Triple Story

Triple Story
eps 88



Rilley dan araf menjenguk Joana yang baru melahirkan dirumah sakit keluarga abinaya. Saat mereka datang ternyata sudah ada leni dan bayu orangtua araf atau kakek dan nenek triple h


"assalamualaikum" ucap rilley dan araf bersamaan


"wa'alaikumsalam" semua yang ada diruangan menjawab salam mereka.


"mami sama papi gimana kabarnya?" araf menyalami orangtuanya yang kini terlihat bahagia. Diusia senja mereka ayah dan ibu araf masih terlihat romantis. Terlebih kini mereka tak lagi bekerja. Butik milik leni ibu araf kini dikelola hana menantunya atau kakak ipar araf. Sedangkan perusahaan zaki lah yang mengurus. Anak-anak mereka pun masih bersekolah.


"Alhamdulillah baik raf kamu sendiri gimana?" tanya bu leni


"baik mi"


"rilley gimana kabar kamu?" tanya bu leni pada cucu menantu yang baru


"alhamdulillah baik nek" leni dan rilley berpelukan


"congrats ya jo i hope aku pun lekas bisa dapat juga" ucap rilley setelah cipika cipiki dengan Joana


"kita semua mendoakan juga rill" ucap ayah araf pak bayu


"aamiin"


"lucu banget" senyum rilley mengembang dengan lebarnya


"abang kemana kak?" tanya hasybi rilley yang sedang asyik memandangi bayi Joana


"katanya nanti nyusul masih banyak pekerjaan dikantor" ucap rilley


"ayah udah makan?" tanya hasybi yang diangguki araf.


Araf terlihat sangat fokus memandangi bayi mungil Joana dan hasybi. Dia membayangkan saat nasya melahirkan 3h dulu dia sangat bahagia.


"raf..." panggil bayu lembut ditelinga araf membuatnya mendongak melihat kepada wajah tua ayahnya yang memandangnya dengan lembut.


"pi..."


"raf udah lama kita ga makan bareng yuk kita makan siang bareng" ajak bayu pada anak bungsunya itu.


Araf hanya menganggukkan kepala, leni menggenggam tangan araf. Mereka bertiga keluar dari ruangan.


"kak rilley...." panggil hasybi


"ya...." rilley menegakkan badannya


"kakak baik-baik aja?"


rilley mengangguk, Joana yang bingung bertanya pada suaminya, "memangnya kak rilley kenapa beib?"


"belakangan ayah agak sedikit halusinasi aku sama hail lagi menyelidiki. kemungkinan hari ini ayah mau aku ajak ke klinik temen aku" ucap hasybi


"apa ayah terkena skizo?" tanya Joana khawatir


"kita blm tau sampai dokter sendiri yang memeriksa ayah"


****


Saat dikantin araf meminta izin pada orangtuanya untuk mengangkat telepon, bayu dn leni keheranan karena mereka merasa tidak mendengar dering telepon.


"pi..." panggil leni pada bayu, bayu hanya menggenggam erat tangan istrinya.


"pi... mi... araf harus pergi teman araf membutuhkan araf" paamiy araf tergesa-gesa


" ta... tapi..." belum selesai leni bicara araf sudah secepat kilat menghilang dari pandangan bayu dan leni.


Dengan sigap bayu menelepon Habil memberitahukan kepergian araf yang tergesa-gesa.


"opa... oma..." panggil hasybi yang menyusul mereka ke kantin.


"bi... ayahmu pergi buru-buru banget" ucap bayu pada cucunya


"kemana opa?" bayu dan leni menggelengkan kepala.


hasybi langsung menelepon hail, "il tolong lu lacak keberadaan ayah sekarang, dia pergi buru-buru waktu diajak opa sama oma ke kantin"


"iya bang, gue juga lagi dijalan biar gue yang kejar ayah"


"kasih gue lokasinya nanti gue nyusul pake ambulance"


Hail segera membuka map melacak keberadaan ayahnya, terlihat ayahnya berada didaerah kembangan dengan sigap hail segera mengikuti gps tersebut. Dengan kecepatan tinggi dia membawa mobil. ponsel hail berbunyi terlihat Habil menelwpon


"halo bang Habil"


"il udah lacak ayah dimana?"


