Triple Story

Triple Story
bab 2



Hail benar-benar terpesona dengan guru cantik dihadapannya yang membuat dia mematung tak berdaya. Si playboy pada akhirnya takluk dengan pesona seorang guru baru.


"ada yang mau ditanyakan?" seorang murid bernama sean yang duduk didepan hail mengangkat tangannya, "silahkan"


"ibu kayanya masih muda banget usia ibu berapa bu?" tanya sean yang disoraki teman-temannya.


Guru cantik bernama inara itu tersenyum manis pada muridnya, "umur ibu 22 tahun dan baru lulus kuliah" jawab inara.


"ok kita ga usah buang-buang waktu lagi kita mulai aja pelajarannya" ucap guru cantik itu yang diikuti murid lain.


🏵🏵🏵🏵


"hai sayang..." araf datang ke klinik menghampiri istrinya yang masih praktek. Dia langsung mencium kening istrinya yang tertutup hijab.


"mas..." nasya menyalami sang suami


"udah pulang?" araf membelai kepala nasya lembut


"sebentar ya mas aku beres-beres dulu"


"iya sayang" Araf mengambil posisi duduk di bangku seberang meja nasya.


"klinik kamu makin ramai sayang"


"alhamdulillah mas"


"kamu ga ada niat untuk nerusin ambil spesialis?" Nasya menatap araf penuh selidik.


"maksudnya apa nih?" nasya berjalan ke arah suaminya sambil melepas masker.


"ya... kalau anak-anak mulai kuliah kamu kan jadi punya banyak waktu. Manfaatkan aja untuk kamu kuliah ambil spesialis.


Wajah nasya terlihat merengut mendengar ucapan sang suami. Araf yang mengerti perubahan istrinya memeluk istrinya, "sayang aku janji kalau anak-anak kuliah diluar negeri nanti aku akan meluangkan lebih banyak waktu untuk kita berdua. Kan udah lama juga kita ga berduaan sayang" araf membenamkan wajahnya dicerug leher nasya.


"tapi mas anak-anak masih kecil aku belum tega lepasin mereka apalagi sampai ke luar negeri mas" lirih nasya.


"aku pun ga akan lepasin mereka begitu aja. Aku akan siapkan 1 pembantu dan 1 bodyguard untuk menjaga mereka 24 jam"


"kalau aku kangen mereka sulit untuk berkumpul kan mas" nasya menitikkan airmata, "coba aja kalau anak kita banyak aku ga akan sesedih ini ditinggal mereka"


"hmmm..." araf menatap pada istrinya, "kok jadi bahas itu sih? Kita bersyukur sayang anak-anak tumbuh jadi anak yang sehat lagi cerdas" nasya mengangguk.


"ya udah yuk pulang udah sore kasihan anak-anak pasti dah nunggu"


Sepanjang jalan ke rumah nasya hanya menatap jalan sesekali menghela nafas. Araf sangat mengerti suasana hati nasya. Dia tak pernah mau jauh dari keluarganya terutama anak-anak karena selama ini pun tak pernah berjauhan. Araf mengerti sebagai seorang ibu pasti berat melepas anak-anaknya apalagi sampai keluar negeri.


Sesampainya dirumah dilihatnya anak-anaknya sedang berada diruang tengah menonton tv eh apa tv yang menonton mereka?


Karena jika dilihat habil sibuk dengan laptopnya, hasybi pun sama sedang hail sibuk menggambar dengan duduk bersimpuh dikarpet.


"assalamu'alaikum" nasya dan araf berbarengan


"wa'alaikumsalam" anak-anak menjawab salam mereka setelahnya bangkit dan menyalami anak-anaknya. Seperti biasa sambil menyalami mereka juga menciumi ibu mereka. Begitu pun dengan araf menciumi dahi anak-anaknya.


"kalian lagi apa?" tanya nasya sambil mengintip sedikit ke arah anak-anaknya yang kembali fokus dengan laptop dan buku gambar.


