Triple Story

Triple Story
bab 14



Pagi hari yang biasanya tenang kini ricuh karena alana dan gibran sangat sulit bangun pagi. Anmasya dan leni sampai bingung membangunkan mereka. Triple h, aqila dan ivan yang sudah rapi melihat kepada orang dan neneknya yang kebingungan.


"yah... mama sama nenek kenapa sih? ga biasanya teriak-teriak?" tanya habil sedang hasybi dan hail hanya saling pandang.


"ahhh paling bangunin lana sama gibran yg susah bangun pagi" celetuk ivan


"darimana om tau?" hasybi menoleh pada ivan.


"gue kan sering nginep dirumah mereka pemandangam seperti ini sering banget gue liat apalagi gibran kebo banget dia mah"


"iya kadang omelannya mba hana sampe bikin kuping panas tapi tetep aja mereka ga ngegubris" sungut alana.


Dengan wajah kacau annasya mendatangi suaminya dimeja makan.


"mas... tolong" nasya terlihat pasrah dan tak berdaya. Araf menggelengkan kepala sambil tersenyum saat hendak bangkit hail berucap pada ayahnya, "biar hail ja yah yang bagunin alana"


"hasybi aja yang bangunin ivan" ucap hail dan hasybi hampir berbarengan.


"gue ikut ah..." ivan membuntuti sikembar


"aku pusiiing...." leni datang dengan wajah frustasi tak kalah kusut dari nasya.


"tenang nek biar bang hasybi dan hail yang ambil alih" ucap hail menepuk pelan dadanya.


"ya udah sana biar kalian juga ga telat berangkat sekolah" leni duduk disamping bayu. Leni melihat aqila begitu cekatan menyiapkan sarapan bersama nasya, "coba alana bisa seperti aqila bangun pagi dan siapin sarapan aduhhh hana pun sama tiap pagi harus pusing dengan 2 anaknya" Leni menggerutu entah pada siapa sedang bayu dan araf hanya tersenyum melihat istri mereka frustasi.


Hail dan ivan kekamar alana dia bermaksud ingin iseng pada alana agar alana bangun. Hail mengambil mainannya berupa ular karet yang sangat besar hampir mirip dengan aslinya. Dia meletakkan ular itu dikasur alana. Dia pun mengetuk pintu keras-keras dan tidak menutupnya Alana terkejut dan membuka matanya namun saat dia hendak balik menutup matanya dengan menggerutu dia menjerit melihat ular disisinya sontak dia teriak dan berlari dengan wajah berantakan ivan dan hail pun tertawa puas. Misi berhasil.


"ahhh sebel banget ahhh hail iseng banget! nenek..." teriak alana. Masih dengan rambut acak-acakan dia keruang makan mengadu pada neneknya.


Bagaimana dengan ivan?


Hasybi berbaring disamping ivan dengan topeng leak milik hail dia pun mencubit-cubit hidung ivan namun ivan hanya menggeram karena tak juga bangun maka hasybi mencubit hidung ivan dengan kencang hingga ivannterbangun dengan kesal saat dia membuka matanya dia melihat ada leak didepannya dengan lidah terjulur panjang. Ivan pun terkejut jatuh dari ranjang saat melihatnya membuat hasybi tertawa puas.


"kurang ajar lu hasybi...." teriak ivan kesal.


Hail dan hasybi berjalan dengan santai keruang makan, "mama misi berhasil" hail duduk dengan tenang dibangkunya. Nasya dan araf memberikan jempolnya pada anak-anaknya.


"nenek besok-besok aku ga mau nginep dirumah om araf lagi sebel!" gerutu alana diangguki ivan. mereka pun beranjak kekamar mereka lagi.


"jangan tidur lagi lekas mandi ganti seragam nanti kalian terlambat sekolah" teriak leni yang siahuti cucu mereka dengan ucapan "ya" berbarengan.


