Triple Story

Triple Story
bab 82



Pagi hari pukul 8 hail telah sampai dijakarta tanpa membuang waktu hail langsung beranjak ke hotel tempat rilley menginap. Dia tak segera pulang kerumah agar misinya segera selesai. Besok dia tak akan ada waktu lagi karena besok adalah hari pernikahan hasybi.


Hail sampai disebuah hotel yang dekat dengan kantor arcmedia tempat dulu dia pernah tinggal. Hail langsung masuk dan bertanya mengenai tamu yang bernama rilley. Benar dugaannya jika rilley tinggal disana. Dia pun meminta resepsionist hotel untuk menghubungi rilley. Hail menunggu rilley dilobby dia duduk sambil memainkan ponselnya.


"habil..." rilley menyangka jika lelaki yang duduk didepannya adalah habil karena memang mereka sikembar 3 benar2 identik. Yang membedakan hanya habil lebih rapi, hasybi memakai kacamata yang tebal sedang hail berpenampilan badboy. Kali ini hail berpakaian rapi itu kenapa rilley menyangka jika itu adalah habil. Hail tersenyum melihat rilley.


"akhirnya ketemu juga lu"


"ahhh ternyata lu il..." rilley duduk disofa samping hail dengan lemas. Dia mengira jika itu adalah habil. Setelah mendengar suaranya ternyata bukan. Suara habil bariton sedangkan hail lebih terdengar kekanak2an.


"kenapa kecewa ya" tanya hail sambil menyandarkan duduknya disofa dengn senyum mengejek.


"jujur iya" jawab rilley malas.


"2 hari lalu gue ke rusia nyari lu ternyata lu udah ga disana"


"kenapa lu nyari gue?" tanya rilley heran.


Hail memandang rilley sekilas kemudian memalingkan wajahnya dengan sengum miring, "hah... males gue sebenernya liat drama kalian"


"maksudnya?" rilley bertanya dengan heran


"kalau gue jadi bang habil gue pasti akan cari perempuan lain daripada mikirin lu yang ga jelas hahaha"


"ga lucu!" geram rilley


"ok gue serius" hail membenarkan duduknya menghadap ke arah rilley, "rill abang gue jadi kaya bukan abang gue. Dia kelihatan frustasi dengan perasaan dia. Ril abang gue sayang sama lu gue ga pernah liat abang gue kaya gini. Dia sempat jatuh sakit sekarang pun dia jadi gila kerja"


"lu pikir gue ga sedih" rilley menatap ke arah lain airmatanya hampir menetes


"abang gue ga bisa ikut lu ke rusia apa lu ga bisa disini aja?"


"gue pun ga akan mau tinggal disana dengan atau tanpa menikah dengan habil il. Dulu gue ikut bokap gue karena nyokap gue ga ada dan gue ga mau dijual sama bokap tiri gue. Gue mau dijakarta bukan hanya karena cinta gue ke habil tapi juga karena gue pengen nyari keberadaan nyokap gue" rilley tertunduk menjelaskan perasaannya pada hail.


"berarti sebenarnua kalin ga ada masalah kan?" tanya hail heran dia mengkerutkan dahinya


"semuanya salah paham il, bokap gue salah paham dia pikir gue gila karena cinta gue ke habil sampai tega mau ninggalin dia. Sedang habil salah paham dia ga mau gue ninggalin bokap gue karena dia ga mau sampai gue durhaka. Mereka ga ada yang mau dengerin penjelasan gue. Apalagi abang lu udah ga pernah ngerespon chat maupun telepon dari gue"


Hail melihat ke arah rilley matanya penuh kesedihan. Apalagi saat membicarakan tentang habil binarnya redup seperti tak ada sinar.


Hail merogoh tasnya dia keluarkan undangan dari dalam tasnya, "rill gue ga tau ini bakalan ngebantu atau ga. Gue pikir ini kesempatan bagus untuk lu ketemu abanh gue"


Rilley melihat undangan itu membaca dengan seksama, "hasybi mau nikah sama joana? masya Allah akhirnya keinginan joana terkabul" rilley tersenyum melihat undangan ditangannya, "makasih ya il gue usahain besok dateng"


***


Habil, hasybi dan hail berkumpul di kamar hail. Hasybi menepuk pundak adiknya, "il... gue hampir gila nyariin lu. Gue pikir lu ngilang karena disuruh abang hampir gue su'udzon ama dia" hail tertawa mendengar ocehan hasybi abang yang dulu sangat pendiam kini menjadi lebih banyak bicara semenjak berpacaran dengan joana. Joana benar2 merubah hasybi menjadi orang yang lebih baik.


"gue pasti dateng lah bang masa ga datang dipernikahan abang gue sendiri. Congrats ya bang doa gue yang baik aja buat lu" hail menepuk pundak abangnya dengn lembut.


"emangnya lu kemana aja selama ini il?" habil bertanya setelah menggak air dibotol. Yang ditanya tak menjawab dia hanya tersenyum saja membuat hasybi dan habil saling tatap.


***


Pukul 8 pagi persiapan pernikahan sudah rapi, Keluarga araf sudah bersiap untuk berangkat kerumah joana. Setelah pengantin pria siap semua rombongan bergerak kerumah orangtua joana yang tak jauh dari rumah araf.


Rilley datang disaat ijab kabul sedang berlangsung, dia terlihat anggun dengan mengenakan dress panjang dengan leher berbentuk V dan lengan panjang yang berbelahan sepanjang pundak hingga pergelangan tangannya dress itu berwarna salem.


Selesai ijab kabul para tamu undangan memberi selamat kepada pengantin tibalah saatnya rilley menyalami pengantin betapa terkejut habil yang sedang duduk berkumpul dengan keluarganya dia langsung berdiri begitu melihay rilley.


Setelah bersalman rilley segera menghampiri nasya, araf dan keluarganya hanya untuk berbasa basi karena dia sudah mengenal araf dan nasya.


"bil bisa kita bicara?" tanpa menjawab habil segera menarik rilley dari tempat ramai itu dan membawa rilley ke sebuah taman belakang rumah joana.


"rill kenapa kamu ada disini?" suara habil tercekat


"selain karena aku rindu kamu aku mau cari mama aku"


Habil tak bisa berkata apa2 lagi. Ingin rasanya dia memeluk wanita yang sangat dirindukannya ini. Tapi habil tak akan melakukannya karena rilley bukan apa2nya.


"bil..." rilley menunduk, "kamu tau ga? aku begitu merindukan kamu sampai sesak rasanya. Seandainya Allah kasih kesempatan untuk kamu mengetahui hati aku, aku pengen kamu tau seberapa besar rasa cinta aku untuk kamu"


"rill"


"hati aku yang mencintai kamu bukan kehendak aku memilih, tapi memiliki kamu bukan kuasaku" rilley menangis.


"aku akan ke rusia untuk melamar kamu. Terlepas dari nanti aku ditolak sama ayahmu kamu masih mau nikah sama aku?" habil memegang pundak rilley. Rilley mengangguk senang.


"aku mau bil"


"kalau gitu besok kamu kembali ke rusia sama aku ya. Kita minta restu ayah kamu"


"iya bil... makasih"


Tanpa mereka sadari sedari tadi hail, alana, ivan, aqila dan gibran melihat mereka. Saat habil hendak memeluk rilley karena senangnya mereka segera keluar dari persembunyian.


"woiii.... woiii... tahan kalian ini belum halal" teriak mereka bersamaan membuat habil dan rilley terkejut.


"resek!" kesal habil sedang rilley tertunduk malu wajahnya yang putih terlihat merona merah.