
Inara baru saja hendak masuk kekantor setelah jam pelajarannya dikelas 2 selesai. Saat inara masuk kedalam kelas dia melihat guru olahraga yang bernama herman menatap inara seperti orang yang sedang lapar. Tatapan menjijikan yang sering inara rasakan jika berpapasan dengan herman guru mesum yang sering diam-diam memperhatikan inara.
"hai bu inara..." sapa herman dengan nada genit. Inara hanya tersenyum kecil dan mengangguk setelahnya inara segera masuk kedalam dan duduk disisi bu suci. Inara sengaja menghindar karena dia takut dengan tatapan lapar herman.
Guru-guru sufah hendak beranjak pulang saat jam sudah menunjukkan pukul 4 sore. Bu suci yang duduk disisi nasya beranjak dan merapikan tasnya.
"bu inara ga pulang?" bu suci melongok kedalam kubikel inara.
"sebentar lagi bu" ucap inara masih fokus mengetik dikomputernya.
"jangan capek-capek bu sebentar lagi kan mau nikah" goda bu suci.
"justru karena saya mau cuti bu saya harus segera selesaikan tugas saya sebelum dilimpahkan keguru lain" jelas inara.
"wah... alamat lembur dong"
"iya nih bu"
"mending bawa pulang aja tugasnya bu, bahaya kalau lembur sendirian" bu suci mencoba memperingatkan inara. Inara tersenyum pada bu suci.
"iya bu sebentar lagi saya selesaikan dan saya pulang" ucap inara
"ya sudah saya duluan ya bu suami saya udah jemput" bu suci menggoyangkan ponselnya menghadap inara. Inara tersenyum dan mengangguk saja. Setelah kepergian suci, inara masih terus bekerja. Hingga tak tau mengapa dia merasa hening seketika dan merinding. Dia melihat jam sudah menunjukkan pukul 5. Inara segera menutup komputernya dan merapikan barang-barangnya. Dia segera beranjak dari ruang guru yang berada diujung koridor. Dia berjalan cepat karena merasa ada yang mengikutinya. Sesaat dia menoleh tapi tak ada siapapun dibelakangnya.
Inara berlari secepat mungkin hingga menabrak seseorang dan inara terjatuh, "aw...."
"bu inara gapapa?" tanya herman yang sudah berdiri didepannya. Inara terkejut dibuatnya, bukannya tenang inara malah tambah takut. Dia pun segera bangkit dari duduknya hendak pergi namun ditahan oleh herman.
Inara menepis, "maaf pak saya buru-buru" saat inara berbalik hendak pergi, herman langsung memeluk inara. Membuat inara terkejut dia menginjak kaki herman dan berusaha melepaskan diri dari pelukan herman. Namun naas inara keluar dari mulut buaya kini masuk kekandang singa. Inara ditangkap oleh 2 orang lelaki yang tak inara kenal. Mereka menarik inara kesebuah gudang sekolah yang dulu pernah dipakai rilley untuk tinggal. Inara beeteriak sekuat tenaga namun apa daya tak akan ada orang yang akan mendengar inara karena sekolah audah sepi. Security pun ada dipos depan gerbang sekolah.
Inara diikat kaki tangannya disebuah kursi membuat inara ketakutan setengah mati. 3 orang pria didepannya seperti hewan buas yang melihat mangsa didepannya.
"tolong jangan sakiti saya..." inara memelas meminta pertolongan namun malah mendapat tawa dari 3 pria tersebut.
"kamu sih..." herman guru olahraga yang selalu menatap inara mesum mendekat dan membelai rambut inara sampai kelehernya membuat inara ketakutan setengah mati dalam tangisnya, "cantik dan seksi banget bikin aku ga bisa berpaling dari kamu" herman mencium inara paksa membuat inara menjerit dalam ciuman kasar herman. Itu membuat herman kesal dan menampar inara.
