
Hari minggu ramai sekali dirumah nasya karena semua berkumpul disana, bahkan aqila dan ivan enggan pulang saat sore menjelang dan faiqa ibu mereka menjemput. Gibran dan alana pun betah sekali disana bahkan saat nenek dan kakeknya datang mereka enggan untuk pulang.
"udah sih mi, gpp besok anak-anak berangkat sekolah dari sini. Nanti biar nasya antar. Kebetulan nasya juga udah lama ga antar si kembar sekolah" ujar nasya saat merayu gibran dan alana untuk pulang.
"ya udah deh nanti mami suruh imah kesini untuk kirim pakaian. Mami mau nginep juga ah" ucap mami membuat nasya tersenyum senang.
"makasih mami dah mau nginep. Jarang-jarang mami sama papi bisa nginep" nasya berkata sambil memeluk leni
Araf baru saja turun dari ruang kerjanya yang berada dilantai 2. Tak seperti biasanya yang selalu sepi rumahnya terlihat ramai sekarang. Araf merasa senang apalagi ada orang tuanya. Semenjak zaki mengambil alih perusahaan orangtuanya lebih sering traveling menikmati waktu berdua. Mereka hanya akan pulang jika hana dan zaki ada keperluan diluar negeri atau luar kota dan tak bisa membawa anak-anak mereka.
"fai gimana kabar kamu sama danu?" tanya mami yang melihat faiqa selalu datang sendiri tanpa danu.
Dengan anggunnya faiqa menaruh gelas teh diatas meja setelah menyesapnya sedikit, "alhamdulillah kami baik mba" faiqa tersenyum senang
"sedih ga sih setiap waktu ditinggal suami?" mami bertanya dengan wajah serius.
"resiko sih mba nikah sama tentara" jawab faiqa sambil mengulum senyum
"padahal danu udah aku suruh untuk berhenti dan bekerja diperusahaan. Tapi dia masih kekeh jadi tentara" bayu berucap sambil memainkan rambut istrinya.
"aku malah bangga mas dengan suami aku. Selagi dia masih setia dan ga macam-macam hehehe" faiqa cengengesan dan disambut tawa semua yang ada disana.
"danu orangnya ga akan aneh-anehlah. Kita tau danu itu setianya seperti apa" ujar leni dan memegang tangan faiqa yang ada disofa sebelahnya.
"itu kenapa aku kejar dia bertahun-tahun tanpa lelah hahahah" canda faiqa yang disambut tawa riuh semua orang.
Araf melihat keceriaan keluarganya dia sangat senang melihat situasi ini. Sedang dikolam renang anak-anak juga merasa bahagia.
"eh ngomong-ngomong sikembar sebentar lagi lulus smu ya... rencananya mau kuliah dimana?" faiqa bertanya dengan araf dan nasya yang duduk berseberangan dengan orang tuanya dan berada disisi kiri faiqa.
"habil mau kuliah ditempat tante ngajar tuh, kalau hasybi maunya ke jerman ambil kedokteran, sedang hail mau jadi animator sekaligus ahli it. Tapi dia ambil disingapura yang deket katanya" annasya menjelaskan
"loh bukannya habil dapat beasiswa ke harvard sya?" tanya leni yang diangguki nasya
"habil ga mau ambil katanya lebih baik disini bisa dekat sekaligus menjaga kami" jawab araf
"wahhh bahagianya punya anak-anak yang jenius tapi tetap sayang orang tua" ujar faiqa
"alhamdulillah" jawab araf dan nasya kompak.
Faiqa juga bersyukur walaupun anak-anaknya jarang bertemu dengan ayahnya tapi mereka masih menjadi anak baik. Walaupun prestasi mereka tak secemerlang anak-anak nasya tapi setidaknya mereka termasuk dalam 5 besar murid berprestasi. Danu dan faiqa tak pernah membandingkan anak-anaknya dengan anak-anak nasya yang memang otaknya menurun dari nasya.
