Triple Story

Triple Story
bab 71



Hail sedang menikmati momen santai di sebuah cafe setelah meeting dengan klien mewakili habil.


"permisi... hail ya..." seorang wanita dengan rambut blonde lurus terlihat sangat cantik berdiri menjulang dihadapannya. Hail melihat dari atas sampai bawah.


"siapa ya?" tanya haildengan mata yang disipitkan karena dia merasa tidak mengenal gadis didepannya.


"cio masa lupa" gadis itu duduk dibangku depan hail


"ahhh ternyata dia" gumam hail


"ya ada apa?" hail acuh tak acuh


"kamu gimana kabarnya?" cio tersenyum sumringah karena setelah 5 tahun dia baru bisa bertemu hail.


"baik" hail membereskan barang dimejanya memasukkan ke dalam tas. Setelahnya dia berpamitan pada hail, "saya pamit ya karena masih banyak yang harus saya selesaikan" hail segera bangkit berdiri dan pergi tanpa kata.


Cio hanya diam ditempat, "seperti biasa lu cuek banget sama gue il" gumam cio yang menghela nafas dalam2.


Saat hail masuk kedalam mobil ponselnya berbunyi, "+65? dari singapura? siapa ya?" hail mengerutkan keningnya. Dia pun menggeser tombol hijau, "iya halo"


"hallo il where are you (halo il dimana kamu)?" suaranya seperti seorang wanita. Hail berpikir keras siapa wanita itu


"who are you?" (siapa ya) wanita itu lantas menjawab


"i'm zivanya"


"owhhh ziva how are you?" (owh ziva apa kabar)


Hail masih duduk dibalik kemudi zivanya menjawab pertanyaan habil, "i'm fine il... now i'm in jakarta. You dont wanna see me?" (aku baik il... sekarang aku dijakrta. tidakkah kamu mau menemuiku?"


"what are you doing in jakarta?" (apa uang sedang kamu lakukan dijakarta) hail terkejut karena 3 tahun berlalu dan baru ini dia mendengar kabar zivanya temannya saat kuliah disingapura.


"i have little bit bussiness here (saya ada sedikit urusan disini). I want to see you before i go back to singapore can or not (aku ingin bertemu denganmu sebelum pulang kesingapura bisa atau ga)" Habil yerdiam sejenak tampak berpikir. Sebenarnya dia enggan untuk bertemu dengan zivanya tapi karena dia ingin menghargai zivanya dia pun mengiyakan.


"can... when you want to see me?" (boleh kapan kamu mau bertemu denganku)


"tobight can? coz tomorrow morning i need to go"


"ok" hail memutuskan sambungan teleponnya setelah membuat janji temu malam ini dengan zivanya. Hail segera beranjak kekantor untuk melaporkan hasil meeting dengan abangnya.


***


"biii..." maria memanggil hasybi yang sedang berjalan sendiri dilorong rumah sakit tempat hasybi praktek.


Hasybi berbalik, "ada apa?" dengan wajah datarnya hasybi menjawab.


Maria tersenyum, "bi... boleh kan kalau kita berteman" maria memverikan sekotak cheese cake pada hasybi. Hasybi tak menggubris ucapan maria dia langsung beranjak dari sana.


"bi..." maria mencegat hasybi


"dont disturb me" wajah hasybi terlihat serius tatapannya terlihat sangat tajam membuat maria menciut dan minggir dari hadapan hasybi.


"kenapa?" saat hasybi melewati maria, maria bertanya pada hasybi.


Hasybi menghentikan langkahnya menoleh pada maria. Wajah gadis itu pias terlihat keputus asaan diwajahnya. Maria sudah hampir 5 tahun menyukai hasybi. Namun lelaki itu masih saja dingin padanya.


"ga ada yang meminta kamu menyukai aku" jawab hasybi ketus.


"hati aku ga bisa memilih dengan siapa aku menyukai seseorang bi. Seenggaknya kamu bisa jadi temanku aku udah seneng bi"


Hasybi mendekat pada maria, "dengan aku menerima kamu sebagai temanku sama saja aku membuka peluang untuk kamu. Aku ga mau kamu berharap sesuatu yang kosong" hasbi berbalik hendak meninggalkan maria namun maria menarik lengan hasybi.