"mama ganti baju dulu ke atas" nasya berpamitan dengan anak-anaknya yang dusahuti anaknya hany dengan ucapan "ya"


"yah... yah..." panggil hail pelan pada ayahnya yang hendak mengikuti ibunya ke kamar.


"yah... gimana mama dah ksih izin belum?" serentak semua anak-anak araf berkumpul mendekat pada araf.


"kita doakan ya sayang. Nanti kita bicarakan lagi sayang pelan-pelan ya" ucap araf meminta pengertian pada anak-anaknya. Araf beranjak kekamarnya dilihatnya nasya sudah berganti pakaian dan seperti biasa dia menyediakan pakaian untuk araf diatas kasur.


"mas aku kebawah duluan ya" pamit nasya yang diangguki araf.


Sesampainya dia diruang tengah dia langsung menuju ke arah dapur untuk membuatkan minuman untuk anak-anaknya juga suaminya. Setelah menaruh minuman di atas meja dia melirik pada anak-anaknya dari mulai habil, hasybi dan berlanjut ke hail.


"hail gambar apa? karakter baru lagi?" nasya yang penasaran bertanya sambil memperhatikan sketsa gambar yang dibuat oleh hail.


"ini namanya inara ma..." jelas hail memperkenalkan seketika habil dan hasybi menoleh pada hail.


"siapa inara?" nasya mulai curiga jangan-jangan anaknya sedang dalam masa puber menyukai seseorang.


"inara guru baru kita disekolah ma" jelas habil


"lu suka sama bu inara?" tanya hasybi tak percaya


"emang kenapa? ga ada yang salah kan?" hail cuek dengan pertanyaan hasybi. Hasybi hanya mengedikan bahu.


Nasya memperhatikan anak bungsunya ini, "ya Allah anak hamba sekarang sudah besar" nasya tersenyum meperhatikan anak-anaknya satu persatu.


"mama...." hasybi mendekat pada ibunya


"apa sayang?" nasya tersenyum pada anaknya


"mama beneran ga kasih kita izin untuk kuliah di luar negeri? demi cita-cita ma"


"iya ma... kita kan juga pengen membahagiakan mama sama ayah" hail ikut merayu sang ibu.


"yah... bantu kita dong yah rayu mama" hail yang manja langsung merengek pada ayahnya yang baru duduk disisi habil yang sedang memperhatikan mereka.


"ma... ga ada salahnya lho kasih mereka kepercayaan" araf mencoba bicara pada nasya lagi untuk menyetujui keinginan anak mereka. Seketika nasya langsung cemberut namun tak lama kemudian nasya mendapat ide dengan senyum samar dan masih pura-pura merengut nasya berucap, "ok mama akan menyetujui tapi dengam 1 syarat...."


Triple twins pun tersenyum senang mereka langsung mengerumuni nasya, "beneran ma?" habil yang sejak tadi diam bertanya


Nasya mengangguk, "tapi seperti mama bilang tadi ada syaratnya"


"apa ma?" triple twins tampak bahagia mereka kompak bertanya.


"ehemmm... ehemm... bilang sama ayah kalian untuk izinin mama hamil lagi"


"no mama...."tak hanya triple twins tapi juga araf berteriak hal yang sama.


"kok kalian egois sih?!" nasya tampak muram


"ma... yang benar aja kita udah besar masa punya adik kecil sih malu lah ma" habil si anak tertua memberi alasan.


"mama kan udah menyetujui keinginan kalian. Masa hanya kalian ga setuju keinginan mama. Mama kan cuma ga mau kesepian setelah kalian pergi jauh dari mama" nasya tampak emosional tanpa diaangka dia pun menangis kemudian beranjak dari sana naik kekamar.


"ma..." panggil triple twins


"sudah... sudah nanti ayah coba bicara sama mama" araf beranjak dari tempatnya duduk berjalan ke arah kamar menyusul istrinya yang sedang ngambek.


"bang mama kok bisa kepikiran punya anak lagi ya?" tanya hail heran


"selama ini kan mama ga pernah kepikiran untuk kasih kita adik" hasybi ikut bicara. Triple twins merasa heran dengan ibunya sekarang.