Triple Story

Triple Story
bab 38



"Alhamdulillah mama sama ayah ada disini" hail menciumi wajah orangtuanya bergantian setelah menyalami keduanya.


"mama tuh kangen kamu..." ucap araf memonyongkan bibirnya kearah istrinya.


"beneran ma?" hail menoleh kearah nasya.


"iyalah mana ada orangtua ga kangen anak apalagi kalau anak jauh" jawab nasya mengelus kepala putranya yang sufah hampir sebulan terpisah darinya.


"hmmm mama emang terbaik" hail memeluk erat nasya


"jadi ayah ga baik nih? padahal ayah loh yang ajak mama kesini" araf pura-pura merajuk. Hail menoleh pada araf memeluk keduanya.


"kalian terbaik. Hail kangen mama dama ayah. Apalagi masakan mama hail kangeeennnn banget, tangan lembut mama yang belai hail, nasehat mama banyak deh" ucap hail seperti anak manja yang merindukan orangtuanya.


"terus kangen sama ayah apanya?" tanya araf dengan lirikan tajam.


"transferan ayah... hehehe" jawab hail dengan wajah tertawa. Araf hanya menghela nafas.


"ayah... banyak hal yang ga bisa hail ungkapin untuk ayah. Ayah adalah tulang punggung terkokoh untuk kami. Ayah adalah ayah terbaik yang gabisa digambarkan dengan kata-kata"


"hmmm.... yah... baru sebulan loh hail disingapura kok bisa ya jadi dewasa begini?" tanya nasya pada suaminya.


"iya ma ada apa ya sama ini anak. Jangan-jangan dia minta tambahan uang saku ma" ucap araf curiga.


"ihhh mama sama ayah apaan sih. Ga lah, tapi kalau ayah mau gapapa sih hehehe" hail cengengesan.


"ma... kita istirahat yuk" Araf mengajak nasya beranjak dari duduknya. Nasya meraih tangan araf untuk bisa bangkit dari sofa karena perut nasya sudah membesar dia selalu kesulitan untuk bangun dari sofa.


"ma.. yah... hail ikut bobo sama kalian. Kita tidur dikamar hail aja ya ma, disana ranjangnya lebih luas" hail menarik tangan nasya.


"udah gede masa minta dikelonin" ucap nasya


"biarin kapan lagi bisa dikelonin ayah sama mama" ujar hail manja. Araf hanya menggelengkan kepalanya dan mengikuti anak istrinya kekamar utama yang ditempati hail.


Setelah membersihkan diri nasya dan araf merebahkan diri dikasur. Sebelum tidur araf selalu menyempatkan diri membaca ayat suci al-qur'an sambil mengelus perut nasya. Berharap anaknya menjadi anak soleh atau solehah kelak jika sudah lahir. Dia pun sering membacakan surat maryam demi kelancaran kelahiran nanti. Nasya tersenyum senang. Momen kehamilan seperti ini yang dirindukan nasya oada diri araf. Jika biasanya ibu-ibu hamil merindukan momen saat mereka ngidam berbeda dengan araf yang merindukan momen araf membacakan ayat al-qur'an untuk janinnya. Setelah selesai araf merapikan bantal agar nasya mendapat posisi ternyaman saat tidur. Hail yang melihat merasa bahagia melihat ayahnya yang perhatian dengan ibunya.


Saat araf hendak memeluk nasya, hail merangkak dari bawah untuk menyelip ditengah mereka, "mama sama ayah tuh kalau mau mesra-mesraan nanti kalau udah balik kejakarta. Sekarang kalian harus perhatiin hail" hail melipat tangannya didepan dada. Nasya dan araf bergantian menciumi anaknya dan memeluk hail yang kegelian diciumi orangtuanya dia tertawa geli.


*****


Keesokan paginya nasya menyiapakan sarapan untuk suami dan anaknya. Dilihatnya ira sedang membersihkan ruang tamu nasya memperhatikan ira yang sudah memakai kaos dengan lengan seperempat dan celana panjang yang digulung hingga sebetis.


