
Menjelang tengah malam habil baru kembali dari kantor. Dia duduk disofa ruang tv mengendurkan dasi yang melilit lehernya. Menyandarkan kepalanya pada sofa memejamkan matanya sejenak. Habil terlihat sangat kelelahan hingga kantung matanya terlihat jelas. Kepalanya mulai berdenyut sakit entah mengapa hari ini sungguh melelahkan untuk habil.
"minum dulu bang" habil membuka matanya melihat hail yang sudah menyodorkan segelas minuman pada habil.
"thanks" habil menggerakkan kepalanya kekiri kekanan dan meremas sedikit lehernya.
"abang perlu istirahat, jangan terlalu memforsir diri bang" habil hanya tersenyum tak menjawab. Dia masih memejamkan matanya.
"hasybi jadi pulang il?"
"jadi bang" habil hanya mengangguk saja
"bang..."
"hmmm?"
"bang hasybi niat serius sama joana"
"bagus dong"
"abang ga masalah dilangkah?"
Habil hanya menggelengkan kepalanya tak menjawab pertanyaan hail. Hail melihat wajah habil yang terlihat kelelahn dan banyak beban.
"abang kenapa?" hail mendekatkan duduknya pada habil yang sedang memijat keningnya.
"cuma lelah aja" jawab habil singkat.
"besok gue kekantor lu istirahat aja bang dirumah" hail memijat kepala abangnya, "bang kalau sakit jangan dipendam sendiri ya. Apapun rasa sakit abang bilang sama gue kita berbagi rasa sakit walaupun gue ga bisa ngerasain seenggaknya sedikit ngeringanin beban lu"
Habil membuka matanya melihat pada hail adik bungsunya yang dulu sangat manja dan nakal setelah kepergian inara dan kuliah diluar negeri menjadi dewasa dan madiri. Habil memeluk adiknya sebentar menepuk pundaknya, "makasih ya"
"kalian ngapain sih pelukan gitu? gue kan juga mau" hasybi yang baru datang ikut memeluk abang dan adiknya. Dengan kasar dia menindih habil.
"ahhh... ahhh sakit bi" keluh habil yang dupeluk erat tanpa ampun oleh hasybi.
"gue kangen lu semua" hasybi merenggangkan pelukannya, "lu ga kangen gue apa bang?" wajah habil dilingkari telapak tangan hasybi.
Habil tertawa mendengar hasybi bicara seperti itu. Dia memeluk kedua adiknya dengan kedua tangannya. Habil senang melihat hasybi mulai banyak bicara kini bukan hanya hail yang berubah hasybi pun kini mulai berubah dia pun senang saat hasybi mulai banyak tersenyum. Habil bersyukur.
"bang..." panggil hail sambil melepas pelukan abangnya
"apa?"
"gimana hubungan lu sama rilley?" tanya hail serius
terdiam sejenak tak langsung menjawab kemudian, "alhamdulillah baik aja"
"bang kita nilah barengan aja yuk bertiga" ucap hasybi dengan antusias.
"bentar2 kalau lu nikah sama joana, abang nikah sama rilley terus gue gimana bang? gue kan belum ada calon" sungut hail yang dijawab tawa oleh habil.
"lagian sih lu kebanyakan cewe, nurunin ayah sih lu!" gerutu hasybi.
"kok pasrah gitu sih bang kaya bukan lu" hasybi melihat abangnya dengan seksama.
Habil hanya tersenyum melihat hasybi, dia bangkit dan meninggalkan adik2nya masuk kekamarnya.
"bang gue rasa bang habil lagi dalam masalah deh sama rilley" hail berasumsi sendiri hasybi melihat pada hail menganggukkan ucapan adiknya.
"kita harus lakuin sesuatu il"
"apa bang?"
"entahlah besok aja dipikirin gue capek mau tidur" hasybi beranjak dari duduknya. Hail hanya melihat saja kedua abangnya.
