Triple Story

Triple Story
bab 56



Annasya sedang tiduran dipangkuan araf, nasya memejamkan matanya saat araf membelai rambut panjangnya yang indah. Sambil menonton video masa kecil anak-anak mereka saat masih bayi. Araf tertawa saat adegan dimana hail yang sudah dipakaikan baju dilepas kembali oleh habil saat nasya sedang memakaikan pakaian untuk hasybi. Terlihat nasya menghela nafas kelelahan karena tingkah 3 bocah ajaibnya yang benar-benar menguras tenaga dan emosi nasya. Tapi wanita hebat didepannya ini tak pernah mengeluh dia selalu bisa mengatasi yahhh walauoun tak dipungkiri ada peran babysitter didalamnya.


Araf lebih tergelak lagi saat hasybi mulai merambat tapi ditarik pakaiannya oleh hail yang sedang merangkak sedang nasya masih menyusui habil. Jadilah paduan suara diantara 2 baby yang sedari kecil memang saling usil tapi saling mengasihi. Araf juga melihat bagaimana nasya tk bisa tidur nyenyak disamping anak-anaknya saat mereka mengalami demam setelah imunisasi.


"liat apa sih mas cekikikan sendiri?" nasya masih memejamkan matanya tapi suaranya keluar begitu dia merasakan guncangan dikepalanya.


"ehemmm..." dehem araf kemudian merundukkan badannya mencium nasya. Nasya memicingkan matanya.


"makasih ya udah mengurus anak-anak maaf ya ga selalu bisa disisi kamu" araf mengelus rambut nasya dengan penuh cinta. Nasya tersenyum kemudian memejamkan matanya lagi.


"hmmmhhh jadi pengen liat mereka jadi baby lagi mas. Biar bisa terus dekap mereka dalam pelukan aku" tanpa nasya sadari 3 jagoannya bergantian menciumi pipi nasya. Nasya membuka matanya, "kalian ini kebiasaan ga ayah ga anak selalu cium-cium pipi mama" nasya bangkit dari rebahannya.


Triple h langsung merangsek memeluk nasya, "ga perlu jadiin kita baby lagi kita akan selalu peluk mama walaupun kita dah dewasa" habil mewakili adik-adiknya.


"anak mama..." nasya memeluk semua anaknya dengan penuh cinta.


"ayah kok punya sih semua video pertumbuhan kita?" tanya hasybi yang duduk ditengah antara nasya dan araf.


"momen dimana kalian lahir dan tumbuh adalah momen spesial yang terkadang ayah harus pergi kerja ga disamping kalian ayah ga mau kehilangan momen itu"


Hasybi memeluk araf, "maaf yah kalau kami pernah membuat ayah kecewa"


"kalian kebanggaan ayah" araf membalas pelukan hasybi


....


Hail sudah berpamitan kembali ke singapura, habil berangkat kuliah sedang hasybi kini duduk diruang tengah bersama ibunya. Nasya ditinggal araf berangkat bekerja, araf tak sering berangkat karena dia juga harus menjaga nasya. Walaupun dirumah banyak maid tapi tak membuat araf menyerahkan sepenuhnya mereka untuk menjaga nasya.


Nasya menjulurkan tangannya menampung air hujan yang menetes sangat deras dari langit. Nasya tersenyum senang, "ma..." panggil hasybi sambil memakaikan selimut ketubuh belakang nasya agar tak kedinginan. Nasya menoleh pada anaknya.


"ma..."


"hmmm"


"mama masih inget ga kalau ujan gini mama selalu minta kami anak-anak mama bersyukur dan mengucap doa?"


Nasya mengangguk, "Allahumma soyyiban naafi'an" gumam nasya, "ya Allah tolong berikan hujan yang bermanfaat"


Hasybi tersenyum pada ibunya yang dilihatnya seperti anak kecil karena sindrom putri tidurnya kambuh. Nasya sudah menguap kemudian berjalan ke arah sofa. Dia merebahkan diri memeluk bantal sofa.


"ma... ayo pindah ke kamar aja" hasybi menuntun ibunya yang sudah mengantuk berjalan ke arah kamar utama. Setelah membaringkan nasya hasybi membetulkan letak selimut ketubuh nasya. Dia menggenggam tangan ibunya teringatnya hasybi saat dia masih sd ibunya akan menjaganya semalaman jika dia sedang sakit.


Apalagi jika hail yang sakit anak itu bukan main manjanya pada ibunya. Hasybi menciumi tangan ibunya dengan sayang. Mengelus lembut tangan putih bening dan lentik itu, "terima kasih ya ma..." gumam hasybi penuh kasih.


flashback on


Dengan telatennya nasya setiap beberapa jam mengecek suhu anaknya dan melepas plester kompres jika sudah kering. Nasya juga tak melulu memberikan obat kimia pada anak-anaknya jika anaknya sakit. Seperti saat anaknya batuk nasya akan membuatkan jahe hangat terlebih dahulu atau lemon hangat. jika masih tak sembuh setelah 2 hari baru nasya memberikan obat kimia. Jika araf pulang maka dia akan bergantian menjaga anaknya yang sakit. Walaupun araf sibuk dikantor tapi dia akan membantu nasya mengurus anak-anaknya. Jika dia benar-benar kelelahan maka araf akan istirahat disela-sela jam kerjanya.


flashback off


Hasybi masih menunggui ibunya yang masih terpejam. Hasybi merebahkan dirinya disamping ibunya, "ma terima kasih udah jadi mama yang hebat untuk kami. Menjadi mama yang penuh kasih. Mama terbaik" lagi-lagi hasybi mencium lembut tangan mamanya. Tak terasa hasybi meneteskan airmata. Dia menahan isak tangisnya, hanya bahunya saja yang berguncang.


"ma seandainya diizinkan lebih baik hasybi aja yang sakit. Hasybi ga bisa liat mama sakit alzheimer hiks. Hasybi janji akan belajar lebih giat dan meneliti penyakit mama. Hasybi akan berusaha untuk bisa buat obatnya. Demi mama" Saat sedang terisak tanpa suara hasybi merasa ada yang mengelus pundaknya. Hasybi menoleh melihat ayahnya kini sudah duduk ditepi kasur.


Hasybi langsung bangkit, "yah..." hasybi menyalami punggung tangan ayahnya, "ayah udah pulang kok cepet banget?" tanya hasybi sambil mengusap pipinya.


"ada apa?" tanya araf lembut


Bukannya menjawab hasybi malah memeluk ayahnya erat dan menangis dipelukan ayahnya.


"ssttt... kok malah nangis sih hmmm?" araf mengusap lembut punggung anaknya yang berguncang.


"bi..." nasya merasa terusik dengan suara anaknya yang menangis, "kamu kenapa sayang?" nasya bangkit dengan mata masih belum sepenuhnya terbuka. Dia mengerjap beberapa kali hingga terbuka kemudian ikut mengelus punggung hasybi.


"anak kita lagi manja ma..." jawab araf pada nasya agar istrinya tak khawatir dengan hasybi.


Nasya menghela nafas dan tersenyum, "kamu ga pengen balik ke jerman ya sayang? kamu pasti kangen rumah"


"ma..." hasybi menengok pada ibunya


"apa?"


"hasybi sayang mama"


"mama tau"


"sayang ayah juga ga?" tanya araf yang selalu merasa diasingkan.


"pasti dong" hasybi pun memeluk kedua orangtuanya. Nasya dan araf membalas pelukan hasybi dan mencium pipi anaknya.


.


.


.


Bahagia itu sederhana bukan hanya dengan banyaknya uang yang dimiliki tapi mensyukuri apa yang dimiliki.