"pagi nyonya..." ira menyapa nasya yang berdiri dilorong menghadap ruang tamu.


"pagi mba..." nasya tersenyum dia pun berbelok kekiri masuk kedalam dapur, dia membuka kulkas hanya ada sayuran dan buah tak ada ikan dan daging.


"bi... kok ga ada daging atau ikan?" tanya nasya pada ira yang masih diruang tamu. Ira langsung menghampiri majikannya itu.


"sarapan juga ga?" tanya nasya lagi yang dijawab gelengan dari ira.


"terus kamu cuma makan ini?" tunjuk nasya ke arah sayuran.


"iya nyonya, paling kalau den hail libur baru saya beli ikan atau daging"


"memangnya orang kantor ga kasih kamu uang belanja?"


"kasih nyonya tapi kalau masih ada saya bilang masih ada. Udah 2 minggu ini saya nolak nyonya soalnya uang belanja masih utuh. Den hail lebih banyak menghabiskan waktunya diluar rumah nyonya. Beras, minyak, garam mie instant, telur, tepung, kecap, saus cabe, gula dan kopi sudah dibelikan kantor nyonya itu aja masih utuh karena cuma saya yang makan" jawab ira apa adanya. Nasya menggelengkan kepalanya.


Alhasil dia hanya membuat telur goreng, tumis sawi dan nasi putih. Setelah selesai nasya meminta ira membawa kedepan tv yang didepannya disediakan sofa panjang dan meja pendek. Setelah anak dan suaminya selesai mandi dan berpakaian mereka berkumpul untuk sarapan bersama ira pun ikut makan dengan mereka.


"hail... kamu ga pernah makan dirumah ya?" selidik nasya


"iya ma... waktu hail habis dikampus ma, pulang-pulang udah malam. Kalau libur hail pakai untuk belajar dirumah dosen hail supaya hail bisa lekas lulus. Ternyata jauh dari orangtua itu ga enak ma. Kangen mama sama ayah terus. Apalagi abang" jawab hail jujur.


Nasya tersenyum lebar begitu pun araf, "bahagianya punya anak yang sayang orangtua" celetuk araf yang disenyumi oleh hail.


"ya udah selama mama dan ayah disini mama akan siapin sarapan terus untuk kamu" ucap nasya sambil mengelus pipi anaknya. Ira tersenyum melihat harmonisnya keluarga majikannya. Bahkan majikannya pun tak jijik mengajak ira makan bersama dimeja yang sama. Mereka tak membedakan majikan dan pembantu. Bahkan sarapan yang dibuat nasya, ira pun ikut memakannya.


"hari ini rencananya mama sama ayah mau kemana?" tanya hail


"ayah mau ajak mama ke taman bunga garden by the bay" jawab araf.


"cuma kesitu aja yah?"


"besok mau ajak mama ke universal studio"


"nanti malam kita ke night market yuk ma kita berburu kuliner" ajak hail pada mamanya.


"horeee" nasya menepukkan telapak tangannya kegirangan.


"ayah ga diajak?" araf menatap pada anak dan istrinya memasang wajah melas.


"ajaklah nanti kalau hail aja disangkanya pacaran lagi sama mama" ucap hail yang mendapat jitakan dikepalanya dari araf.


"ihhh ayah kdrt nih... maa..." hail mengadu pada nasya.


"kamu ini mas sama anak kok gitu" nasya mengelus kepala hail.


"bisa-bisanya mikir begitu" kesal araf.


"yah wajah hail tuh masih bocah banget kalau jalan sama mama pasti disangka pacarlah kalau mesra-mesraan pegang tangan mama. Apalagi mama kan pakai cadar ga akan ada yang tau kalau mama itu mama hail"


"udah-udah jangan debat yang ga penting. Lekas berangkat nanti terlambat" nasya mengintruksi hail agar segera berangkat. Hail beranjak setelah menyalami kedua orangtuanya dia pun berangkat kuliah.