
Bayu ditelepon oleh asistennya mengatakan bahwa akan ada rapat eksekutif kedua. Ini tak bisa diwakilkan oleh zaki. Dengan berat hati dia pun meminta izin pada leni istrinya untuk berangkat kekantor. Leni mengizinkan, setelah kepergian suaminya leni mendekat pada nasya. Disaat itu dia menangis melihat keadaan menantu perempuannya. Amanah yang diberikan sahabatnya kepadanya. Semalam faiqa dan danu datang untuk melihat keadaan keponakannya, faiqa tak bisa menahan tangis. Sedang danu hanya diam saja memandang nasya dengan tatapan sendu. Ada rasa bersalah hinggap didirinya karena merasa tak berguna menjadi pengganti mahesa sebagai ayah untuk nasya.
Kembali ke pagi hari
Leni pergi ketoilet untuk buang air kecil. Saat itu nasya membuka matanya dia duduk diranjang dan mencopot selang infus. Dia memakai sweater leni yang ada disofa untuk mwmutupi tubuhnya yang memakai seragam rumah sakit. Setelahnya dia keluar diam-diam dengam kaki telanjang dia menyusuri koridor rumah sakit. Keluar lobi rumah sakit dan menghentikan sebuah taksi.
"kemana bu?" tanya sang supir pada nasya
"kantor arcmedia ya pak" ucap nasya dengan suara lirih. Supir tersebut memperhatikan nasya yang tak memakai cadar, wajahnya sangat dengan pucat bibir kering.
"ibu mau minum?" tawar si supir lada nasya.
"ga pak terima kasih" jawab nasya sambil tersenyum. Supir itu pun hanya mengangguk.
"bu sepertinya ibu masih sakit apa ga mau kembali ke rumah sakit?" supir tersebut merasa harus mengembalikan pasien ketempatnya.
"ga pak saya ada kepentingan mendesak jadi saya harus kekantor" annasya agak malas bicara jadi dia menjelaskan sekenanya saja pada supir taxi baik tersebut. Supir itu pun tak lagi bertanya dia diam sampai tempat tujuan.
Setelah nasya membayar sesuai argo dia turun dari taxi. Dia mendapat tatapan aneh dari para karyawan. Seorang security yang masih muda pun menghampirinya, "bu ada yang bisa saya bantu?" dengan sopan security tersebut menyapa nasya.
Nasya hanya tersenyum simpul tak menjawab. Para karyawan berbisik melihat keadaan nasya, "itu siapa sih?"
"iya masuk kantor seenaknya aja lagi"
"tau emang kantor ini tempat yang seenaknya orang bisa keluar masuk apa"
Nasya melirik pada karyawan yang berbisik-bisik, "apa kalian ga punya kerjaan selain bergosip?! benar kantor ini milik saya apa ada masalah dengan kalian!" nasya berucap sinis pada 4 karyawan perempuan yang membicarakannya diikuti beberapa mengerubung melihat nasya.
"ihhh ngaku-ngaku" seorang wanita dengan rambut tergerai panjang nyeletuk. Nasya mendekat pada mereka melihat 1 persatu id card mereka.
"oktaviani, mala s, yuniarti, bella saya akan ingat nama kalian" nasya mengangkat ponselnya mencari nama daffa asisten manajer sekaligus teman araf sedari smu yang tau bagaimana wajah nasya.
"assalamu'alaikum daffa"
"...."
"kalian kalau kerja pakai otak jangan hanya bisa bergosip. Perusahaan saya ga nerima orang yang suka bergosip" nasya menatap tajam pada 4 orang tersebut yang sudah mulai merinding dengan aura nasya yang terlihat menyeramkan.
"ma... maafkan kami bu" ucap salah seorang dari mereka yang ketakutan. Tak lama daffa turun dan menghampiri nasya dia mengatakan semua pada daffa dan meminta daffa mendidik mereka sengan baik. Nasya melenggang meninggalkan mereka yang ketakutan tanpa peduli bahkan menoleh pun tidak. Nasya telah berubah pikir daffa.
"bu maafkan kami" para karyawan tersebut berusaha menjilat nasya namun nasya tak lagi peduli. Sorot mata nasya seperti penuh api kemarahan. Terlihat mengerikan bahkan untuk orang yang sudah mengenalnya, nasya biasanya memiliki sorot mata yang lembut dan teduh menenangkan semua orang. Tapi tidak hari ini daffa yang biasanya santai menghadapi nasya dia sendiri pun merasa takut.
Annasya sampai diruangan presdir dia mendengar perdebatan araf dengan seorang wanita dari balik pintu. Iren hanya bisa diam saja karena hari ini aura nasya menakutkan.
Nasya masuk tanpa aba-aba dia melihat araf dipeluk erika yang sudah menangis. Sama saat diapartemennya dulu nasya seperti merasa deja vu. Araf melihat pada nasya dia segera melepas pelukan erika dan menghampiri nasya.
"sayang kamu..." belum selesai araf bicara saat araf mengulurkan tangannya nasya menarik tangan araf dan membantingnya sontak hal tersebut membuat erika kecut dan takut. Billy mendekat pada nasya yang berjalan ke arah erika.
"bu... bu nas.." belum selesai billy berucap dia mendapat tatapan tajam dari nasya membuat nyali billy ciut seketika. Billy beralih membantu araf yang kesakitan karena dibanting dengan cepat tanpa bisa membela diri. Erika mundur ketakutan hingga menabrak meja.
"sya... mau apa kamu?" tanya erika gagap
Annasya menatap tajam sorot matanya benar-benar seperti bukan nasya yang biasa lembut dan penuh kasih. Annasya melirik ke arah stik golf yang ada disisi meja araf dekat erika berdiri ketakutan. Nasya meraih stik golf araf langsung menghampiri nasya, "sya... kamu mau apa?" tanya araf khawatir nasya berbuat onar.
"bukan urusanmu!" nasya menyingkirkan araf dari hadapannya dan menghadap pada erika. Tanpa aba-aba lagi nasya menghajar erika dengan membabi buta membuat erika menjerit kesakitan. Billy terkejut bukan main, araf langsung memeluk nasya dari belakang menahan nasya agar tak lagi memukuli erika yang sudah tergeletak tak berdaya.
"lepasin mas!" nasya melepas tangan araf tapi kesulitan karena araf memeluknya sangat kuat.
"sya istighfar sya... jangan seperti ini, billy cepat bawa erika keluar!" perintah araf pada sistennya yang masih melongo tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"kenapa kamu terus membela dia! hah! apa kamu ga pernah mikirin sedikit pun gimana perasaanku! kenapa kamu selalu seenaknya begini!" teriak nasya setelah menendang araf agar bisa terlepas dari pelukan araf. Dengan membabi buta nasya pun menghajar araf namun araf hanya menangkis saja.
"ya Allah sya kenapa kamu jadi seperti ini?" tangis araf sambil menangkis pukulan nasya saat ada celah araf segera memeluk nasya erat.
"kamu jahat mas... kenapa kamu terus membela dia bukan aku ha..." tangis nasya dipelukan araf, "aku udah kehilangan anak aku bahkan aku ga bisa punya anak lagi. Kalian jahat" lirih nasya yang semakin terisak.
"maafin aku sya... maafin aku" araf ikut menangis sambil memeluk nasya. Tak pernah dalam hidupnya melihat nasya seperti ini. Hari ini nasya benar-benar berbeda, seperti orang lain. Lama-lama nasya tak sadarkan diri dalam pelukan araf. Dia pun memanggil iren, "iren... suruh orang siapkan mobil dilobi sekarang!"
"baik pak"