"didaerah kembangan bang gue rasa dia mau ke arah CNI"


"gue nyusul sekarang"


"kabarin bang hasybi juga bang"


"ok"


-----


Araf mengendarai mobilnya dengan sangat cepat, di tikungan CNI dia melihat didepannya nadia berlari ke arah mobilnya. Dengan sigap araf membanting mobilnya ke arah kiri dan menabrak tembok pembatas. Araf pingsan sejenak, saat dia sadar dia segera keluar dari mobilnya. Araf melihat nadia tergelatak ditengah jalan sambil menatap araf. Saat araf hendak berlari ke arah jalan tiba-tiba ada yang memeluknya. Araf menoleh dilihatnya hail sudah memeluknya erat.


"ayah..." hail terisak melihat ayahnya sudah berlumuran darah.


"il... tolong selamatkan nadia dia tergeletak disana" tunjuk araf


Hail tak menyahut dia hanya memeluk ayahnya dengan sangat erat sambil terisak.


tak lama kemudian mobil ambulance datang bersama hasybi, begitu pun Habil dengan asisten dan supirnya. Habil ikut memeluk ayahnya.


"tolong nadia... dia tergeletak disana" suara araf lirih.


"ayah...." tangis hail tak terbendung lagi


Hasybi ditolong teman-temannya dari pihak medis membawa araf ke ambulance.


setelah kepergian ambulance yang membawa araf, hail dan Habil menatap sampai tak terlihat.


"gue ga tau kalau ayah bisa sakit separah itu, bodohnya gue" tangis Habil penuh penyesalan. Hail memeluk abangnya, "jimmy tolong telepon pihak asuransi. saya sama hail akan segera ke rumah sakit"


"baik tuan"


Habil mengikuti mobil hail mereka beranjak kerumah sakit. Dengan kecepatan tinggi hail membelah kota jakarta. sepanjang jalan Habil dan hail hanya diam saja pikiran mereka kalut memikirkan ayah mereka. Sepeninggal nasya mereka merasa kurang memperhatikan ayahnya hingga ayah mereka terkena skizofrenia.


Di rumah sakit ayah mereka berada diruangan khusus, dokter jamal teman hasybi yang merawat ayah mereka.


"jamal..." hasybi menghampiri


"keadaan pak araf masih bisa dirawat mandiri belum terlalu ekstream. Kalian bisa merawatnya dirumah dengan syarat kalian harus bisa membuatnya nyaman dan jangan lengah untuk menjaga pak araf. aku hanya akan memberikan obat-obatan. kita terapi obat dulu" ucap jamal yang dianngguki hasybi.


"by..." hail dan hasybi terengah-engah mendekat pada hasybi yang masih berdiri diruang rawat ayah mereka.


"bang ayah masih bisa kita rawat dirumah, mungkin kalau ga besok lusa ayah bisa dibawa pulang sampai luka-lukanya sembuh" terang hasybi.


"gue akan minta perawat laki-laki untuk menjaga ayah" ucap hasybi


Hasybi memasuki ruangan melihat ayahnya yang sedang duduk di kursi roda. Dia menatap ke arah jendela yang tertutup.


"ayah..." araf tak menoleh maupun menyahut dia tetap fokus pada jendela didepannya.


hail mendekat menggenggam lengan ayahnya, "ayah... apa yang ayah lihat hmmm?" dengan lembut hail berucap sambil memandang wajah sayu sang ayah


"bu nadia dia depan" Habil, hasybi dan hail menahan isak tangis.


"ayah..." hasybi bersimpuh didepan ayahnya, "bu nadia ga ada yah, ayah harus melawan dia hanya utopis ayah" araf tak menyahut tapi melihat hasybi dengan pandangan lemah, "ayah harus kuat ayah harus melawan semuanya ada kami untuk ayah"


Araf melihat pada anak-anaknya kemudian menatap lagi ke arah jendela.


****


Tangis leni meledak di pelukan bayu mendengar anaknya di diagnosa skizofrenia.


"maafkan kami oma" Habil tertunduk merasa bersalah sebagai anak tertua.


"ga perlu minta maaf sayang oma ga menyalahkan siapapun. Mulai besok biarkan kami merawat anak kami" pinta leni pada anak-anak araf.


Triple H saling pandang seperti mengerti keraguan hati anak-anak araf, bayu pun ikut bicara, "kalian jangan salah paham oma dan opa percaya kalian lebih bisa merawatnya terlebih hasybi pun seorang dokter pasti mengerti apa yang harus dilakukan. Tapi kami sekarang sudah pensiun ada baiknya kami bisa merawat araf. kalian tetap bisa memantau araf kalian bisa datang kesini setiap hari. Pintu rumah ini terbuka selalu" jelas bayu.


Triple h mengangguki keinginan oma & opa mereka.