Dikolam renang
Alana menatap pada sikembar dia bergumam yang masih bisa terdengar oleh aqila, "pasti bahagia banget ya jadi triple h, otak cerdas, tampan, kaya dan populer. mengharumkan nama keluarga abinaya"
"iya lan kadang aku iri sama mereka bisa menjadi sangat cerdas bagaimana caranya" aqila pun ikut memuji pada sikembar.
"heemmm tante apalagi hail dia lebih sering tidur dikelas, sering buat ulah, tapi tetep aja otaknya ga ada yang ngalahin kalau bukan hasybi" alana masih menatap kepada sikembar begitu pula aqila
"andai sedikit aja otak mereka ada sama aku, mungkin ga ya ayah akan sangat bangga dan perhatian sama aku" terdengar nada sedih aqila yang sangat merindukan ayahnya.
Alana menatap aqila yang terlihat sedih disorot matanya. Dia sangat ingin mendapat kasih sayang ayahnya yng sibuk bekerja. Alana pun bergeser dekat aqila dan memeluk aqila, "jangan sedih tante opa pasti juga kangen tante tapi demi tugas dia pun harus berjauhan pasti dihatinya juga lebih sedih dari tante. Tante sama om ivan hrus banyak-banyak doain opa biar sehat terus dan kembali dengan selamat" bisik alana dipelukan aqila yang diangguki aqila.
Hail yang melihat 2 saudarinya berpelukan pun ingin menjahili karena hail merasa kalau aqila dan alana sedang berbagi rasa sedih. Dia pun usil dengan melempar kodok karet mainan yang selalu hail sembunyikan dikotak yang ada di area kolam renang. Diam-diam hail melempar kodok karet itu hingga membuat alana dan aqila menjerit dan tercebur ke kolam. Sontak hal tersebut membuat yang lain tertawa.
"hail....." teriak aqila dan alana bersamaan karena mereka sangat tau biang usil diantara mereka siapa lagi kalau bukan hail. Alana dan aqila pun naik dan mengejar hail. Hail berlari sambil mengejek mereka.
"ganteng sih tapi ngeselin!" gerutu aqila, alana yang kelelahan mengejar hail pun mengangguk mengiyakan.
"heran orang kaya hail kok bisa jadi playboy huh!" kesal aqila.
Kejadian itu tak luput dari perhatian orang tua mereka yang juga ikut tertawa dengan tingkah usil hail.
"hail masih aja suka usil ya sya hahaha" faiqa tertawa melihat anak-anak perempuan mengejar hail
"iya tante aku sampai pusing kalau dia udah buat ulah disekolah. Kalau dipanggil pihak sekolah aku mau mas araf aja yang datang. Aku capek juga dengerin ceramah guru mereka" sepetinya nasya sedang curhat pikir faiqa yang menyambut dengan tawa ucapan nasya.
"ngikutin siapa ya tingkah dia bisa begitu" faiqa menggelengkan kepalanya.
"tuh" tunjuk leni dengn dagunya ke arah araf.
"emangnya araf dulu sekolah begitu?" tanya faiqa yang menoleh ke arah araf
"bukan main fai, doyan berantem, playboy, aduhhh pusing tante sama banget kelakuannya sama hail. cuma bedanya hail anak yang cerdas dan berprestasi. Makanya aku nikahin aja sama nasya biar bisa tobat"
Faiqa dan bayu tertawa mendengar penuturan leni begitu pun nasya sedang araf malu.
"tapi sekarang kan ga mi, nanti juga hail akan sadar seiring berjalannya waktu. Yang penting hail ga sampai melewati batas" terang araf yang diangguki mereka semua
"mas araf selalu mengontrol anak-anak walaupun dia sangat sibuk. Alhmdulillah aku bangga punya suami yang luar biasa bertanggung jawab" nasya memuji suaminya.
"makasih sayang" araf tersenyum senang membuat semua orang iri melihat romantisnya mereka terutama faiqa