Triple Story

Triple Story
bab 31



"kak habil..." panggil rilley sambil berlari kecil ke arah habil yang baru saja naik keatas dari kolam renang. Kebetulan hari ini adalah ujian olahraga renang. Habil menoleh mendapati rilley berlari kecil kearahnya. Habil menutup tubuhnya dengan handuknya mengangkat kacamata renangnya, " ada apa rill?" tanya habil


Rilley menyerahkan sebuah gantungan kunci kuda poni bertanduk. Habil melihat pada kuda poni itu, "apa ini?" tanya habil yang sebenarnya ingin bertanya maksud dari kuda poni itu.


"aku mau kasih kenang-kenangan itu sebelum pergi ke austria supaya kak habil ingat sama aku" ucap rilley sambil tersenyum. Senyum rilley benar-benar cantik.


"owh... iya terima kasih ya rill" ujar habil tersenyum lebar. Rilley mengangguk senang.


"kak..." rilley tampak ragu


"ya..." habil menjawab singkat


"aku... hmmm mau kakak tau hal penting ini" rilley tampak serius. Dia mwngangkat kepalanya menatap pada habil, "aku suka sama kakak"


"hah!" habil tak menyangka jika rilley mengungkapkan perasaanya


"tapi kakak ga perlu membalas perasaan aku. 1 hal yang pasti aku ingin semangat menjalani hidupku kedepanny agar aku bisa jadi orang sukses dan layak untuk kakak. Terlepas nanti kakak..."


"simpan ini seumur hidup kamu" habil memberikan sebuah cincin titanium dengan inisial nama habil dibalik cincin itu.


Habil memegang pundak rilley, "semangatlah untuk meraih masa depan lebih baik. Jika kita berjodoh kita akan bertemu lagi dan menikah jika masing-masing dari kita masih sendiri"


Rilley tersenyum bahagia, "semoga Allah menjadikan kita berjodoh ya kak"


"berdoalah" senyum habil sungguh membuat rilley terpesona, "tapi jika dalam penantian ini kita menyukai orang lain silahkan untuk memilih orang lain jangan saling terikat"


"aku akan mencoba untuk setia" ucap rilley. Habil tersenyum lebar.


Kejadian itu tak luput dari tatapan para siswa disana, dimana rilley mengejar habil dan habil memberikan cincin untuk rilley. Mereka berbisik dan mulai bergosip hal itu tak luput dari pandangan maya wanita yang awalnya disukai habil selama bertahun-tahun.


Mata biru rilley benar-benar membuat habil terpesona. Mata indah itu berbinar diwajah oval rilley yang seperti bentuk telur itu. Habil langsung tertunduk malu, "maaf" habil malu menatap dalam wajah rilley.


"gapapa kak, kalau gitu aku pamit dulu. 2 minggu lagi aku berangkat ke austria setelah mendapat ijazah" ucap rilley yang dijawab anggukan habil. Rilley berbalik dan pergi dari hadapan habil. Begitu pun habil yang langsung menuju loker tempat dia meletakkan barang-barangnya.


Saat habil keluar dari loker maya sydah menunggu didepan pintu keluar, "hebat ya awalnya menyukai aku sampai bertahun-tahun kemudia dalam sekejap udah suka gadis lain"


Habil menoleh ke lain arah agar tak melihat wajah maya, "baik-baiklah dengan doni" habil melewati maya tanpa memandang gadis cantik didepannya.


"memangnya apa kurang aku! aku yang lebih pantas untuk kamu bukan dia!" teriak maya pada habil. Untung saja suasana sudah sepi jadi tak ada yang tau teriakan maya pada habil.


Namun bukan habil jika mempedulikan ucapan maya dia hanya berlalu meninggalkan maya. Maya kesal dia pun berlari ke arah habil menarik lengan habil kemudian maya tersandung dan jatuh memeluk habil dari belakang.


