Triple Story

Triple Story
bab 67



Mendengar pertanyaan hail membuat wajah rilley merona malu. Hail yang memang anak usil terus menggoda rilley, "ihhh mukanya langsung merah ketauan ya lu suka banget abang gue"


"ihh lu apaan sih il" rilley menepuk pundak hail


"gue tau dulu lu suka abang gue. Ga nyangka aja udah lebih dari 5 tahun perasaan lu masih sama. Setia banget lu ya" goda hail sambil memiringkan wajahnya menatap wajah malu-malu rilley.


"setia itu kalau udah jadi pasangan kalau belum namanya apa ya? cinta bertepuk sebelah tangan kali ya" rilley menghela nafas panjang.


"hahahaha kasihan...." hail tertawa puas melihat wajah cantik rilley yang lemas, "btw lu disini berapa lama?" tanya hail


"niatnya sih seminggu tapi liat ekspresi abang lu yang ga ngenakin 3 hari ajalah" jawab rilley sambil memainkan kakinya.


"loh emang abang gue kenapa?"


"jutek"


"iya sih belakangan emang abang gue jadi orang jutek banget. Sampe2 karyawan disini aja hati2 banget. Ga sesuai keinginan dia siap2 dilempar kertas diomelin ahhh pokoknya abang gue serem deh sekarang" rilley melihat hail yang membicarakan abangnya namun tak melihat ke arahnya. Rilley melihat ada gurat kesedihan diwajahnya.


"sejak kapan habil jadi begitu menakutkan il?" rilley menatap wajah hail serius.


"semenjak mama sakit dan ayah harus menjaga mama dia harus gantiin ayah untuk ngurus perusahaan. Apalagi semenjak om daffa, om billy dan om david orang kepercayaan ayah pindah ke negara lain untuk memperluas jaringan perusahaan tambah abang gue jadi orang yang kaku banget tanpa senyum. Bawaannya seriuuusss banget" Rilley mengangguk mendengarkan ucapan hail. Sekarang dia paham kenapa habil berubah, karena tekanan yang dia rasakan diusia yang masih tergolong remaja.


"ngomong2 lu tinggal dimana?" hail mencoba mengalihkan pembicaraan.


"dihotel venus . Cuma 30 menit kok dari sini jalan kaki" rilley menunjukkan arah jalan ke hotelnya.


"ok next kita ketemu ya. Sekarang gue harus kedalem dulu abang gue pasti udah nunggu" rilley mengangguk dengn senyum masih mengembang diwajahnya. Hail melambaikan tangannya setelah mengucap salam dan berpamitan pada rilley.


Tanpa mereka sadari ada sepasang mata memperhatikan mereka dari sebuah jendela besar didalam gedung tersebut. Orang itu tak lain adalah habil yang cemburu melihat kedekatan adiknya pada wanita yang selama ini selalu dirindukannya. Apalagi saat melihat rilley tersenyum kemudian memukul hail, "bahkan saat ketemu aku tadi kamu lekas pergi. Kenapa sama hail kamu bisa ngobrol lama dan bercanda kaya gitu?" gumam habil.


Habil tak lagi mempedulikan adiknya dan rilley yang tampak sangat akrab. Dia pun beralih ke mejanya dan mengerjakan tugasnya. Tak lama kemudian suara ketukan pintu terdengar.


tok... tok... tok...


"masuk!"


"hai abang...." dengan santinya hail masuk dan duduk disofa.


Habil lekas berdiri memberikan beberapa file pada hail, "ini perusahaan otomotif yang minta supaya dikasih keamanan ekstra. Pelajari selengkapnya" pinta habil yang diangguki hail.


"ehhh bang tau ga?" hail menngangkat kepalanya melihat ke arah habil.


