
Annasya melihat anaknya seperti tak bersemangat saat pulang sekolah dia bertanya pada hasybi yang sepertinya lebih sehat daripada 2 anaknya yang lain. Dia menarik tangan hasybi, "bi... saudaran kamu kenapa?" tanya nasya khawatir
"puber ma" jawab hasybi singkat meninggalkan nasya sendiri berdiri diambang pintu menyaksikan para puteranya dengan terbengong.
Anak-anak masih 14 tahun masa iya udah masa puber? batin nasya. Karena penasaran nasya mengikuti puteranya namun sebelumnya dia membuat cokelat panas kesukaan anak-anaknya terlebih dahulu. Setelahnya dia beranjak ke kamar anak-anaknya. Biasanya dia akan ke kamar habil terlebih dahulu namun niatnya diurungkan dia beranjak kekamar hasybi yang lebih logik dahulu dia ingin mencari informasi apa maksud ucapan hasybi.
"bi... mama masuk ya" tanpa mendengar sahutan nasya membuka kamar anaknya, "lagi apa bi?" nasya melihat hasybi menoleh ke arahnya dengan buku ditangannya. Nasya meletakkan nampan diatas meja belajar hasybi dan mengambil duduk disisi hasybi yang rebahan sambil membaca buku.
"mama kesini karena mau tanya soal abang sama ade?" Ahhh ternyata niat nasya tertebak oleh hasybi.
"bi... hasybi kan tau mama khawatir sama anak-anak mama makanya mama mau tau sebenarnya kenapa? ada apa?" pancing nasya dengan wajah memelas sambil memberikan secangkir coklat hangat pada hasybi.
Hasybi meminum sedikit coklat hangat itu dan meletakkannya diatas nakas "mereka lagi suka sama cewe tapi cewe-cewe itu ga suka sama mereka" hasybi langsung to the point.
Annasya terkejut awalnya dia tak percaya jika anaknya benar-benar sudah puber. Nasya terdiam sejenak kemudian beralih pada hasybi, "hasybi juga?" tanya nasya sambil menatap intens anaknya ini.
Hasybi balik menatap pada ibunya, "hasybi ga punya kesempatan ma untuk lirik cewe, hasybi sibuk" ucap hasybi beralih pada bukunya lagi. Nasya bangkit dari duduknya mengelus kepala hasybi dan mencium kepala anaknya.
"jangan membaca sambil tiduran ya nak nanti mata kamu rusak" pesan nasya kemudian meninggalkan hasybi yang asyik dengan buku bacaannya.
Nasya beralih ke kamar habil mengetuk pelan, "bil mama boleh masuk?"
terdengar sahutan dari dalam kamar, "masuk aja ma ga habil kunci" nasya masuk kedalam dilihatnya habil sedang sibuk dengan laptopnya.
"lagi apa bil?" tanya nasya sambil meletakkan nampan isi coklat panas diatas nakas.
"lagi isi formulir ma" jawab habil singkat
"kamu udah putuskan mau masuk mana?" tanya nasya pada habil setelah memberikan segelas coklat pada puteranya.
"iya ma habil masuk ui aja ma ambil jurusan fisip sama bussiness manajemen" jawab habil sambil tersenyum pada ibunya.
"ambil 2 jurusan kamu bisa bagi waktunya?"
"in shaa Allah bisa ma"
"habil..." panggil nasya lembut
"ya ma...." habil menoleh menatap wajah cantik ibunya
"belajar yang rajin ya sayang kamu anak tertua berikan contoh yang baik untuk adik-adikmu. Usia kamu masih 14 tahun masih terlalu muda untuk mengenal cinta. Mama harap kamu mengerti maksud mama" habil terdiam mendengar penuturan ibunya. Habil melihat ke arah ibunya yang beranjak pergi dari kamarnya. Habil menghela nafas dalam.
Terakhir adalah kamar hail anak bungsunya, bukan nasya tidak tau kalau hail dijuluki seorang playboy. Dia memahami gejolak masa muda anaknya. Dia pun mengetuk kamar hail, "hail...."
