Triple Story

Triple Story
bab 57



Suami sempurna atau istri sempurna pada akhirnya hanyalaha khayalan semata. Tak ada yang benar-benar sempurna. Hidup bukan hanya seperti roller coaster yang naik turun saja tapi terkadang juga mneguji keberanian dan nyali. Annasya tak pernah menyangka impiannya sewaktu kecil bisa menikah dengan seorang lelaki dewasa yang tegas dan berwibawa seperti danu omnya tapi setelah kepergian ayahnya dia harus menikah dengan lelaki yang masih remaja dengan sifatnya yang playboy. Walau begitu nasya bersyukur karena araf pada akhirnya mencintainya. Mereka menjalani rumah tangga bukan hanya dengan cinta tapi juga tanggung jawab.


Nasya berdiri didekat jendela menghadap taman, apalagi yang dia tidak syukuri dengan nikmat yang sudah didapatnya? Suami yang bekerja keras untuk keluarga, anak-anak yang cerdas dan soleh. Setiap hari, setiap nasya membuka matanya dia selalu bersyukur dengan nikmat hidup yang diberikan Allah padanya. Setiap sujud terakhirnya dalam shalat dia tak pernah absen mendoakan keluarganya. Setiap selesai shalat pun dia tak pernah lupa berdoa pada Allah untuk keluarga yang masih hidup maupun yang meninggal.


Dia tiba-tiba meneteskan airmata. Dia merindukan orangtuanya.


"sayang..." araf memberikan air dan obat untuk nasya konsumsi. Nasya melihat pada suaminya, dia menerima obat itu dan meminumnya setelah mendaratkan bokongnya di sofa depan televisi.


"kenapa? hmmm?" tanya araf pada istrinya sambil menatap lembut wajah sayu didepannya.


"aku pengen kesemarang mas kangen bunda sama ayah" suara nasya tertahan seperti hendak menangis.


"iya weekend kita tengok mereka ya. Tapi kamu harus janji jaga kesehatan jangan terlalu banyak berpikir" araf mengusap lembut wajah cantik itu. Pada akhirnya hasybi harus rela pergi kejerman sendiri karena kondisi nasya tak memungkinkan ikut kesana setelah konsultasi dengan dokter. Nasya adalah orang yang homey dokter mengantisipasi agar nasya tak ikut kesana hanya takut pada akhirnya memperburuk kondisi nasya. Beruntung hasybi sangat mengerti dia tak memaksakan kehendak demi kesehatan ibunya.


"bi... belajr yang rajin ya" nasya memeluk hasybi erat dibandara saat nasya, araf dan habil mengantarnya.


"Hasybi janji sebelum usia hasybi 19 hasybi udah dapat gelar dokter ma. Hasybi akan belajar lebih keras dan cerdas" nasya menganggukkan kepalanya.


"jangan terlalu memaksakan diri. Yang terpenting untuk kami kamu selalu sehat" ucap nasya.


"yah... bang jaga mama baik-baik ya" hasybi meneteskan airmatanya.


"sejak kapan lu jadi cengeng begini bi" habil memeluk adiknya dalam dekapannya. Tangis hasybi meledak didada habil melihat itu nasya dan araf ikut memeluk mereka.


"udah sana masuk" nasya yang tak bisa menahan diri ikut menangis.


Hasybi melepas pelukannya pada habil kemudian masuk ke bagian imigrasi vip untuk cop paspor. Hasybi duduk di vip lounge mengambil tempat paling pojok sambil menatap ke arah jendela. Dia menerawang jauh mengenang apa saja yang dilaluinya selama ini. Tangan halus nasya yang tak pernah lelah mengusap, membelai dan menyuapi dirinya. Tangan halus yang tak pernah dipakai nasya untuk memukul anak-anaknya walaupun mereka sering berbuat nakal saat kecil terutama hail yang selalu buat onar.


"permisi pak ada yang bisa saya bantu?" sebuah suara mengganggu hasybi yang sedang melamun


"ahh iya saya mau teh hangat" ucap hasybi pada pelayan cantik didepannya


Hasybi menarik nafas dalam menetralisir perasaannya yang belakangan mulai mellow dan mudah menangis.