***
Habil sedang sibuk dimejanya hari ini dia memaksakan diri bekerja walaupun badannya sedang tidak fit. Beberapa pertemuan dia meminta hail untuk mendatangi sedangkan habil hanya fokus pada pekerjaan dikantor. Saat sedang serius seperti itu ponselnya berbunyi habil melihat nama rilley tertera disana, "assalamu'alaikum" ucap habil tenang.
"wa'alaikumsalam bil" terdengar suara rilley parau
"kamu kenapa rill?" ada nada cemas dalam pertanyaan habil
"apa kamu benar2 ga bisa luangkan waktu bil untuk kerusia?" habil memijat kepalanya mendengar pertanyaan rilley.
"rill untuk membawa keluargaku kerusia itu hal yang mustahil. Kamu tau bagaimana keadaan ibuku" habil berbicara dengn pelan dan tenang. Diseberang terdengar suara rilley agak terisak, "rill please jangan menangis" habil merasa bersalah karena rilley meenangis mendengar jawaban habil.
"Maaf bil... maaf... assalamu'alaikum" tanpa mendengar jawaban habil rilley menutup ponselnya. Habil bingung tak biasanya rilley seperti ini. Habil menangkup wajahnya dan mengusap dengan kasar.
Habil berdiri didekat jendela besar diruangannya. Dia terus berpikir apa yang harus dilakukannya. Dia memang menyukai rilley tapi dia tidak bisa menerima dari ayah rilley jika setelah menikah mereka harus stay di rusia. Habil tak bisa dan tak mau meninggalkan keluarganya. Habil melipat tangannya memijat hidungnya yang mancung denagn memejamkan matanya.
***
Hari ini adalah hari pertama hasybi masuk kerja. Dia bekerja di abinaya hospital sebuah rumah sakit elit dijakarta. Dia hanya mengambil jadwal seminggu 3x selebihnya dia bekerja diklinik dirumahnya tempat nasya dulu bekerja yang sekarang dipegang oleh adik kelas nasya. Juga dibawah naungan abinaya grup perusahaan orangtua araf yang sekarang diambil alih sepenuhnya oleh zaki abang dari araf.
Setelah memperkenalkan diri seperlunya kepada para dokter hasybi memasuki ruangannya. Disana dia bekerja dengan 3 orang perawat mendampinginya. 1 perawat diluar ruangan untuk mengabsen pasien 2 orang didalam untuk membantu hasybi.
Hasybi bekerja dengan jadwal teratur sehari 8 jam dan 3x dalam seminggu diluar jadwal operasi. Selebihnya dia bekerja di klinik dirumahnya menggantikan nasya yang sudah lama vakum. Habil juga mulai rutin mengunjungi perkampungan kumuh dibelakang kantor kelurahan dekat komplek rumahnya hanya untuk mengecek kondisi orang2 tua dan anak2 disana. Dulu saat nasya masih sehat setiap hari nasya akan mengunjungi mereka disaat anak2 dan suaminya berangkat sekolah dan bekerja. Kini giliran hasybi menggantikan nasya sesuai pesan ibunya.
Setelah selesai dengan rutinitas hari itu dirumah sakit dia segera beranjak merapikan perlengkapannya dan berpamitan dengan para suster yang mendampinginya.
"suster saya pamit duluan ya"
"owh iya dokter hati2" seorang suster tersenyum lebar mendapati dirinya ditegur oleh hasybi.
"ternyata ga seperti gossip diluaran yang bilang dia judes. Ga tuh orangnya ramah begitu ganteng lagi ampun kok ada ya dokter semuda itu udah spesialis pula" hasybi dielu-elukan oleh para suster disana.
"seger banget ya mata coba tiap hari bisa liat dia terus"
Hasybi berjalan melewati oara suster dan dokter mereka semua menyapa hasybi yang diangguki oleh hasybi. Hasybi terkejut melihat joana ada dirumahsakit tempat dia bekerja. Reflex hasybi langsung berteriak memanggil joana yang sedang celingukan mencari orang.
"jo" joana langsung menoleh melihat hasybi melambaikan tangan. Joana langsung berlari ke arah hasybi dan memeluknya. Hasybi terdiam kaku antara bingung dan malu.
"baby aku kangen bangett" sontak hal itu menjadi perhatian orang2 disana