Karena tak ada jawaban nasya masuk kedalam dilihatnya hail sedang fokus dengan laptopnya dia sedang menggambar animasi. Nasya mendekat, "bagus gambarnya mau bikin karakter dia seperti apa?"
Hail terkejut mendapati ibunya sudah berdiri disampingnya dengan membawa segelas susu coklat hangat, "mama ngagetin aja"
"kamu yang fokus banget kok mama yang disalahin, kamu serius mau jadi animator nak?" tanya nasya pada anak bungsunya itu.
"hmmm..." nasya hanya bergumam
"ma hail mau ambil it aja boleh?" tanya hail pada ibunya dia bermaksud meminta pertimbangan.
"boleh... yang penting kamu fokus sama kuliah kamu dan bisa jadi orang sukses"
"Sebelum usia hail 18 tahun akan hail usahakan ma" jawab hail semangat
"kok gitu?" tanya nasya bingung
"karena hail mau seperti ayah usia 18 udah nikah dengn wanita yang hail suka. Hail ga mau ma sampai keduluan orang. Pokoknya hail harus kerja cerdas ma"
"memangnya kamu udah ada calon?" tanya nasya yang menatap puteranya.
Hail tersenyum lebar dia beranjak dan memeluk ibunya, "doain aja ya ma pokoknya dialah semangat hail sekarang yang bikin hail rajin sekolah hehehe"
Nasya hanya tersenyum samar mendengar penuturan anaknya. Dia mengelus kepala anaknya dan menciumnya setelah itu dia beranjak dari kamar anaknya.
\*\*\*\*
Nasya duduk sendiri diruang tengah, dia sengaja pulang lebih awal karena ingin merayakan keberhasilannya membuka cabang baru dikota sebelah dengan anak dan suaminya tapi harapan tak sesuai kenyataan. Suaminya sibuk sejak siang tak membalas pesannya. Anak-anaknya pun sibuk dengan urusan mereka sendiri. Nasya menghela nafas matanya melirik pada lemari dibawah tv. Nasya beranjak membuka lemari kecil itu kemudian melihat album photo perkembangan triple h dari mulai lahir saat sikembar baru bisa jalan. Semuanya dilihatnya dengan seksama sambil tersenyum tak terasa airmatanya menetes.
"Ya Allah tak terasa anakku kini sudah beranjak remaja, semoga Engkau selalu melindungi anak hamba dijauhkan dari pergaulan yang melanggar agama. Amin ya Allah" gumam nasya pelan hanya dirinya yang bisa mendengar. Saat sedang menangis memeluk album photo araf pulang dilihatnya nasya sedang memejamkan mata dan menangis.
Araf pun mendekat memegang bahu istrinya, "sayang kamu kenapa?" tanya araf membuat nasya terkejut
"eh mas udah pulang" nasya menyalami suaminya membawa tas suaminya ke kamar mereka yang mereka di lantai 2.
Araf duduk disofa kamar mereka meregangkan dasi dilehernya, "ada apa sih kamu nangis?" tanya araf bingung.
"mas anak-anak udah gede. Udah puber" dengan terampil nasya melepas dasi dileher suaminya.
"itu yang bikin kamu nangis?" tanya araf heran
Nasya menggeleng
"terus?"
"anak-anak menyukai seseorang. Bahkan hail menjadi anak baik dan ga bikin kasus lagi disekolab karena wanita mas" jelas nasya
"bagus dong" araf merespon biasa saja. Nasya menatap pada suaminya dengan tatapan tajam.
"mas hail bahkan mau menikah muda dia mencontoh kamu saat nanti usianya 18 dia mau menikah mas"
"sayang dengerin aku, selagi anak-anak masih dalam batas wajar jangan terlalu khawatir. Percayalah anak-anak kita anak baik. Soal anak-anak menyukai seseorang wajar sayang mereka dalam masa puber. Nanti pun bakalan berubah kok"
"kadang aku berharap anak-anak tetaplah anak kecil yang selalu manja sama aku mas. Aku sedih apalagi setelah tau hail semangat belajar dan sekolah bukan demi kita mas" Nasya menunduk sedih, araf memeluk nasya.