
Annasya naik ke kamar dan langsung duduk diranjang tak lama kemudian araf datang menghampiri. Dia mengambil duduk disamping nasya, "sayang..." dengan lembutnya araf bicara.
Nasya hanya melirik saja tak menyahut dia memalingkan wajahnya. Dengan sabarnya araf memegang dagu nasya dan menghadapkan wajah nasya ke arah araf, "tolong jangan ngambek ya. Kalau kamu ga mau anak-anak kuliah ke luar negeri aku akan coba bicara sama mereka"
Nasya menatap sendu pada araf, "aku egois ya mas?" lirih nasya tiba-tiba airmatanya menetes.
"ehhh siapa yang bilang kamu egois? kamu adalah ibu dan istri terbaik" araf memeluk istrinya yang sedang sensitif karena takut ditinggal anak-anak mereka.
"aku menghalangi cita-cita anak-anak mas" ucap nasya disela-sela tangisannya.
"ga sayang kamu hanya terlalu sayang sama mereka jadinya kamu berat melepas mereka untuk menuntut ilmu ditempat yang jauh" araf mencoba menenangkan nasya.
"mas..." annasya melepas pelukannya pada suaminya
"hmmm" araf menatap nasya intens
"aku akan kasih izin mereka aku harap mereka bener-bener menuntut ilmu. Mereka ga akan terpengaruh sama pergaulan bebas disana. Aku mau mencoba memberi mereka kepercayaan mas" nasya mengusap wajahnya yang basah dengan airmata.
"kamu yakin?" tanya araf meyakinkan pilihan nasya yang diangguki nasya.
Nasya menghembuskan nafas perlahan, "mas kepalaku sakit kamu sama anak-anak makan malam tanpa aku ya" tanpa menunggu persetujuan araf dia melepas kerudungnya masuk ketoilet membersihkan diri dan mengganti pakaian. Araf hanya menatap istrinya hingga sang istri merebahkan badannya diatas tempat tidur mereka. Araf mengecup kening nasya yang tertidur memiringkan tubuhnya menghadap jendela. Nasya tersenyum dengan perlakuan araf namun kemudian memejamkan matanya.
Araf turun ke ruang makan dilihatnya anak-anaknya sedang duduk menunggu orang tua mereka untuk makan bersama. Namun yang dilihat mereka hanyalah araf sendiri.
"mama mana yah?" tanya hail sibungsu
"mama lagi kurang sehat dia ga bisa ikut kita makan malam" araf menyendokkan nasi ke piring beserta lauk pauk dan sayur ditempat terpisah dan meletakkan diatas tray.
"ayah ga ikut kita makan?" habil bertanya saat sang ayah hendak beranjak dari ruang makan.
"ayah akan makan sama mama diatas. Ayah kan ga mungkin membiarkan mama kamu tidur dalam keadaan lapar"
"hail ikut yah" hail beranjak dari kursinya
"habil juga"
"hasybi potongin buah dulu yah nanti nyusul"
"kalau gitu habil buatin susu mama"
Araf tersenyum senang melihat kekompakan anak-anaknya untuk mengurusi ibu mereka "ya Allah semoga selamanya seperti ini amin ya Allah" batin araf dengn senyum merekah disudut bibirnya.
Mereka masuk kekamar utama kamar nasya dan araf yang 2x lebih besar daripada kamar mereka. Hail membuka pintu, hasybi membawa tray isi makanan. Araf mendekat pada istrinya yang masih tidur dengan posisi semula miring menghadap jendela membelakangi mereka. Araf berjongkok, "sayang bangun..." perlahan araf menepuk lengan nasya.
Nasya mengerjapkan matanya, membuka perlahan. Saat matanya membuka sempurna dilihatnya 4 pria yang nasya cintai bersimpuh didepan nasya. Nasya lantas bangun dan duduk bersandar diranjang, "kalian kok ga makan?"
"kami ga bisa makan kalau mama belum makan" hail mendekat pada ibunya.