"ga adakah sedikit ja kesempatan buat aku bi?" maria masih belum menyerah.


"baby..." suara joana terdengar memanggil hasybi. Hasybi menoleh mendapati joana sedang mendekat ke arahnya. Hasybi menarik tangan yang dipegang maria hingga terlepas.


"hati aku sudah ada pemiliknya maaf" hasybi membungkukkan tubuhnya berpamitan maria. Hasybi menghampiri joana.


Joana bertanya, "ada apa? siapa gadis itu?"


"namanya maria anak dosen pembimbing aku" jawab hasybi apa adanya yang diangguki joana. Joana menatap sebentar pada maria yang berdiri dibelakang hasybi.


"are you ok?" tanya joana pada hasybi sambil memegang wajah hasybi, joana ingin menegaskan pada maria jika hasybi adalah miliknya. Hasybi menganggukkan kepalanya kemudian menggandeng tangan joana pergi dari sana.


Maria menatap sinis pada mereka, tanpa banyak kata maria segera pergi dari sana.


"jo..."


"hmmm"


"2 tahun lagi aku pulang kejakarta setelah mendapat sertifikat spesialis" ucap hasybi saat berjalan disamping joana sambil menggenggam tangan gadis itu erat.


"iya aku usahakan dalam 2 tahun aku lulus kuliah dari sini biar kita bisa kejakarta sama2" joana tersenyum pada hasybi.


"jo... aku serius sama kamu tapi aku belum bicara sama ayah dan mama soal hubungan kita. Kamu masih bisa nunggu aku sedikit lagi?" hasybi menghentikan langkahnya menatap pada joana. Joana menganggukkan kepalanya.


"aku akan menunggu kamu sampai kapan pun" hasybi tersenyum lebar. Dia pun beranjak dari sana sambil menggandeng joana. Dia tak pedulikan tatapan orang pada mereka.


***


"hai il... dah lama nunggu?" hail sedang memainkan game sambil menunggu zivanya disebuah cafe.


"ga kok" hail menyudahi permainannya dan memasukkan ponsel ke dalam saku.


"il... aku langsung aja ya..." zivanya tanpa basa basi lagi berucap pada hail, "aku masih menyukai kamu... aku udah belajar agama islam dan aku juga udah masuk islam dari 2 tahun lalu. Apa aku ada kesempatan?" tanya zivanya sambil menatap lekat pada hail yang masih terdiam tak menjawab hail.


Hail hanya menghembuskan nafas menatap meja didepannya. Zivanya masih menunggu jawaban hail yang masih terdiam tanpa kata.


"zi... bukan aku menolak atau pun mengiyakan hanya saja aku belum siap untuk menjalin hubungan. Masih banyak yang harus aku kerjakan" Hail menatap serius pada zivanya. Hail tak mau memberikan harapan pada gadis cantik didepannya. Zivanya hanya terdiam membisu dia tak berkata apa2 lagi. Pupus harapannya untuk bisa bersama dengan lelaki pujaannya. Dia pun sudah diusir dari keluarganya karena memilih memeluk islam agama yang dianut hail. Tapi kini hail pun tak menginginkannya.


"baiklah terima kasih il..." Zivanya segera beranjak dari duduknya pamit meninggalkan hail. Hail hanya menganggukkan kepalanya ada rasa bersalah dalam hati hail saat zivanya meninggalkannya hail merasa tak tenang. Rasa bersalah menyelimuti dirinya.


"hail..." suara cio memanggil hail yang sedang berjalan ke arah parkir. Hail menoleh dengan makasnya hail menjawab, "ya"


"ngapain kamu kesini?" cio menoleh kekanan kekiri, "kamu sendirian?"


"bukan urusan kamu" hail langsung beranjak dari tempatnya ke arah mobil. Cio hanya diam saja melihat kepergian hail.


"lagi2 jutek hmmhh kapan sih kamu buka hatimu buat aku?" cio bergumam sendiri.