Doni yang melihat itu merasa shock, "maya!" seru doni yang juga sahabat habil


Habil berdiri merapikan pakaiannya, "lo urus tuh cewe lo" habil pun berlalu meninggalkan maya dan doni yang kemudian beradu argumen. Doni yang meminta penjelasan pada maya dan maya yang masih ingin mengejar habil.


*****


Lagi-lagi inara mendapat box makan siang dimejanya. Kali ini makan siang itu berupa ayam teriyaki m, nasi putih dan sup rumput laut. Inara tau jika makan siang itu pasti dari hail anak muridnya yang sangat menyukainya. Inara mengambil box itu fan mencari hail, dia melihat hail diatap duduk dipinggiran atap sambil menggambar dan melihat ke arah bawah. Tanpa pikir panjang inara naik ke atas ke arah hail.


Sesampainya inara diatas dia mendapati 2 muridnya yang lain sean dan arthur yang sedang merokok, "kalian merokok!" tiba-tiba inara berteriak dari ambang pintu mengangetkan sean dan arthur. Hail menoleh ke arah inara dia pun bangkit dari duduknya mendekat ke arah inara. Sean dan arthur segera mematikan rokoknya.


"i... i... ibu ngapain kesini?" tanya sean gugup


"pasti mau bilang terima kasih hail..." ucap hail dengan percaya dirinya.


"ck ihhh..." kesal inara, "kalian akan ibu urus nanti!" ucap inara pada sean dan arthur


"saya tidak mau ini hail. Kalau kamu mau menyumbang makanan bukan pada saya tapi pada yang membutuhkan" ketus inara


"saya tau bu" ucap hail santai


"lalu kenapa kamu masih memberi saya makan?" tanya inara dengan pandangan mata menatap tajam pada hail.


"karena saya suka dan cinta ibu jadi saya harus pastikan ibu makan siang saya ga mau ibu lapar dan lupa makan" jawab hail membalas tatapan mata inara dengan lembut.


"hail dengar..." inara menarik nafas dalam, "bukan ibu melarang kamu menyukai ibu tapi kamu masih terlalu dini untuk mengatakan cinta. Dan kamu pun tau saya sudah punya kekasih..."


"saya tau bu" jawab hail tegas


"kalau tau kamu jangan seperti ini lagi ya. Saya terlalu tua ga pantas untuk kamu. kamu bisa cari yang lebih muda dan..."


"bu perasaan ini saya yang punya jadi terserah saya mau suka sama siapa pun. Ibu ga membalas saya ga masalah karena saya pun ga meminta balasan. Cinta saya ga egois bu. Ibu hanya perlu menikmati saja setiap perhatian yang saya berikan ga usah dipikirin" hail tersenyum. Inara terdiam kaku dia tak tau harus berkata apalagi. Hail berlalu meninggalkan inara dipintu diikuti 2 orang temannya.


"gila... keren banget lo il... cinta saya ga egois ibu hanya perlu menikmati saja setiap perhatian yang saya berikan... kerennn" sean bersorak mengulang ucapan hail yang diluar dugaan sean dan arthur. Hail hanya tersenyum kecil hampir tak terlihat.


"emangnya lo ga ada niat buat dapetin bu inara il?" tanya arthur yang penasaran karena yang dia tau hail adalah orang yang selalu terobsesi dan harus mendapatkan apa yang dimau namun kali ini dia melihat seperti hail tak ingin mendapatkan inara. Hail hanya menggeleng menjawab pertanyaan arthur.


"buat sekarang gue ga ada keinginan untuk dapatin dia. Gue lagi nikmagin aja perasaan gue buat dia. Tapj nanti kalau gue udah sukses dan masih suka sama dia gue baru bergerak untuk dapatin dia" ucap hail berapi-api


"keburu bu inara tua dan jadi milik orang" celetuk sean


"berarti bukan jodoh gue" jawab hail simple