang" suara hasybi memelas.
"jangan tingglin 5 waktu, disepertiga malam kita harus kompak untuk minta sama Allah demi kesehatan mama" ucap habil yang malah dijawab sesenggukan hasybi.
"bang gue pengen peluk mama" habil malah menangis mendengar rengekan hasybi. Tapi ditahannya agar hasybi tak mendengar.
"sssttt... udah gede jangan cengeng. Kita harus kuat demi mama"
"iya bang" tak lama kemudian hasybi berpamitan dan menutup telepon.
"bil..." sebuah suara mengagetkan habil yang sedang mencoba mengkondisikan dirinya agar lebih stabil.
"ya" jawab habil pada wanita yang kini duduk disisinya yang tak lain adalah dasha
"ada apa?" dasha mencoba lebih dekat pada habil namun habil malah menjauh.
"gapapa" habil membuka ponselnya menemukan nomor rilley dan menelepon wanita yang entah sejak kapan dirindukannya.
"halo ril..." Hasybi berdiri dan berjalan menjaub dari dasha. Dasha hanya cemberut melihat kepergian habil.
"maaf ya ril aku ga bisa kerusia karena kondisi mamaku drop" dengan sangat menyesal habil berucap.
"gapapa bil aku paham kok, nanti aja kalau aku libur aku kesana" ucap rilley yang diiyakan oleh habil.
"kamu yang tegar ya... perbanyak doa untuk kesembuhan ibu kamu"
"maksih ya ril" entah kenapa setiap kali habil merasa penat kini dia lebih suka ngobrol dengan rilley yang akan membuatnya lebih baik.