Triple Story

Triple Story
bab 26



Hari sudah gelap jam menunjukkan pukul 20.00 wib. Rilley mengajak ayahnya kerumah tempat dia tinggal bersama gurunya. Hari ini dijadwalkan selesai ldks jadi kemungkinan gurunya sudah kembali. Rumah terlihat sepi rilley meminta ayahnya menunggu diteras, "dad tunggu disini ya aku buatkan minum. Aku akan memanggil bu inara sebentar" fillane mengangguk setelah duduk dikursi kayu bercat coklat.


Inara baru saja selesai mandi saat rilley mengucap salam saat masuk, "assalamu'alaikum"


"wa'alaikumsalam. Kamu udah pulang rill?" inara mengusak rambutnya dengan handuk kecil.


"bu..." rilley mendekat pada inara menggenggam tangan lembut inara, "daddy saya datang"


Inara terkejut, "apa? kapan? sekarang dimana?" inara celingukan mencari. Matanya melihat ke setiap sudut ruangannya.


"ada didepan bu, bu terima kasih sudah mau menampung saya selama ini" rilley berkata dengan sungguh-sungguh airmata menggenang dipelupuk matanya.


"kok jadi sedih gini sih? jangan bilang kamu mau ninggalin ibu?" tanya inara penuh selidik.


"daddy minta aku pulang ke austria setelah selesai ujian ini bu" inara memeluk rilley setelah mendengar ucapan anak murid yang sudah seperti adiknya itu.


"pada akhirnya yang datang akan pergi. Kamu udah aku anggap adikku sendiri terima kasih sudah menemani hari-hari saya dikontrakan ini" ucap inara.


"saya yang berterima kasih dengan pertolongan ibu. Sekalian daddy mau ajak saya pindah ke apartemen. Daddy akan tinggal disini sampai saya lulus. Kurang dari 3 bulan lagi sudah kelulusan bu" ujar rilley.


"saya ganti pakaian dulu nanti saya hampiri ayahmu" inara melepas pelukan rilley.


"iya bu"


rilley bergegas kekamarnya dan merapikan pakaiannya juga buku-bukunya.


"excusme..." inara menyapa seorang pria yang sedang duduk diteras rumahnya.


"owh... hai..." fillane berdiri dan mengulurkan tangannya, "i'm rilley's father. My name fillane martinez"


"yes i know, my name inara. I'm rilley's teacher" Inara menyambut jabatan tangan fillane. Saat mereka sedang asyik berbincang datanglah hilman kerumah inara. Dia mengucap salam fillane dan inara yang sedang tertawa bersama menengok kepada hilman. Wajah hilman berubah muram mungkin cemburu.


"hai sayang tumben malam-malam kesini?" tanya inara menyambut kedatangan kekasihnya.


"kenapa ga boleh ya? takut ganggu kamu yang lagi kencan dengan dia!" sinis hilman. Karena fillane tak paham bahasa indonesia dia tersenyum pada hilman. Hilman menatap tajam pada fillane.


"hai... i'm fillane" fillane mengulurkan tangannya namun tak disambut oleh hilman.


"jangan begitu, ayo sambut tangannya" perintah inara yang sebenarnya paham hilman sedang cemburu. Hilman menyambut dengan malas, "hilman"


"pak hilman jangan judes gitu sama daddy aku" rilley datang dengan membawa kopernya.


"dia daddy kamu?" tanya hilman yang diangguki rilley.


Rilley menatap ayahnya....


"dad this person helped me when i was in trouble. (berbisik pada ayahnya) He is miss inara boyriend" ucap rilley menjelaskan.


"owh i see" fillane tersenyum pada hilman. Memeluk hilman, hilman terasa kaku hendak menyambut pelukan fillane.


"thank you for your help with my daughter" ucap fillane tulus yang diangguki hilman.


"pak hilman bu inara saya pamit. Terima kasih sudah menolong saya. Saya janji akan belajar lebih giat agar bisa menjadi orang sukses" ucap rilley


Inara memeluk rilley dengan erat, "iya sayang"


Setelah berpamitan rilley ikut ayahnya ke sebuah apartemen yang disewa ayahnya sambil menunggu rilley lulus sekolah dan membantu rilley mengurus kepindahannya ke austria.


