
Annasya beranjak dari duduknya menghampiri petugas dia segera mengikuti petugas didepannya. Saat nasya berada diruang kunjungan nasya melihat ternyata bukan faiwa dan danu yang datang berkunjung melainkan seorang wanita berusia 40-an dengan kepala diperban, tangan dan kaki digips dan wajah penuh luka lebam siapa lagi kalau bukan erika. Ular yang tak tau diri dan tak tau terima kasih.
"hallo sya... gimana rasanya dipenjara?" ejek erika dengan senyum smirk diwajah lebamnya. Seperti biasa nasya melipat tangannya setelah duduk.
"sepertinya pukulanku kurang keras ya" nasya menaikkan dahinya. Erika tergagap memundurkan bangku yang didudukinya.
"gue pastiin lo bakalan membusuk dipenjara!" geram erika.
Sambil mengelus kepalan tangannya nasya berucap, "kalau stick golf ga bisa bikin kapok apa lebih baik aku pukul pakai tangan aja ya? atau aku bunuh sekalian?" dengan tatapan tajam mematikan nasya menatap pada erika. Seketika erika merasa kecut dan takut.
"lo berani ngancam gue dikantor polisi? dasar psycho!" erika berdiri, "gue ga akan tinggal diam gue pastiin lo bakal membusuk disini!"
Dengan geram erika beranjak dan meninggalkan nasya yang masih duduk dengan tenangnya. Nasya melihat kepergian erika, "aku ga pernah menyesal pernah menolong kamu. Tapi aku menyesalkan suamiku yang gak pernah belajar dari masa lalu. Semoga setelah kejadian ini mas araf sadar dan ga main-main lagi dengan kesetiaan dan kejujuran yang selalu aku junjung tinggi" gumam nasya pelan. Dia segera beranjak dari sana kembali kesel tahanan.
Kantor polisi sangat heboh dengan ditangkapnya seorang menantu konglomerat indonesia yang wajahnya selalu tertutup bahkan tak pernah ada yang melihat yang ternyata sangat cantik bukan main. Beberapa polisi lelaki bahkan ada yang sengaja juga ga memandang pada wajah cantik nasya. Kehebohan ini terdengar sampai pada telinga seorang polisi dengan jabatan menengah yang dulu pernah 1 sekolah bahkan 1 kelas dengan nasya siapa lagi kalau bukan frizz.
"annasya..." frizz melihat dokumen yang diberikan oleh anak buahnya ternyata dugaannya benar dia adalah nasya. Frizz segera beranjak ke sel tahanan memastikan apa benar nasya yang didalam penjara. Saat frizz ada berdiri didepan sel nasya dia benar-benar melihat nasya wanita yang puluhan tahun ini sangat dirindukannya membuat dia tak bisa berpaling dari ingatannya.
"nasya..." panggil frizz pelan
Nasya membuka matanya dan menghentikan dzikirnya menoleh pada lelaki yang memanggilnya begitu oun para penghuni oenjara lain yang beranjak mendapati seorang atasan menghampiri sel penjara.
"ya..." nasya menjawab tapi dia tak ingat dengan lelaki yang kini berdiri menjulang didepannya.
"ya Tuhan... kenapa kamu jadi seperti ini? Apa araf ga bisa menjaga kamu dengan baik" terlihat tatapan sedih dari sorot matanya yang melihat keadaan nasya.
Nasya melihat pada name tag diseragamnya, "Afrizal?" menatap wajah frizz mengerutkan dahinya, "frizz?" frizz mengangguk dengan wajah sedih melihat keadaan nasya.
"ayo ikut aku" frizz menggenggam tangan nasya mengajaknya keluar dari dalam sel. Membuat para penghuni sel dan penjaga penjara saling tatap tapi tak ada yang berani bersuara melihat tingginya pangkat yang disandang frizz.
"ihhh lepas... kita ini bukan muhrim ga pantas bersentuhan begini!" ucap nasya sambil melepas tangan frizz dilengannya.
