Triple Story

Triple Story
bab 24



"hail".... seorang gadis memanggil hail yang sedang duduk ditepi sebuah sungai yang mengalir setelah kegiatan malam selesai. Hail menoleh dia menghela nafas kasar. Dia segera bangkit berdiri hendak meninggalkan tempat itu namun saat berbalik dan hendak berjalan lengannya ditahan oleh cio.


"hail... tunggu" hail berbalik menatap wajah cewe blonde yang cantik itu.


"ada apa? ga lelahkah lo selalu ganggu gur?" dengan kening dikerutkan hail melihat ke arah cio.


"sungguh gue ga mau main-main tolong jangan ganggu gue" hail berkata dengan lembut meminta pengertian cio.


"aku ga akan ganggu kamu, kalau kamu bisa ksih aku kesempatan untuk jadi pacar kamu" cio tersenyum pada hail. Hail melipat tangannya didepan dada memandang cio dari bawah sampai keatas.


"lu cantik" pujian hail membuat cio tersenyum


"lu langsing, ok lah body lo buat ukuran cewe seumuran lo" hail mendekatkan wajahnya pada cio melihat manik mata biru milik gadis blasteran itu.


"tapi lo ga pantes jadi pacar gue" ucapan hail terasa menusuk dihati cio. Namun bukan cio namanya jika dia menyerah saat ini.


"apa yang bikin lu mikir gue ga pantes buat lu? bukannya sebaliknya?" cio melangkah mendekati hail.


"bagaimana kamu bisa menilai aku semaumu sedangkan kita aja belum dekat" lanjut cio.


Hail menggelengkan kepalanya, "kamu sangat keras kepala ya. ok kita akhiri sampai disini gue akan terus terang Lo bukan tipe gue daripada lo semakin sakit hati dengan ucapan gue, lebih baik lo menjauh dari gue. Karena buat gue cinta dimasa sekarang cuma sebuah mainan yang akan gue buang kalau gue bosen" dengan sombongnya hail membalik badan dan beranjak dari sana menjauh dari cio.


"gue ga akan menyerah sampai gue bisa dapetin lo hail!" teriak cio. Namun hail tak peduli, cio berlari mengejar hail menarik swaeter hail.


"apalagi sih lo! keras kepala banget!" bentak hail.


"kita belum memulai kenapa harus diakhiri?!" dengan wajah memerah cio berkata pada hail. Sebenarnya hail pun tidak mau berkata kasar tapi dia sendiri merasa frustasi dengan gadis blasteran 1 ini. Hail melepas tangannya dari genggaman tangan cio dengan kasar.


"sebutin apa yang kurang dari gue sampai lu nolak gue? gue akan perbaiki sesuai yang lu mau!" hail menatap wajah cio dia tak percaya pemilik wajah cantik ini benar-benar tergila-gila padanya.


"apa alasan lo ngejar-ngejar gue?" hail melunak


"karena dari awal gue ketemu lu gue udah suka sama lu" jawaban cio membuat hail berdecih mengejek.


"kalau semua cewe yang suka sama gue dari awal ketemu terus gue ladenin lu pikir akan jadi apa hidup? cassanova? lebih baik lu perbaiki diri lu, nilai sekolah lu kalau lu mau terlihat pantas dimata gue" tatapan mata hail sangat tajam. Setelah berkata seperti itu dia pun berlalu meninggalkan cio.


"gue ga akan menyerah! gue yakin pasti bisa dapetin lo!" hail tak menanggapi dia hanya berlalu tanpa menghiraukan teriakan cio.


Saat hail berjalan ke arah kemah dia melihat hilman sedang duduk berdua dengan inara. Jujur hatinya sakit, hari ini benar-benar membuatnya sangat kesal. Rahang hail mengetat hingga giginya bergemurutuk.


Hail duduk disamping tenda, dilihatnya hasybi belum kembali ketenda. Dia bertanya pada ben yang sedang rebahan sambil bermain pomsel, "ben abang gue mana?"


