
Mereka makan malam sambil berbincang-bincang dan diselingi canda tawa. Ayah rilley termasuk orang yang friendly dan mudah bergaul. Araf melihat rilley sesekali mencuri pandang ke arah habil dia seperti paham jika rilley menyukai habil anak sulungnya.
"ehemmm.... ehem..." araf mendehem agak keras membuat rilley terkejut dan menunduk malu.
"mr fillane sepertinya anak-anak kita sangat akrab ya" ucap araf sambil melirik pada istrinya.
"anak anda sangat cerdas jika saja rilley tak saya bawa ke austria mungjin mereka akan bisa kebih akrab lagi" jelas fillane. Sontak mereka terkejut terlebih habil dia langsung terbatuk mendengar penuturan ayah rilley. Namun dengan cepat habil menguasai diri agar tak ada yang memperhatikan. Tapi diam-diam araf dan nasya memperhatikan habil dan rilley.
"memangnya kenapa harus dibawa ke austria?" inara bersuara karena sebenarnya dia sendiri belum rela rilley pergi.
"Saya orang austria bisnis saya ada disana tidak mungkin saya berlama-lama disini menemani putri saya untuk sekolah. Tidak mungkin juga saya meninggalkan putri saya sendiri disini karena jujur saja saya sudah sangat lama terpisah dan itu membuat saya sangat tersiksa" ucap fillane dengan wajah sedihnya.
"benar yang anda ucapkan tuan fillane sebagai orang tua pasti akan sangat sedih dan tersiksa jika terpisah oleh anak. Sedih pasti tapi terkadang kita pun harus merelakan demi masa depan anak" sontak ucapan nasya membuat araf dan anak-anaknya menoleh pada nasya. Seketika anak-anak nasya merasa bersalah karena keinginan mereka untuk pergi jauh menuntut ilmu. Araf menggenggam tangan nasya diats meja dan tersenyum seperti memberi isyarat agr jangan merasa sedih karena ada aku disini.
"tapi aku pasti kembali ke indonesia jika sudah sukses nanti karena ada yang harus aku lakukan" ucap rilley penuh teka-teki.
"lalu bagaimana dengan ibumu rill? apa kamu sudah mengabari perihal kedatangan ayahmu?" inara menatap pada rilley yang duduk disisinya. Rilley tersenyum kecut.
"bahkan mama ga mau menerima telepon dariku bu. Tak apa nanti kalau rilley sukses akan cari mama hmmmhh..." desah rilley menarik nafas dalam agar airmata tak turun.
Fillane yang melihat kesedihan dimata anaknya segera mengalihkan pembicaraan, "terimankasih kalian semua sudah membantu anak saya. Bu nasya pak araf kalian orangtua yang pintar mendidik anak menjadi anak baik. Saya harus banyak belajar dari kalian" ucap fillane tulus.
Araf hanya tertawa, "hahaha anda tau? bagaimana kepribadian anak tergantung ibunya. Jika ibunya solehah maka anak itu akan menjadi anak baik. Saya bersyukur memiliki istri sekaligus ibu solehah yang menjadi panutan anak-anak saya"
"tapi... kenapa ibu memakai penutup wajah?" fillane agak bingung, "apa karena agama kalian islam?"
"bukan" jawab araf tegas
"lalu?"
"menutup aurat dalam agama kami memang wajib, tapi menutup wajah bukanlah kewajiban. Saya yang meminta" araf mendekatkan wajahnya fillane
"mengapa?" fillane bertanya lagi
"dad" panggil rilley berharap ayahnya tak lagi bertanya agar tak menyinggung araf sekeluarga.
"tak apa rill" menatap pada fillane berbisik, "anda tau istriku sangatlah cantik aku cemburu jika ada pria yang memandangnya hahahaha" Tak pelak bisikan araf yang masih terdengar oleh orang-orang disana mengundang tawa semua orang.
