
Annasya bangun saat jam menunjukkan pukul 10 malam. Dia meraba sisinya tak menemukan araf berbaring. Dia duduk diatas ranjang melihat sekeliling tak nelihat araf ada dikamar. Toilet oun gak terdengar suara air bahkan pintunya terbuka. Nasya bangkit berjalan ke arah ruang kerja araf. Dibalik pintu terdengar araf sedang mengadakan meeting video. Nasya masuk perlahan hingga araf tak tau jika nasya sudah berdiri didepannya. Araf langsung mengakhiri video meetingnya.
"kenapa bangun sayang?" araf meraih tangan nasya dan didudukkan dipangkuannya. Nasya mengalungkan lengannya dileher araf. Mencium araf kilat beberapa kali, "kenapa sih? hmm?"
"aku bangun kamunya ga ada. Aku takut kamu pergi ga bilang aku" dengan wajah memelas nasya menatap mata araf. Araf tersenyum melihat nasya yang semakin hari semakin manja seperti seorang anak kecil tapi juga dilain sisi dia akan menjadi jauh lebih pendiam.
"aku kerja sebentar sayang ya udah ayo tidur lagi" Araf bangkit sambil menggendong nasya ala bridal.
***
"selamat pagi mama cantik" habil mencium pipi nasya saat mereka sarapan bersama diruang makan
"pagi sayang" habil mengambil selembar roti dan meminum segelas susu.
"bil hari ini kamu bisa kekantor ayah?" tanya araf sambil memotongkan sandwich untuk nasya.
Habil mengangguk, "bisa yah nanti jam 2 habil kesana"
"bagus soalnya ayah mau kencan sama mama" araf tersenyum pada istrinya dan menyuapi roti ke mulut nasya.
Habil tersenyum melihat pemandangan manis didepannya, "ma... yah... kalau mama udah sehat kita ke nengok hasybi yuk, habis itu kita jalan-jalan ke rusia" pinta habil pada orangtuanya.
"kita konsultasi dulu ya sama dokter" ucap araf. Habil tersenyum saja tak lagi menyahuti, "nanti malam ayah sama mama mau berangkat kesemarang. Mungkin minggu sore baru kembali. Kami mau nengok mbah kakung sama mbah putri"
"Habil ikut yah"
"boleh" jawab araf. Hari ini habil melihat nasya lebih pendiam. Setelah meminum segelas susu nasya beranjak dari duduknya beralih ke kursi goyang duduk disamping jendela besar rumahnya yang menghadap ke taman dan kolam renang.
"yah...?" habil hendak bertanya tentang kondisi nasya
"gapapa nanti ayah yang tangani" habil mendekat pada ibunya dan berpamitan hendak berangkat kuliah.
"jadi anak pinter ya sayang, soleh dan taat sama Allah cinta rasulullah. Mama akan selalu dukung kamu sama adik-adik kamu melalui doa" nasya mencium lekat kepala habil. Membuat habil sedikit merasa sedih entah kenapa"
****
Dimobil habil terdiam melamun kondisi nasya hingga kini masih dibilang stabil walaupun dia mulai melupakan teman-temannya tapi hingga kini nasya masih bisa mengingat kelurganya. Ada kesedihan didalam hatinya melihat kondisi nasya seperti ini. Nasya adalah wanita yang sangat cerdas dia bisa menempun pendidikan dengan akselerasi, bahkan diusianya yang ke 21 dia sudah bisa keraih gelar dokter. Saat itu dia juga sedang hamil triple h, "segala yang ada dibumi milik Allah jangan bangga dengan harta yang kamu punya, otak cerdas yang kamu punya anak sehat dan soleh yang kamu punya itu semua milik Allah yang kapan pun Allah mau Dia bisa mengambilnya kembali. Kita sebagai manusia hanya bisa berdoa saja memohon sama Allah memasrahkan segalanya sama Allah. Karena disetiap kejadian Allah akan berikan hikmah" ucapan nasya yang selalu habil ingat hingga kini.
