Triple Story

Triple Story
bab 50



Inara duduk sendiri dibangku sudut menghadap jendela luar. Pandangannya nanar seperti tak ada kehidupan. Hail masuk dan menyapa inara seperti biasa setiap kali dia datang dia akan menyambangi cinta pertamanya. Hail duduk didepannya, walaupun tak pernah ada respon hail selalu mengajak bicara inara. Dia akan bercerita apa saja keadaanya selama kuliah, cerita-cerita menyenangkan dan terkadang hal lucu agar inara tertawa. Tapi inara tak juga tertawa, dia masih sama inara yang selalu diam tak merespon apapun perkataan orang lain. Hail mengusap lembut tangan inara, "bu... besok aku balik lagi kuliah. Aku mau saat aku pulang ibu udah sembuh. Aku selalu berdoa untuk kesehatan ibu dan juga mamaku. Aku sayang ibu" hail memeluk inara. Tanpa hail sangka inara menepuk 3x pelukan hail.


Seketika hail takjub dipandangnya wajah inara, "semoga ini awal yang bagus" hail tersenyum memandang inara, menangkup wajah cantik yang kian kurus dan pucat itu. Tapi inara mengalihkan pandangannya ke arah luar. Tak bicara sedikit pun dan tak merespon lagi pergerakan hail padanya.


"gapapa semoga ini awal yang baik" hail menyemangati dirinya sendiri. Hail mencium punggung tangan inara kemudian mengusapnya, "aku pamit ya bu" hail mengelus sebentar wajah inara kemudian beranjak meninggalkan inara yang masih memandang keluar jendela dengan pandangan kosong.


Saat hail berbalik ke arah pintu inara menatap kepergian hail tanpa sepengetahuan hail, "maaf" hanya itu ucapan yang keluar dari mulut inara pelan tak terdengar siapa pun.


Malam harinya inara berjalan dilorong rumah sakit yang terlihat sepi. Inara menyusuri tangga naik ke atap rumah sakit tanpa ada yang tau. Inara berjalan dipinggiran atap rumah sakit. Dia memandang kebawah kemudian ke langit, "maaf" lagi-lagi kata-kata itu keluar dari mulut inara sampai akhirnya dia memejamkan mata dan menjatuhkan dirinya dari atap. Inara bunuh diri.


Seorang satpam yang sedang berpatroli terkjut mendapati orang jatuh dari atap. Dia berteriak dan memanggil keamanan lain.


Tengah malam hilman yang baru saja selesai shalat malam mendapat telepon dari rumah sakit jika inara kecelakaan dan sekarang dilarikan kerumah sakit. Hilman sebagai wali inara yang tercatat dirumah sakit segera berlari ke arah rumah sakit tempat inara dirawat. Namun terlambat saat hilman berlari sekuat tenaga disaat itulah inara tak lagi mampu bertahan.


Saat hilman sampai dirumah sakit berita duka datang. Hilman sangat shock bukan main. Dia jatuh terduduk dan menangis sejadinya. Seorang dokter kenalan hilman menepuk pundak hilman.


"inara... ha... ha... ha..." teriak hilman histeris dia seperti orang gila yang tak bisa menerima kepergian wanita yang dicintainya.


"ha.. ha... ha..." tangis Hilman dipelukan dokter cantik itu.


"udah man lu harus ikhlas..." ujar dokter tersebut.


Hail mendapat informasi jika inara bunuh diri, hail lekas membuka pintu dengan kasar membuat araf dan habil keluar bersamaan dari kamar masing-masing.


"ada apa il?" tanya araf yang terkejut mendapati hail yang berlari menuruni tangga.


"bu inara meninggal yah"


"apa?" habil dan araf berbarengan. Tanpa pikir panjang lagi araf mengikuti anaknya. Habil melihat hail yang biasa tenang dan santai penuh keceriaan memangis dan sedih. Dia terlihag sangat kacau.


Sesampainya dirumah sakit dia berlari dikoridor rumah sakit bersama habil dan araf. Dia mendapati hilman yang sudah memangis terduduk dilantai.


