
Habil mengiris daging steak dengan tenang tanpa bicara membuat maya berpikir daging itu untuk dirinya maya pun tersenyum senang tapi ternyata daging irisan itu diberikan kepada hasybi adiknya. Maya seketika cemberut, "emang hasybi ga bisa iris sendiri ya kok kamu irisin sih?" maya menekan suaranya agar tak terdengar dia sedang jengkel. Habil menoleh pada maya, "hasybi adikku ada yang salah?"
Maya hanya melengos tak menjawab, "hasybi mau cobain spaghety aku?" elin mencoba bicara pada hasybi. Hasybi hanya menggeleng. Elin pun memonyongkan bibirnya kesal.
"hail itu kebesaran sini abang potongin" habil mengambil steak dipiring hail dan mengirisnya kecil-kecil kemudian memberikan pada hail lg, "makasih abang" ucap hail.
"kalau semua serba kamu layanin adik kamu bakalan jadi manja dan ga mandiri dong" maya berucap sambil memainkan mie dipiringnya. Namun tak digubris habil. Hail melihat pada rilley yang sedang berdiri dimeja kasir dia melambaikan tangannya. Rilley pun menghampiri.
"iya kak ada yang bisa aku bantu?" tanya rilley ramah
"kamu makan sama aku sini rill" hail memberi tempat disisinua yang sedikit kosong.
Rilley menggelengkan kepalanya, "ga boleh kak nanti manajer tau aku kena marah"
"yahhh sayng banget ya" hail pun tertunduk sambil cemberut.
"jangan ganggu orang kerja il..." habil memeperingati hail
"ehhh kamu umur berapa sih?" tanya maya yang penasaran dengan rilley.
"14 kak" jawab rilley
"kenapa manggil triple h kakak? mereka ini seumur kamu loh" maya menjelaskan.
"owh ya? maaf aku ga tau. Aku pikir karena sudah sma jadi usia kita beda" rilley tampak canggung.
Elin meletakkan piringnya, "emang lu ga tau kalau mereka itu akselerasi? mereka tuh jenius makanya seumur lu udah kelas 3 sma" triple h tampak jengah dengan maya dan teman-temannya.
"santai aja sama kita ga usah kaku" habil tersenyum pada rilley.
"tapi walaupun seumur tetap aja lu ga pantes sama habil atau adik-adiknya kalian bukan level yang sama" maya seperti mempertegas perbedaan diantara mereka.
"cukup may" habil masih berusaha bicara dengan pelan
"loh kenapa beb? aku kan cuma kasih tau dia biar dia melek. Kamu itu milik aku loh beb jadi rilley jangan harap..."
"siapa bilang gue milik lu?" habil memotong ucapan maya.
Maya terkejut dengan ucapan habil, "bukannya selama ini habil suka padanya" pikir maya.
"hari ini jalan-jalannya selesai. Rilley aku minta bill" ucap habil tegas rilley pun mengangguk dan beranjak ke arah kasir. Namun saat memberikan bill bukan lagi rilley yang melayani mereka. Rilley sibuk melayani tamu yang lain.
Setelah membayar habil dan yang lain beranjak dari sana sebelum pergi habil mendekat pada rilley yang berdiri didepan kasir setelah memberikan pesanan tamu.
"rill jangan capek-capek pulanglah lebih awal. Jaga kesehatan" habil tersenyum pada rilley dan menyelipkan sejumlah uang ke apron rilley.
"apa ini kak?" rilley bingung
"terima kasih udah ngelayanin kita dengan baik. Maaf atas sikap teman-temanku ya"
"aku yang harusnya minta maaf kak. Terima kasih banyak ya kak" rilley tersenyum senang. Habil mengangguk dan beranjak dari hadapan rilley.
"bang pulang kan kita, gue capek" hail mengeluh pada habil yang diangguki habil.
"hasybi ga mau ke toko buku dulu?" habil menawarkan.