Habil baru saja turun dari mobil saat faiqa memanggilnya, "bil..." habil selalu takjub dengn omanya yang selalu terlihat cantik dan anggun walaupun dia tak muda lagi.
"ya oma..."
"gimana keadaan mama kamu?" faiqa berjalan disamping habil dengan habil mengambil alih beberapa barang bawaan faiqa.
"Alhamdulillah baik oma" ucap habil dengan berjalan perlahan mengiringi langkah faiqa.
"ayah juga rencananya mau ajak mama kesemarang weekend ini mau nengok mbah kata mama dia merindukan mbah putri sama mbah kakung" faiqa menganggukkan kepalanya.
"kita bisa bareng nanti oma coba menelepon ayah kamu" ucap faiqa didalam lift. Awalnya para mahasiswa dan dosen tak percaya jika faiqa ada oma habil karena faiqa masih sangat muda untuk menjadi seorang nenek. Namun kini mereka percaya karena faiqa menikah dengan lelaki yang menjadi paman nasya.
"opa udah dijakarta oma?" habil meletakkan buku-buku dimeja kerja faiqa saat mereka telah sampai diruangan faiqa
"udah... dan rencananya tahun depan opa kamu akan pensiun"
"wahhh bagus dong jadinya tante aqila sama om ivan bisa sering-sering ketemu opa. Mereka selalu bilang kangen kalian" bisik habil pelan. Faiqa tersenyum mendengarnya setelah berpamitan habil beranjak dari kantor faiqa. Dia jadi teringat akan anak-anaknya. Selama ini faiqa memang melahirkan dan membesarkan anak-anaknya tapi faiqa sering lupa kalau anak-anaknya membutuhkan perhatian darinya. Danu yang selalu sibuk dengan tugas kenegaraan terkadang membuat faiqa frustasi hingga dia menyibukkan diri dengan mengajar, seminar dan acara ibu-ibu persit. Sedangkan aqila dan ivan anaknya lebih sering bersama keluarga hana atau nasya. Beruntung anak-anaknya menjadi anak yang disiplin dan mandiri berkat didikan danu jika dia pulang.
Sejak orangtua faiqa pensiun aqila dan ivan lebih sering berada disana. Setidaknya hingga kini anak-anaknya masih menjadi anak baik itu yang disyukuri oleh faiqa.
***
Pukul 10 pagi habil duduk dikantin menunggu jam berikutnya disana sudah duduk doni dan andre bersama vera dan devi. Habil mengambil duduk menjaub dari mereka.
"don cepet deh tanya dia udah ada cewe belom" desak devi tak sabar lagi.
"iya-iya ihhh bawel banget dah ah" kesal doni yang kemudian beranjak dari duduknya diikuti andre
"bil ngapain disini bukan gabung aja ama kita" doni menyapa habil terlwbih dahulu
"males ganggu orang pacaran" jawab habil tanpa melihat pada temannya habil masih asyik membaca dan menggaris bawahi buku didepannya sesekali menyeruput es lemon tea didepannya.
"iya sih lu kan masih dibawah umur" celetuk andre
"tuh tau" ketus habil.
"bil... kemarin katanya cewe-cewe noh menrgokin lu telponan ama cewe" doni langsung ke intinya.
"tiap hari juga gue telponan ama cewe nanyain udah makan belum, udah shalat belum giman hari ini" ucap habil
"lah lu udah punya cewe?" tanya andre yang diangguki habil.
"kok kita ga tau?"
"iya kok lu ga pernah bilang?" doni menyahut
"kalian aja yang ga peka" ketus habil tak lama ada dering diponsel habil memperlihat foto ibunya dengan tulisan mama. Habil memperlihatkan ponselnya pada kedua temannya, "nih cewe gue selamanya ga akan putus bentar ya gue mau telponan dulu"
"itu sih mak lu!" doni dan andre memukul bahu habil berbarengan