"apa?" habil membalikkan badan menengok adiknya


"tadi gue ketemu rilley"


"udah liat" jawab habil ketus


Masih dengan judesnya habil berkata, "ga usah gossip buruan kerjain tugas lu. Ini kantor bukan lingkungan ibu2 doyan gossip"


"ihhh lu mah bang ga asyik, mo ampe kapan lu gantung perasaan rilley tanpa kepastian? disamber orang tau rasa lu!" hail berbicara tapi matanya melihat kepada file didepannya. Habil tak bicara dia diam saja mendengar ucapan hail.


"bang..." karena hail tak mendengar jawaban habil dia melihat ke arah abangnya. Habil hanya menatap hail tanpa menjawab, "gue tau lu juga suka rilley. Ungkapin bang sebelum terlambat"


Habil menarik nafas, "kita masih terlalu muda il untuk mikirin hal kaya gitu"


"sampai kapan lu bohongin perasaan lu bang?" hail meletakkan file diatas meja, "gue tau lu kesepian, lu pengen bisa nikmatin masa muda lu tapi u selalu berpikir nenan dipundak lu. Bang jangan korbanim diri lu terlalu dalam masa muda ga datang 2x begitu pun cinta yang tulus. Kejar bang ungkapin"


Habil memicingkan matanya, "sejak kapan lu jadi penasehat cinta?"


Hail kesal mendengar ucapan habil, "ahhh terserah lu bang suatu saat lu sendiri yang nyesel bukan gue" Hail berdiri setelah merapikan filenya, "awalnya rilley mau dijakarta seminggu ngisi liburannya sama lu. Tapi dia cancel jadi cuma 3 hari karena lu jutek sama dia"


Habil melirik tajam pada hail


"bang dia jauh-jauh dari rusia cuma buat ketemu sama lu. Seenggaknya hargai usahanya" ucap hail yang kemudian mengucap salam berpamitan. Tapi sesampainya dipintu dia membuka hail berbalik, "rilley tinggal dihotel venus 30 menit jalan kaki dari sini" kemudian hail menutup pintu. Habil menjadi tidak tenang sejak hail mengatakan hal-hal yang berkaitan dengn rilley. Karena dia menjadi tidak konsen dia pun beranjak dari duduknya.


"helena cancel semua janji saya sore ini. Saya ada keperluan" helena yang terkejut mendapati habil sudah didepannya langsung beranjakndari duduknya.


"baik tuan"


Saat habil hendak berjalan ke arah lift asistennya mengikuti, "ga usah ikut saya kerjakan aja tugas kamu!" perintah habil yang diangguki asistennya.


Sesampainya di lobi habil meminta supirnya untuk keluar dan dia masuk kedalam mobil dibelakang kemudi dia memjalankan mobilnya ke arah hotel venus tempat rilley tinggal. Setelah memarkirkan mobilnya habil ke arah receptionist dan bertanya letak kamar rilley. Setelah mengetahuinya habil lekas berlari. Sebelum memgetuk kamar rilley habil menarik dan menghembuskan nafas dalam2.


tok... tok... tok...


Rilley yang mendengar ketukan segera membukanya tanpa curiga. Saat dia membuka betapa terkejutnya dia melihat habil didepannya.


"ha... habil..." habil tersenyum pada rilley


"maaf" hanya ucapan itu yng keluar dari mulut habil.


"gapapa"


"apa kita bisa keluar? aku mau ajak kamu jalan" ucap habil yang langsung diangguki rilley. Sore itu habil dan rilley menikmati waktu mereka hingga menjelang malam. Jam sudah menunjukkan pukul 9 malam habil mengantar rilley kehotelnya.


"maaf ga bisa lebih lama lagi. Karena aku juga punya keluarga" ucap habil


"gapapa dengan kamu temani aku kaya gini aku udah seneng" senyum rilley.


Habil menggenggam tangan rilley, "kalau kita berjodoh setelah kamu lulus kuliah aku ingin ngelamar kamu. Aku ga akan paksa kamu untuk nunggu aku kalau dalam penantian ini kita menemukan jodoh masing2 kita harus saling merelakan. Tapi 1 hal yang pasti kamu selalu ada dalam doaku" rilley terharu mendengar ucapan habil dia pun mengangguk sambil meneteskan airmata.