"betina ini ga bisa dibaikin ren, dia harus dikasih sedikit pelajaran" geram herman yang lagi-lagj menampar inara hingga sudut bibir inara pecah. Inara menangis semakin kencang. Herman menjambak rambut inara dan memukul perut inara dengan bengis.
"lu siapin kameranya ren kita beraksi!" herman melepas pakaian inara dengan paksa membuat inara ketakutan setengah mati. Salah seorang teman herman melepas tali yang mengikat inara saat inara hendak berlari mereka segera menangkap inara dan mulai beraksi memperkosa inara bersama-sama hingga inara pingsan dibuatnya.
_
Hilman menunggu dikontrakan inara dari pukul 5 sore dia tak juga memdapati kepulangan inara sampai pukul 8 malam setelah mengerjakan shalat isya hilman beranjak dari kontrakan inara menuju sekolah tempat inara mengajar. Perasaannya benar-benar tak karuan entah apa yang sedang terjadi pada inara.
Hilman sampai disekolah dia menyapa security yang sudah dikenalnya, "assalamu'alaikum pak edi" sapa hilman setelah turun dari motornya.
"wa'alaikumsalam nak hilman, tumben malam-malam kesini? ada apa?" tanya pak edi
"iya nih pak saya mau tanya apa guru-guru udah pada pulang ya pak? kok inara ga ada dikontrakannya. Takutnya dia lembur pak"
"wahhh kebetulan nak hilman bapak juga mau keliling ayo bapak antar keruang guru" ucap pak edi. Setelah hilman memasukkan motornya pak edi meminta temannya berjaga dipos sedang dia dan hilman berkeliling. Sesampainya diruang guru mereka tak menemukan keberadaan inara.
"sepertinya ga ada guru yang lembur nak hilman. Bapak juga ga lihat motor bu inara yang ada hanya mobil pak herman tapi pak herman sering meninggalkan mobilnya disekolah dan pulang jalan kaki karena kostnya dekat disini" jelas pak edi yang diangguki hilman.
"terus inara kemana?" gumam hilman.
Saat hilman dan pak edi hendak beranjak dari ruang guru dilorong sayup-sayup mereka mendengar tawa lelaki yang terbahak-bahak. Hilman dan pak edi saling pandang, mereka berjalan kearah asal suara. Hilman ingat tempat ini karena dulu pernah menjemput rilley disini bersama inara dan triple h.
Hilman langsung mendobrak pintu gudang betapa terkejutnya hilman saat melihat kondisi inara meringkuk tanpa pakaian.
"inara..." gumam hilman shock dan menatap 3 orang yang masih dalam keadaan bugil sama dengan inara. Hilman melihat darah berceceran disekitar inara.
Pak edi yang terkejut segera bersembunyi dan melaporkan hal tersebut pada polisi.
"siapa lo! ganggu orang aja!" teriak herman yang langsung diberikan bogem mentah oleh hilman begitu pun dengan 2 orang teman herman.
"brengsek lo semua! ********! biadab!" hilman mengahajar mereka tanpa ampun hingga mereka tak ada waktu untuk melawan kekuatan hilman. Karena hilman memang jago beladiri. Setelah mereka semua tergeletak tak berdaya hilman menutup tubuh inara dengan sweater tebal dan besarnya. Dia menggendong inara yang pingsan dengan perasaan tak karuan karena melihat inara babak belur dengan wajah dan tubuh dengan luka lebam. Apalagi dilihatnya kepala inara terdapat luka sobek dan benturan. Hatinya tak karuan dia berlari keluar dilihatnya gerombolan polisi datang atas laporan dari pak edi yang bergerak cepat melaporkan kejadian tersebut. Polisi segera membantu hilman membawa inara yang masih pingsan kedalam mobil dan membawanya ke rumah sakit terdekat. Sedang ke-3 orang lelaki yang sudah dihajar oleh hilman ditangkap polisi.