"ga bang pengen pulang aja ngantuk" jawab hasybi
"beb kita jalan begini aja?" maya memegang lengan habil
"apalagi? kan udah aku turutin mau kamu" ucap habil dingin.
Maya menghela nafas kasar, "ya udahlah" maya mendahului habil dan yang lain.
Setelah mengantar maya kerumahnya triple h pulang kerumah. Sesampainya dirumah dia melihat kedua orang tuanya sedang menikmati momen berdua, ibunya duduk menonton televisi sedang ayahnya merebahkan kepalany dipaha ibunya sambil memainkan ponsel.
"assalamu'alaikum" triple h berucap bersamaan.
"wa'alaikumsalam" orangtuanya menjawab bersamaan. Triple h langsung menciumi ibunya dan menyalami kedua orang tuanya. Hail dan hasybi berebut ingin memeluk ibunya.
"ayahhh... geser dong gantian" hasybi berucap dengan manjanya. Ayahnya pun bangkit dan menyingkir dari ibunya.
"kalian ini ga bisa liat orang tua lagi romantis dikit" keluh araf pada para putranya.
"gimana jalan-jalannya?" annasya bertanya pada puteranya.
"biasa aja ma... malah terkesan membosankan" keluh hasybi.
"mau senang atau ga habil tetap harus menjalankan kesepakatan ya" ucap araf masih fokus dengan ponselnya.
"kesepakatan apa?" tanya hail bingung
"karena hasybi udah pake black card ayah, maka kamu harus bekerja dikantor ayah sepulang sekolah selama 1 bulan" ucap nasya sambil mengelus kepala hasybi dan hail. mereka pun mengangguk, "tenang bang nanti kita bantu" hasybi dan hail mendekat pada abangnya dan memeluk abangnya.
"bgus dong kalau semua anak ayah mau kerja dikantor ayah tanpa digaji lagi" ucap araf sambil tersenyum.
"ayah yang kejam ihhh" hail memberikan wajah sinisnya.
"assalamu'alaikum" suara cempreng anak-anak gadis meramaikan rumah nasya dan araf.
"wa'alaikumsalam" jawab araf sekeluarga.
"alana, aqila apa kabar sayang kesini sama siapa?" tanya nasya senang karena kedatangan sepupu dan keponakannya.
"sama abang juga om ivan" jawab alana.
Setelah menyalami araf dan nasya alana, aqila, ivan dan gibran mengambil duduk disofa yang kosong.
"tante kita nginep yah besok kan minggu mama sama papa lagi ke luar kota" gibran berucap pada nasya yang diangguki nasya.
"kalian udah pada makan?" tanya nasya pada anak-anak itu.
"belum" jawab mereka serempak
"kita makan diluar aja ya, kasihan bibi harus masak banyak dah malam" araf beranjak dari duduknya mengambil kartu kreditnya.
Semua setuju dan bersorak gembira. Mereka pun ke sebuah restoran yang tidak jauh dari rumah.
"om besok ga ada acara kan kita berenang yuk ke ancol" ajak alana pada araf.
"kalian kesini udah izin kan sama orang tua kalian?" tanya araf pada anak-anak itu.
"udah om" jawab alana dan gibran.
"ivan sama aqila?"
"sama mama udah om, kalau papa belum balas pesan kita. Begitulah ayah kalau kerja ke luar kota" jawab aqila
"itulah tentara nak, kamu harus maklum dengan pekerjaan ayah" ucap nasya menenangkan aqila.
"kadang qila iri sama kalian yang ayahnyabalways stand by" aqila menunduk sedih
"ga boleh gitu dik mama sama papa kan bekerja demi kita" ivan mencoba menjadi dewasa untukbadiknya.
"kalau kalian kesepian kalian bisa kerumah main sama triple h. atau kerumah alana kalian jangan sedih ya" nasya tersenyum pada sepupunya yang merasa sedih karena kesibukan orang tuanya. Faiqa yang menjadi dosen di 3 universitas sedang danuarta sibuk dengan tugas negara.