Triple Story

Triple Story
bab 74



Sesampainya hasybi dirumah dia langsung mencari keberadaan ibunya. Araf dan nasya sedang berada ditaman rumah mereka. Hasybi berlari menghampiri dengan rasa rindu yang membuncah pada orangtuanya dia langsung berteriak memanggil ayah ibunya.


"mama.... ayah..." hasybi langsung memeluk mereka


"kamu kaya dari jauh aja bil dateng2 langsung peluk mama" nasya menepuk pundak hasybi yang dikiranya adalah habil. Hasybi kerasa sedih ibunya mengira dirinya adalah habil abangnya.


"lain kali salam dulu ya"


"ma... ini hasybi bukan habil" ucap araf pelan ditelinga nasya. Nasya menoleh pada suaminya kemudian hasybi dia mengangguk, "maaf" ucap nasya pelan. Hasybi tak lagi bisa membendung airmatanya.


"gapapa ma, maaf hasybi baru pulang" hasybi memeluk ibunya erat. Hail yang baru sampai dibelakang mereka juga terharu begitu pun perawat yang selalu mendampingi nasya dan araf dia sampai menangis dibuatnya.


"hasybi anak mama yang paling cerdas tapi jarang tersenyum dan bicara" nasya berjalan ke arah kolam ikan diikuti perawat. Araf, hasybi dan hail hanya melihatnya.


"bagaimana perjalanan kamu bi?" hasybi, araf dan hail duduk dibangku disisi kolam renang sambil melihat nasya yang memberi makan ikan dikolan ikan dekat taman ditemani perawat tak jauh dari araf dan anak2nya duduk.


"cukup menyenangkan yah apalagi setelah menghirup aroma rumah rasanya bahagiaaa banget" jawab hasybi dengan wajah yang sumringah.


"ayah lebih bahagia lagi lihat perubahan diwajah kamu. Ayah senang sekarang kamu banyak tersenyum" ucap araf


"ayah ga bahagia liat aku lulus dengan nilai terbaik, angkatan termuda dapat lisensi spesialis lagi diusia aku yang ke 21 tahun" hasybi tak bermaksud menyombongkan diri hanya saja ayahnya tak ada membahas tentang kuliahnya dan kelulusanya. Dia hanya bahagia melihat kepulangannya.


Araf tersenyum pada anaknya, "ga ada orangtua yang ga bangga sama anak2nya. Hasybi, hail maafkan kami disaat kalian lulus kuliah kami ga menghadiri wisuda kalian" ucap araf penuh penyesalan.


"kami memahami yah... ga usah dirisaukan" hail mencoba menenangkan ayahnya yang merasa bersalah.


"untuk kami yang terpenting adalah kesehatan mama dan ayah" hasybi menggenggam tangan ayahnya dibalas senyum oleh araf.


"oiya ayah dengar selama kamu dijerman kamu berhubungan dengan joana anak om daffa sahabat ayah?"


Wajah hasybi langsung memerah karena malu araf mengambil secangkir teh didepannya, "ayah senang kalau kamu mau membuka hati sama perempuan. Siapapun dia asal dia anak baik ayah akan menyetujui kalian menikah muda. Apalagi joana ayah tau semua tentang keluarganya karena om daffa adalah sahabat ayah dari smp dulu" araf menyeruput tehnya meletakkan cangkir teh diatas meja, "untuk hail sama habil ayah belum tau siapa yang sedang dekat dengan kalian. Tapi 1 yang pasti asal kalian bahagia ayah akan mendukung"


"besok joana baru kembali dari jerman yah bersama om daffa dan istrinya. Kalau ayah ga keberatang lusa hasybi mau minta ayah sama mama adakan makan malam untuk ketemu mereka" hasybi bicara sangat pelan takut jika ayahnya menolak ajakan itu apalagi kondisi nasya yang kini seperti anak kecil.


"dirumah aja mau? nanti ayah juga akan mengundang kakek, nenek, oma sama opa dan mungkin kalau om zaki dan tante hana ga sibuk ayah akan undang mereka juga"


"iya ayah nanti hasybi bicarakan dengan joana"


"abang kebelet banget pengen nikah ya kita kan masih muda bang. Ga mau kejar cita2 dulu?" tanya hail pada abangnya yang duduk disisinya


"menikah itu ga menghambat karir nak, sial cita2 apalagi yang ingin hasybi raih dia udah dapatkan. Tinggal jadi profesor aja kan. Saat ayah menikah dulu ayah bahkan belum tau jika mertua ayah punya perusahaan besar. Ayah hanya tau mertua ayah memiliki usaha meuble warisan ibu mertua ayah yang akan diberikan pada kakak2 ibu mertua saat kakek kalian meninggal. Tapi untungnya ayah dan teman2 ayah memiliki usaha cafe yang sekarang dikelola oleh om fariz. ayah pikir sampai kami lulus ayah bisa menafkahi mama kalian dengan penghasilan dari cafe yang kini dikelola oleh om fariz. Tapi ternyata takdir bicara lain, setelah resmi ayah menjadi suami mama kakek kalian mewariskan perusahaan it terbesar diindonesia yang juga sudah merambah pasar asia" terang araf mengingat masa lalunya, "ayah seperti kejatuhan bintang" lanjut araf dengan memandangi nasya.


"sulit untuk mencari wanita yang cantik akhlak dan wajah seperti mama" gumam hail


"ga ada yang sulit il... teruslah berdoa agar mendapatkan istri solehah" ucap araf yang disenyumi oleh hail.


"yah..." panggil hasybi


"hmmm" araf menjawab setelah menyeruput teh manisnya.


"saat ayah merelakan waktu ayah untuk merawat mama 24 jam tanpa henti apa ayah pernah merasa lelah?" hasybi menatap serius pada araf.


"maka itu mama selalu bilang carilah istri yang baik agamanya" hasybi bicara pada swndiri.


"setidaknya wanita baik itu layak dinikahi. Apalagi kalau wanita itu ga ada lelahnya mengejar anak ayah hahaha" tawa araf pecah diikuti hail yang ikut tertawa sedang hasybi hanya tersenyum masam.


"ya udah kamu istirahat sana 22 jam bukan waktu sebentar didalam pesawat kamu pasti sangat kelelahan" hasybi berdiri dari duduknya berpamitan pada ayah dan adiknya. Kemudian masuk kedalam kamarnya.


Sesampainya dikamar dia mengirim pesan pada joana.


hasybi:


jo aku udah sampai jakarta


joana:


alhamdulillah, udah sampai rumah belum?


hasybi:


udah kok. Sekarang aku dikamar mau istirahat. Kamu kapan berangkat kejakarta?


joana:


ini udah dibandara kok beb sama mama papa


hasybi:


lusa luangkan waktu ya aku mau undang kalian makan malam dirumah


joana:


ada acara apa beb?


hasybi:


perkenalan keluarga aja


joana:


kelurga kita kan udah saling kenal


hasybi:


bukti keseriusan aku sama kamu


joana:


serius beb? 😍 terima kasih ya. Akhirnya oenantian aku ga sia2 kamu emang lelaki yang patut diperjuangkan


Hasybi tak membalas lagi pesan joana dia hanya tersenyum saja