Ponselnya berbunyi sebentar menandakan ada pesan masuk ternyata dari adiknya hail


Hail:


bang lu udah balik?


Hasybi:


iya


Hail:


mama sama ayah jadi anter?


Hasybi:


ga kasihan mama takut kondisinya drop


Hail:


gue janji bakalan rajin belajar biar bang selesaiin studi w dalam 2tahun


gue juga usahain dalam 7 tahun udah ambil spesialis. Gue bakalan berusaha keras


Hail:


Semangat bang


Hasybi:


lu juga il jangan nakal disana anak orang jangan dimainin. Inget lu kesana nuntut ilmu


Hail memberikan emot tersenyum konyol untuk menghibur hasybi karena dia tau hasybi yang biasanya tak banyak bicara dan kalau membalas pesan selalu singkat kini banyak kata karena dia ingin segera berkumpul kembali untuk saling menjaga ibu mereka. Mereka saling menghibur untuk menutupi rasa khawatir terhadap nasya.


****


Disingapura


Hail menjadi mahasiswa indonesia dengan banyak prestasi dan nilai yang memuaskan. Banyak perlombaan dia ikuti bersama kampusnya dengan meraih juara. Hal yang sangat membanggakan terlebih targetnya dalam 2 tahun harus segera lulus menjadi prioritas. Dia tak lagi main-main seperti saat smu dulu. Banyak wanita cantik bersedia melemparkan dirinya pada hail namun hail tak menggubris mereka.


Bahkan beberapa gadis menjulukinya si dingin yang sombong. Sebenarnya dia bukan bermaksud sombong hanya saja dia sangat ingin segera kembali kerumah menjaga nasya. Setiap kali dia diundang untuk acara party sabtu minggu dengan halus dia selalu menolak karena dia hanya ingin pulang kerumah menengok orangtuanya. Selama dia jauh dia baru merasakan jika menahan rindu kepada orangtuanya terutama ibunya sangatlah tak enak. Dipintu kamar hail ada foto araf dan nasya berdua sebelum berangkat hail akan mencium foto mereka begitu pun saat pulang.


"ma... yah... hail hanya bisa berdoa semoga Allah kasih mama dan ayah umur panjang agar mama dan ayah bisa melihat kesuksesan kami" hail mengelus foto nasya dan araf didalam dompetnya yang selalu dia bawa kemana pun dia pergi. Hail tiba-tiba sangat merindukan nasya dia keluar dari perpustakaan kampusnya dan segera duduk ditaman yang sepi.


tut.... tut... tut...


tak sampai 10 menit nasya mengangkat telponya


"assalamu'alaikum gantengnya mama..." terlihat dilayar ponsel hail nasya sedang duduk bersama ayahnya disofa ruang keluarga mereka.


"wa'alaikumsalam mama ayah..." jawab hail dengan senyum merekah.


"lagi apa nak?" tanya nasya


"baru keluar dari perpustakaan ma, mama sama ayah udah makan?"


"udah dong kamu sendiri gimana? udah makan belum?" tanya araf pada anak bungsunya itu.


"Alhamdulillah udah ma... eh ma masa ya diloker kampus hail selalu ada orang yang kasih nasi kotak gitu ma terus dia bilang halal loh ma"


"hmmm playboynya mama ga dimana ga dimana selalu aja jadi perhatian" ucap nasya dengan senyum mengejeknya.


"jangan dibuang nak kalau kamu ga mau atau ga doyan kasih yang lebih membutuhkan" saran araf.


"iya ma araf selalu kasih ke sean hehehe"


"loh sean ikut kamu kuliah disana juga?" tanya nasya yang diangguki hail.


"tapi beda jurusan ma (melihat ke jam tangannya) udah dulu ya ma hail sebentar lagi masuk ada kelas lagi. da... mama da... ayah... mmuuaacchhh" nasya selalu tertawa jika hail sudah bersikap sangat konyol seperti itu.


"assalamu'alaikum"


"wa'alaikumsalam"