Triple Story

Triple Story
bab 65



Habil duduk dibelakang bersama hail, mereka terdiam beberapa saat. Hail menghembuskan nafas, "bang" hail menoleh ke arah habil.


"hmmm" habil masih fokus dengan ponselnya


"gimana mama sekarang? maaf hampir 6 bulan gue ga pulang" terdengar kesedihan disuara hail. Hail sengaja tak pulang agar dia bisa fokus pada kuliahnya dan lekas kembali.


Habil tersenyum mendapati adiknya kini sudah lebih dewasa dan tak meledak-ledak seperti sebelumnya, "gapapa. Lagian sekarang kan lu udah pulang juga. Lu liat sendiri bagaimana kondisi mama" ucap habil yang tak mau menjelaskan karena dia sendiri tak sanggup menjelaskan. Jika hail atau hasybi menelepon dia hanya akan bilang baik-baik saja. Walaupun mereka tau tak ada yang baik-baik saja. Selama ibunya masih hidup walaupun kini seperti anak kecil yang harus disuapi jika makan, dimandikan dan dibersihkan oleh ayah mereka. Selagi nasya masih bisa berjalan dan makan untuk habil itu masih baik-baik saja. Terkadang ibunya ingat siapa dirinya terkadang tak ingat.


Sesampainya dirumah hail langsung berlari berteriak memanggil ibunya. Para maid segera berlari menyambut kedatangan tuan muda mereka yang sudah 6 bulan tak pulang.


"ibu saya dimana?" tanya hail pada salah 1 maid disana. Maid yang ditanya segera menjawab


"ada diruang tengah den bersama bapak" hail langsung berlari keruang tengah. Disana sudah ada araf yang sedang menggunting kuku nasya sambil bercerita. Nasya hanya melihat kukunya yang dipotong sambil mendengar araf sedang berceloteh.


"mama..." teriak hail dipintu nasya dan araf menoleh ke arah hail. Hail langsung berlari ke arah nasya dan memeluknya erat.


"mama... hail kangen mama" nasya hanya diam saja sambil menepuk pundak hail.


"gimana kabar mama sekarang?" hail berlutut didepan ibunya.


"kamu siapa?" nasya menyipitkan matanya. Hail tau pasti ibunya tak ingat dirinya dia pun sudah memepersiapkan dirinya agar tak menangis. Namun apa daya tetap saja airmata turun dengan derasnya.


"ini anak kita sayang yang kuliah sangat jauh" araf menggenggam tangan nasya. Habil mengelus pundak ibunya memberikan ipad pada nasya menunjukkan foto saat habil, hasybi dan hail bersama.


"ma... ini habil, ini hasybi yang sekarang kuliah jauh untuk jadi dokter seperti mama, dan ini hail. Ini hail..." belum melanjutkan ucapannya nasya berucap


"hail anak mama paling nakal selalu buat mama pusing karena ulahnya saat sekolah" nasya menerawang jauh


"iya ma... maaf ma kalau hail nakal. Hail janji ga nakal lagi" ucap hail sambil menangis didepan ibunya. Nasya memeluk hail yang sedang menangis.


"iya sayang gapapa senakal apapun kamu, mama tetap sayang kamu" nasya mencium kening hail, "jangan pergi-pergi lagi ya"


"hail ga akan pergi lagi ma, mulai sekarang hail akan bantu ayah sama abang urus mama" nasya mengangguk tersenyum pada anaknya.


***


Hasybi menelepon hail dijam 10 malam indonesia, hail sedang berkutat pada layar laptopnya saat dia lihat ada panggilan masuk.


"assalamu'alaikum bang?"


"wa'alaikumsalam il... il lu udah pulang kerumah?


"udah bang"


"gimana keadaan mama?"