Ben menoleh pada hail yang baru datang, "tadi habil dateng ngajak hasybi ga tau kemana" Hail hanya mengangguk saja mendengar jawaban ben.


Hail menatap langit malam diluar tenda, bintang-bintang berkelip sangat cantik. Hail mengangkat tangannya membingkai bintang disela-sela jarinya, "kamu cantik tapi aku ga bisa menggapainya" gumam hail yang entah dia tujukan pada siapa.


.........


"makan bi..." habil memberikan semangkuk mie rebus oanas dengan telur setengah matang.


"hail kemana ya bi?" tanya habil pada adiknya yang sedang asyik makan.


"paling dipinggir sungai bang lagi merenung" jawab hasybi disela-sela makannya.


"bang..." hasybi dan habil menoleh ke arah suara ternyata hail dia datang dengan wajah kusut dan sendu.


"mau makan mie?" habil menawarkan hail mengangguk. Habil memasak 1 porsi mie lagi untuk hail.


"lu kenapa il?" hasybi melihat wajah adiknya yang mendung bagai langit yang hendak turun hujan. Hail hanya menggeleng dan mengusap wajahnya kasar. 2 menit kemudia mie buatan habil datang. Hail langsung meraih dan memakannya.


"ada apa?!" habil menatap adiknya yang seperti sedang kalut.


"bang kalau gue lulus kuliah nanti apa mama akan setuju gue cuma jadi seorang animator?" hail bicara tanpa menoleh pada abangnya. Dia tak mau jujur pada keadaannya sekarang karena menurutnya itu tidaklah penting.


"mama ga pernah melarang kita selama perbuatan kita ga melenceng dari agama kan" habil memakan mie didepannya. Hail hanya mengangguk saja.


"selesai makan kalian balik ke tenda gue masih banyak kerjaan"


"iya bang" jawab mereka serempak.


......


"il..." hasybi dan hail menatap langit-langit tenda disekitarnya arthur, sean dan ben sudah terlelap.


"hmmm" hail menumpu tangannya dibelakang kepala sambil menatap langit-langit tenda.


"lu ngerasa ga sih selama ini bang habil selalu mengutamakan kita? Bahkan kita ga pernah tau apa sebenarnya yang bisa bikin dia bahagia" hasybi menoleh pada adiknya.


"sebagai anak pertama tanggung jawab bang habil besar, ga cuma ke kita adik-adiknya tapi juga ke mama dan ayah apalagi sebentar lagi kita akan punya adik baru. Entah mama sama ayah sadar atau ga mereka memaksa bang habil untuk dewasa sebelum waktunya" hail menerawang membayangkan wajah habil yang serius dan jarang tersenyum. Dia selalu peka terhadap orang-orang disekitarnya terlebih keluarga yang selalu dia nomor 1 kan.


"betul. Mama selalu berpesan saat kita pergi 'habil jaga adik-adikmu ya' mungkin terdengar sepele tapi itu adalah amanah. Ayah selalu meminta bang habil untuk sering kekantor dan membantu urusan bisnis ayah. sungguh ga mudah jadi bang habil"


"bang sebentar lagi kelulusan bang habil benar-benar ga mau melnjutkan ke harvard. Dia memendam cita-cita dan keinginannya demi bisa menjaga mama. kita egois ga sih bang?" hail bertanya hasybi.


"Entahlah il..." hasybi merapatkan resleting di sleeping bag-nya agar lebih hangat.


"kita akan bahas setelah kita pulang sama mama dan ayah. Agar mereka jangan terlalu memaksa abang. Kasihan abang ga bisa menikmati msa muda dia. Terlebih dia baru aja disakiti maya wanita yang selama ini dia suka ternyata hanya manfaatin dia aja" hasybi mengangguk saja kemudia memejamkan matanya


🌸🌸🌸🌸🌸


Owh... semudah itu engkau pergi


meninggalkanku sendiri dalam sepi


teganya dirimu sentuh aku dengan cintamu