"aqila dan ivan bisa ya ga kesiangan bangun?" tanya leni pada ivan dan alana.


"kalau kita sampai bangun siang yang ada bunda bakalan ngadu sama ayah kalau ga di video call ya divideoin sebagai bukti. Habis itu ayah pulang kita bakalan dihukum ala militer" jelas ivan yang diangguki aqila.


"kita punya orangtua yang kejam" sambung aqila


"eh mama hehehe..." aqila cengengesan melihat ibunya datang.


"kalian ini bisa-bisanya menjelekkan orang tua" faiqa melipat tangannya diatas meja melirik pada anak-anaknya yang bergantian menyalami faiqa.


"ga ada yang jelekin fai mereka hanya menjawab pertanyaan aku karena mereka bisa sangat disiplin berbeda dengan ivan dan alana yang sulit bangun pagi" ucap leni menjelaskan.


"mereka boleh begitu asal mereka mau aja dihukum ayahnya kalau datang" jawab faiqa santai.


"kan aku ga bohong" jawab aqila.


\*\*\*\*\*


Disekolah


Jam pelajaran pertama habil adalah olahraga. Seperti biasa pelajaran olahraga selalu 2 jam tapi yang terpakai hanya 1 jam selebihnya mereka bermain dilapangan atau sebagian kekantin. Saat itu habil dan andre duduk ditepi lapangan mereka berbincang, "gimana bil rasanya jalan sama maya?" sambil menghela nafas berat karena lelah sehabis berolah raga andre bertanya.


"biasa aja" jawab habil sekenanya masih menatap lapangan.


"lu kan dah lama suka sama dia" andre menatap habil disampingnya.


Habil memberikan botol minuman air mineral dan diberikan pada andre, "gue emang suka tapi gue masih pake logika untuk jadiin dia pacar gue"


"sorry ya gue udah rebut maya dari lu sama doni. Bahkan doni sampai sekarang ga balas pesan gue" kawab andre sambil menunduk.


"nanti kalau doni pulang dari pertukaran pelajar kita minta maaf langsung" habil memutar tutup botol dan meminum air mineral yang sudah tak dingin lagi.


"gue udah disini..." dari belakangbada suara dari seorang doni kepada mereka. Andre dan habil pun menengok kebelakang.


"eh don kapan dateng?" tanya andre yang terkejut karena mendapati doni sudah dibelakang mereka.


"kemarin" jawab doni singkat. Dia mengambil duduk disisi andre, "gue ga nyangka sahabat gue bisa tega nikung gue. lu bisa jadian sama maya disaat gue ikut pertukaran pelajar padahal ga sampe 4 bulan gue pasti balik. Lo bil gue tau lu suka maya dari dulu tapi gue ga nyangka lu bisa jalan sama maya"


"ga sama maya aja kok adik-adik gue sama teman-teman maya juga ikut kok" bantah habil walaupun masih santai.


"tetap aja kalian kok bisa sih kaya gini sama gue?" doni menatap heran pada dua sahabatnya tersirat kekecewaan dimata doni.


"maafin gue don" andre menunduk menyesal.


"kalian ga menghargai persahabatan kita. Gue kecewa sama kalian" doni beranjak dari duduknya hendak pwrgi.


"gue sama maya udah putus, kemarin maya mengajak jalan habil karena taruhan. Habil pun tau itu sekarang lo bisa kebelakang taman lo liat sendiri gimana kelakuan wanita pujaan lo itu yang sebenernya" tanpa menoleh pada doni yang menatapnya dari belakang andre berucap.


"lagipula bukan gue yang ngajak jalan tapi cewe lo. gue membiarkan supaya dia bisa menang dulu sebelum akhirnya nangis karena penyesalan" habil menatap tajam pada doni, "perempuan macam dia ga pantas untuk lo perjuangin sadar don" habil pun sama masih menatap lapangan dia bicara dengan nada dingin. Doni tak menggubris dia beranjak dari sana mencari maya.