"anak-anak mama masih manja ternyata" nasya merentangkan tangannya meminta pelukan pada anak-anaknya. Hasybi meletakkan tray diatas nakas mereka pun memeluk nasya.
"yah... anak manja seperti mereka apa mungkin bisa mandiri di negara orang?" nasya menoleh pada suaminya yang tersenyum melihat ini semua.
"ma... maafin kita ya ma... habil akan kuliah dijakarta aja ma. Habil ga mau liat mama sedih" habil sadar jika dia tetap pergi maka ibunya akan terus merasa sedih dan terluka.
"hail juga ma aku akan ambil beasiswa yang dijakarta aja. Kami ga akn pergi jauh dari mama"
"maafkan kami ma" serempak triple twins memeluk mamanya meminta maaf.
"bener ma?" hail memandang ibunya diikuti yang lain. Nasya mengangguk mengiyakan, "maaf ya mama sempat membuat kalian sedih. Tapi mama akan mencoba memberikan kalian kesempatan untuk meraih impian kalian"
"mama serius?" hasybi menatap ibunya dengan penuh tanda tanya
"kenapa kamu meragukan keputusan mama?"
"habil udah putuskan untuk tetap kuliah dijakarta aja ma agar selalu bisa dekat dengan mama dan bisa mulai belajar bisnis dari ayah"
"sayang harvard adalah impian kamu. Mama gapapa kok" nasya mencoba meyakinkan anak sulungnya. Namun habil menggeleng, "habil udah putuskan ma"
"hail mau kuliah disingapur boleh ma? dengan pertimbangan negara itu dekat dan bisa kapan saja pulang"
Hasybi menunduk dia tak tau harus bagaimana karena kuliah di jerman adalah cita-citanya. Nasya seperti paham dengan anaknya, "hasybi... mama percaya kamu bisa menjaga diri jika mama bisa mempercayai hail yang manja kenapa mama ga bisa mempercayai kamu?"
Hasybi mendongak menatap ibunya kemudian ayah dan ke-2 saudaranya, "tapi... nanti hasybi jauh dari kalian terutama mama" ujar hasybi lirih.
"mama sama ayah akan sering mengunjungi kamu jika kami sehat sayang ya kan yah" araf tersenyum menjawab ucapan istrinya.
"gimana sama kalian?" tanya hasybi pada abang dan adiknya
"kenapa?" tanya hail sok polos
"emangnya kalian ga akan kangen sama aku?" tanya hasybi dengan wajah cemberutnya yang disambut tawa semua orang yang ada disana.
"mas ga kerasa ya anak-anak cepat banget tumbuhnya" nasya memeluk araf diatas tempat tidur.
"iya dan semua mirip kamu"
Nasya menoleh ke arah suaminya, "apanya?"
"sifat dan karakter mereka apalagi?"
"ah ga juga"
"kita mulai dari habil, hasybi dan hail semua cerdas-cerdas seperti kamu"
"habil mirip kamu mas tegas, bijak dan berwibawa mengayomi adik-adiknya"
"hmmm hail lebih mirip kamu pendiam, dingin sama orang lain tapi hangat sama keluarga. Hail haduhhh entah anak itu mirip siapa. Sifat berani dan masa bodoh nurun dari kamu sepertinya"
"iya tapi sifat playboy dan nakalnya nurun dari kamu. untung sifat mesum kamu ga nurun ke anak-anak"
"hahahaha.... janganlah sayang tapi sayang aku kan ga nakal"
"ga nakal gimana siapa yang sering maju duluan kalau ada tawuran? siapa yang paling dikenal biangnya berkelahi disekolah? kamu mas"
"ahhh bemar juga kamu bilang. Kalau mami ga jodohin aku sama kamu mungkin aku ga akan pernah taubat ya" gumam araf kemudian menoleh pada istrinya, "makasih ya sayang maaf kalau aku pernah membuatmu kecewa tapi 1 hal yang pasti kamu menyempurnakan hidupku. I love you" araf mencium dalam kening nasya, "love you to" ucap nasya kemudian tersenyum manis