"alhamdulillah mama baik bang"


"lu sama aja sama bang habil kalau ditanya. Lu ga tau apa gue disini khawatir banget"


Hail diam sejenak menghentikan pekerjaannya, "bang abang jangan khawatir disini udah ada ayah, bang habil sama gue yang jaga mama agar selalu stabil. Abang disana fokus aja supaya lekas lulus dengan nilai terbaik. Maaf ya bang kita ga bisa jenguk abang. Abang sendiri tau saat mama dibawa kesemarang malah mama jadi drop"


"iya il... gue rasanya pengen segera pindah kuliah il... gue nyesel kuliah jauh-jauh" terdengar suara tangis hasybi diseberang sana.


"bang abang masih bisa komunikasi sama kita. Kalau abang ada waktu abang sering-sering video call mama. Entah melalui gue, bang habil atau ayah. Tapi yang pasti ayah selalu ada disisi mama. Ayah ga pernah jauh dari mama"


"alhamdulillah ada hikmahnya ya il. Ayah jadi lebih memperhatikan mama" hasybi mengusap wajahnya.


"sekarang ayah ga pernah kekantor bang. Sekarang kerjaan ayah dihandle bang habil. Kasian abang... huhfff"


"iya il bang habil bebannya berat terkadang gue juga kasihan sama dia. Btw gimana rencana lu selanjutnya?"


"syukurlah, gue juga kalau bisa lekas pengen banget segera pulang"


"abang fokus dulu biar abang bisa segera pulang" ucap hail menenangkan hasybi.


"iya il"


"kalau abang jadi dokter mama bisa 24 jam dipantau abang"


"il..."


"ya..."


"sekarang u lebih dewasa ya. Ga kekanakkan lagi"


"dari dulu bang, lu aja yang baru sadar" ketus hail yang disambut tawa oleh hasybi.


_


Pagi-pagi habil sudah duduk dimeja makan hendak sarapan. Dilihatnya hail juga sedang sarapan, "pagi il... mama belum turun?"


"belum bang" jawab hail sambil mengunyah roti


"bi... saya mau teh susu" habil meminta salah 1 maid dia mengambil duduk disamping hail.


"bang..."


"hmmm"


"gimana rasanya kerja gantiin ayah?"


"apa yang harus gue ceritain?" habil menoleh pada hail, "sekarang gue paham kenapa dulu ayah sering keluar kota bahkan ke luar negeri. Ayah benar-benar kerja extra keras sekarang gue cuma meneruskan dan menikmati aja" ucap habil. Hail menaikkan alisnya.


Araf dengan sabar menuntun nasya turun keruang makan, habil dan hail menyambut ibunya dan mendudukkan ditempat biasa nasya duduk.


"kamu mau kemana?" nasya bertanya pada habil yang terlihat rapi.


"habil kerja dulu ya ma" pamit habil lada nasya


"kamu harus sekolah kamu itu belum waktunya untuk kerja. Biar mama sama ayah aja yang kerja" nasya bicara dengan nada sedikit tinggi.


"iya ma..." habil tak ingin berdebat dengan ibunya dia lekas mencium ibunya dan berangkat.


"udah sarapan sayang?" tanya nasya lagi


"udah ma" habil mencium kening ibunya. Bersalaman dengan araf dan pamit.


Araf mengambil nasi dan lauk untuk istrinya dia kemudian menyuapi nasya, "mas... apa kita bangkrut sampai-sampai habil harus kerja?" ucapan polos nasya membuat araf dan hail tertawa membuat nasya bingung.


"kok ketawa?" nasya mengerutkan keningnya


"aku ga bangkrut sayang, aku mau habil bisa mulai bisnis dari sekarang dan kita bisa honeymoon lagi"


"mas ganjen" ucap nasya


"kamu kenapa ga sekolah?" nasya menoleh pada hail


"ma... hail juga kerja tau" ucap hail yang berjalan mendekat pada ibunya, "nih lihat hail bikin superhero buat anak-anak muda main game" ucap hail sambil menunjukkan ipad-nya pada ibunya.


"wahhh bagus-bagus gambarnya" nasya menggeser gambar layar ipad hail dan tersenyum