"bu inara..." hail mencari ruangan inara. Saat dia masuk dia benar-benar melihat inara sudah terbujur kaku.


"bu inara... hiks... hiks..." hail membuka memegang wajah inara. Antara percaya atau tidak dia melihat inara terpejam, "ha...." hail memeluk mayat inara dan menangis histeris. Habil memcoba menarik adiknya agar tak menangis dimayat inara. Araf memeluk hilman yang juga sedang menangis. Hail menjambaki dirinya, baru sore tadi dia bertemu inara, bercerita banyak hal lucu agar inara segera sembuh tapi malamnya dia mendapat kabar yng mengejutkan.


_


Pemakaman inara berjalan dengan lancar, para pelayat datang dari berbagai kalangan. Teman-teman inara dan guru-guru juga berdatangan mengucap belasungkawa. Hilman masih duduk dipusara inara. Hail terus menatap pusara inara dia enggan untuk beranjak. Habil menarik hail, "ayo pulang" bisik habil. Hail berjalan dengan ditarik habil tapi matanya sesaat masih dipusara inara.


Araf menepuk pundak hilman, "ikhlaskan jangan terus diratapi kasihan dia" hilman hanya mengangguk. Leni, bayu, zaki dan hana berpamitan pada hilman.


Hail mengurung diri didalam kamarnya, tak ada yang berani mengetuk pintu. Sejak pulang dari pemakaman inara hail tak keluar dari kamar bahkan sejak pagi dia belum sarapan dan melewatkan makan siang. Habil yang tak tega mengetuk pintu kamar hail.


"il... abang boleh masuk?" baru saja habil ingin memutar knop pintu hail sudah membukanya terlebih dahulu.


"bang gue mau berangkat sekarang" terlihat hail membereskan koper kecil yang selalu dia bawa dari jakarta kesingapura maupun sebaliknya.


"pamit mama dulu ya" ucap habil yang diangguki hail. Araf, habil dan hail kekantor polisi bersama. Hail masih diam sepanjang jalan menatap jalanan yang seperti berlari dibalik jendela mobilnya.


Sesampainya mereka disana mereka berpapasan dengan danu dan faiqa yng pastinya habis menjenguk nasya. Danu tak menggubris araf saat dia menyalami danu. Danu langsung masuk kedalam mobil diikuti faiqa yang berpamitan pada mereka.


"kami duluan ya anak-anak" faiqa melambaikan tangannya.


"iya oma" ucap habil.


"ma... hiks" hail langsung menghambur kedalam pelukan annasya begitu annasya mulai terlihat dipintu.


"ada apa il?" nasya melihat pada habil dan araf.


"bu inara meninggal ma"jawab habil


"innalillahi wa inna ilaihi roji'un" gumam nasya.


Nasya mendudukkan anaknya dibangku, "jangan terlalu meratapi kepergiannya nak kasihan dia nanti berat" nasya menepuk pundak hail.


"setiap ada kelahiran pasti ada kematian. Bersedih boleh tapi ga boleh meratapi. Ikhlaskan sayang" nasya berusaha bijak menyikapi anaknya.


"iya ma..." hail melepas pelukan nasya dan mengusap airmatanya.


"anggaplah ini hanya seperti pemandangan yang kamu lihat dijendela saat naik mobil. Mereka hanya lewar sekilas tapi terserah kamu mau menyimpan itu sebagai kenangan atau ga. Kalau kamu mau jadiin kenangan jadikanlah kenangan indah jangan jadikan luka yang susah untuk disembuhkan"


Hail menatap wajah cantik didepannya, wajar saja jika banyak yang tertarik pada ibunya selain cantik dia juga berhati malaikat dan meneduhkan. Pandangan matanya selalu membuay tenang siapa pun yang memandangnya.


"terima kasih ma" hail memeluk lagi nasya.


"hari ini bukannya kamu harus balik kesingapura?"


"iya ma... minggu depan hail pulang lagi. Semoga saat hail dan bang hasybi kembali mama udah bebas"


"amin..."