"anda benar... saya pun dulu selalu cemburu jika melihat ibunya rilley tersenyum pada pria lain. wahhh saya mendapat ilmu baru dari anda hahahah" tawa fillane riuh.
Jam sudah menunjukkan pukul 8.30 tak terasa hari beranjak malam. Mereka pun saling berpamitan dan pulang kerumah masing-masing. Hilman mengantar inara kerumah kontrakan inara. Saat tiba dirumah inara, hilman melepas helm yang dipakai inara sebelum inara berpamitan hilman memanggil inara, "ra..."
"hmmm" sahut inara
"kamu mau ga kalau nutup aurat?" tanya hilman dengan wajah serius
"maksud kamu seperti bu nasya?" inara menggeleng
"ga mesti bercadar yang penting berkerudung aja"
Dimobil araf melihat istrinya menjadi sangat pendiam dia selalu menoleh ke arah jendela jika ada gerobakan makanan maka nasya akan menoleh tanpa bicara tapi araf mengerti, "kamu mau sayang?" tanya araf yang masih mengemudikan mobilnya nasya hanya menggeleng.
"tapi mama ngeliatinnya ampe begitunya" tukas hasybi
"ga sehat bi nanti mama dimarahi ayah" ucap nasya pelan. Araf tersenyum diam-diam dia memarkirkan mobilnya dipinggir jalan khusus parkir mobil.
"kok berhenti mas?" tanya nasya pada suaminya
"anak-anak ada yang rindu streetfood?" araf bertanya pada anak-anaknya.
"mauuu" anak-anaknya menjawab serempak
"ok let's go" mereka pun keluar dari mobil.
"yah... kita boleh ga jalan bertiga tanpa ayah sama mama kita berpencar nanti kita kumpul lagi" hail bersemangat karena dia sangat ingin berburu makanan bersama saudaranya tanpa larangan dari ayah ibunya. Terutama nasya yang sangat overprotektif terhadap mereka.
"ga boleh" ucap nasya tegas membuat hail cemberut sektika. Araf menggenggam tangan istrinya.
"lihat ponsel kalian kita samakan waktu" ucap araf
Mereka semua membuka ponselnya dan menyamakan waktu, "ok sekarang kita nyalakan alarm 1 jam lagi kita berkumpul disini"
"mas..." nasya hendak berucap tak setuju
"sesekali kita jalan berdua seperti masa muda dulu ma..." ucap araf menyela ucapan nasya.
"tapi anak-anak..."
"kita harus beri kepercayaan sama mereka ya. Mereka harus mandiri karena mereka anak lelaki" nasya menghela nafas berat.
"ok anak-anak ayo mulai jalan. ingat jam 9.30 kita harus udah disini ya. Kalian harus selalu bersama jangan terpisah" ujar araf
"siappp ayahhh" mereka bersorak gembira sambil memeluk araf kemudian beranjak meninggalkan araf dan nasya berdua.
"ayo sayang sekarang kita pacaran" araf menggandeng tangan istrinya, "apapun yang kamu mau asal ga pedas" ucap araf.
Nasya dan araf menikmati waktu mereka 1 jam berjalan-jalan tanpa anak-anak. Nasya sangat bahagia karena araf memanjakannya, mereka pun sesekali tertawa bersama membuat yang melihat merasa iri dengan kemesraan mereka. Nasya berhenti disebuah kedai tahu pong dia pun memesan 1 porsi tahu pong kemudian duduk disebuah bangku plastik. Araf duduk disisi nasya.
"kalian pengantin baru ya? sepertinya mesra banget deh" ucap salah seorang pelayan mencoba ramah.
Araf menggeleng, "bapak salah kami menikah sudah 21 tahun pak hahaha" ujar araf bangga
"wahhh kalian sepertinya masih muda tapi udah nikah lama sekali ya" ucap pelayan itu terkejut para pengunjung juga terkejut mendengarnya.
"semoga awet terus seperti ini sampai tua ya sampai maut memisahkan" doa pelayan tersebut
"amin terima kasih pak" ucap nasya dan araf berbarengan