"no comment kamu harus ikut aku dan jelasin semua ini!" dengan tegas frizz berbicara dengan tatapan tajam tak ingin dibantah.
"kamu pikir kamu siapa?! jangan paksa aku ih!!" teriak nasya yang menjadi pusat perhatian para polisi disekitar mereka.
"diam! ikutin aku atau aku cium paksa!" ancam frizz tak main-main membuat nasya terdiam dan akhirnya menurut. Sebenarnya nasya sudah hampir ingin menjatuhkan frizz dengan bantingannya tapi apa daya frizz lebih lihai dalam bela diri ditambah kondisi nasya yang masih lemah dan sering nyeri perut akibat operasi yang dijalaninya seminggu yang lalu.
"kamu harusnya liat aja didokumen aku ga usah nanya langsung!" ketus nasya
"kamu ini!" frizz menjentikkan jarinya dikening nasya
"aww..." nasya mengelus jidatnya
"jawab aja kenapa sih!" sedari dulu frizz memang orang yang tak pernah bisa ramah dan sabar. Tapi hanya pada nasya dia bisa ramah walau masih tak bisa sabar.
"aku... aku bertindak impulsif dengan menghajar seorang pelakor dengan stik golf!" ucap nasya sambil melihat ke arah lain tak mau menatap frizz.
"bagusss dan sekarang kamu masuk penjara sedangkan sipelakor bebas berkeliaran. Hah... ga habis pikir aku sama kamu. Biasanya kamu selalu tenang kenapa bisa begini?" tanya frizz dengan suara bassnya yang agak tinggi.
"urus aja urusanmu sendiri kenapa!" nasya geram dia lekas berdiri dan hendak meninggalkan frizz
"ehhh ini minum dulu tehnya" teriak frizz yang melihat nasya hendak membuka pintu.
"ga ah tar diracunin lagi" Frizz tersenyum melihat kepergian nasya. Dia ga sangka pada akhirnya dia bisa bertemu dengan nasya setelah puluhan tahun ga ketemu.
Frizz membuka dompetnya melihat pada foto nasya saat masih sekolah dulu. Dia mendapatkan foto itu saat perpisahan sekolah diam-diam frizz meminta petugas foto yang memotret untuk ijazah nasya memberikan 1 padanhmya dengan bayaran yang membuat juru foto itu senang dan dengan senang hati memberikannya pada frizz.
"aku ga sangka kamu masih sama seperti dulu... cantik..." frizz mengusap lembut foto nasya, "andaikan aku tau kamu ga bahagia dengan araf aku rebut kamu dari dia. Maaf"
_
Nasya kembali ke selnya, dia duduk lagi ditempatnya biasa. Berdzikir lagi menutup matanya, apalagi yang bisa dilakukannya selain seperti ini. Dia tak peduli dengan dirinya yang kini seperti ini. Dia hanya merindukan pelukan para putranya yang kini mereka sudah berpencar, "apa mereka bakalan malu memiliki seorang ibu narapidana?" pertanyaan itu terus menggerus pikirannya sampai tak terasa airmatanya menetes.
Disisi lain habil, hasybi dan hail bekerja sama untuk bisa mendapatkan bukti untuk menekan erika. Hail yang notabene sangay cerdas dengan it dan hasybi yang pandai dalam ilmu kedokteran mencoba mengaitkan dan mencari celah untuk menjatuhkan erika.
Habil mencari akal untuk mencari tau apa saja yang dilakukan erika selama dia diperusahaan ayahnya. Semua mereka lakukan dalam diam tak ada yang mengetahui. Jumat sore seperti janji hail dia pulang lagi kejakarta.
"apa gue pindah aja kuliah dijakarta ya il? untuk bantu abang jaga mama?" hasybi yang ditelepon hail sesampainya dijakarta merasa iri karena hail bisa pulang pergi seenaknya.
"minggu depan lu kan ada libur musim semi coba untuk pulang bang kita hibur mama, pasti mama sedih banget"
"iya il..."