Fillane tersenyum dan mengangguk.


🌸🌸🌸🌸


Setelah melaksanakan shalat malam annasya merasa kepalanya pusing dan sangat sakit. Sebagai dokter dia paham tidak boleh meminum obat karena sedang hamil. Dia pun turun kebawah pelan-pelan menuju dapur untuk membuat jahe hangat agar lebih rilex. Setelah merasa lebih baik dia beranjak dari dapur menuju kamar. Pelan-pelan dia menaiki tangga rumahnya, "aku harus periksa sakit kepala ini terlalu sering aku rasain. Aku takut berefek pada janinku" batin nasya.


"ma... kok belum tidur?" suara hail memanggil nasya


"mama lagi pengen teh jahe. Kamu sendiri kok belum tidur?" tanya balik nasya pada putranya.


"aku baru bangun ma, ga bisa tidur lagi. Aku juga haus ma pengen minum"


"ya sudah habis itu tidur lagi ya"


"iya ma"


Nasya memasuki kamarnya merebahkan dirinya diatas kasur. Araf masih terlelap dalam tidurnya, nasya memiringkan tubuhnya menghadap ke arah araf. Dia membelai setiap inci wajah araf hal yang sudah lama tidak dia lakukan karena saking sibuknya araf pada pekerjaannya.


"mas kamu selalu khawatir kalau aku hamil. Aku selalu sakit kalau hamil. terima kasih sudah khawatir. Ga nyangka selama ini cinta yang kamu beri ke aku sungguh sangat besar. Bersyukurnya aku bisa punya suami seperti kamu" ucap nasya pelan sambil tersenyum. Dia mencium dahi araf yang sedang tertidur pulas. Nasya merentangkan tangan araf agar memeluk dirinya erat. Entah mengapa dia sangat ingin dipeluk araf. Mungkin bawaan bayi, nasya menciumi dada bidang araf yang tidak memakai baju lagi.


"hmmm sayang..." araf yang merasa terganggu karena nasya yang menggosok wajahnya ke dada araf.


"maaf mas ganggu tidur kamu ya" nasya berucap tanpa menoleh pada araf.


" ga kok. sini aku peluk" ucap araf dengan suara parau.


"mas..."


"hmmm?"


"kamu sayang aku kan?" tanya nasya terdengar manja


"kamu ngomong apa sih?" araf seperti enggan menjawab mungkin karena masih sangat mengantuk.


"jawab aja apa mas" rengek nasya


"masih malam ah ayo tidur aku masih ngantuk banget" araf memeluk istrinya dalam dekapannya.


"ck" kesal nasya memukul dada araf pelan


"kita rumah tangga udah hampir 21 tahun sayang hal kaya gitu apa masih harus dipertanyakan?" ucap araf dengan mata terbuka memandang istrinya yang berada dibawah dagunya.


Araf mencium puncak kepala nasya, "kamu segalanya buat aku" araf bernafas diatas kepala nasya dengan lembut.


"terima kasih ya mas atas cinta yang berlimpah dari kamu dan keluargamu. Aku sayang kalian" batin nasya sambil mendekatkan kepalanya pada dada araf.


Keesokan paginya saat sarapan nasya meminta izin pada suaminya untuk pergi ke rumah sakit, "mas hari ini aku mau cek up ke rumah sakit ya"


"nanti tunggu aku selesai meeting jam 11 ya aku antar" ucap araf.


"ga usah mas, kamu kan sibuk aku ga mau ganggu kerjaan kamu"


"udah kewajiban aku. Lagian aku ga izinin kamu pergi kalau sendiri aku harus ikut. Tunggu aku pulang" perintah araf tak mau dibantah lagi. Nasya hanya mengangguk setelah selesai merapikan piring nasya mengantar kepergian anak dan suaminya sampai pintu. Nasya tak membuka kliniknya karena hendak ke rumah sakit.