
Jungkir balik kehidupan telah dirasakan nasya setelah menikah dengan araf. Dari mulai bahagia dan cinta yang terlampau berlebih ia rasakan sampai rasa sakit yang tertanam yang tak pernah bisa ia hilangkan dari hatinya walaupun kasih sayang dan cinta bertubi dia rasakan. Sebenarnya araf tak pernah benar-benar berselingkuh dengan erika. Dia hanya menolong erika yang membutuhkan pertolongannya namun erika yang salah paham hingga membuat nasya terluka.
Annasya tak pernah memiliki dendam pada orang lain, dia pun tak pernah benar-benar membenci orang lain. Perkara erika yang tak pernah bisa ia lupakan adalah karena araf tak pernah membicarakan sejak awal yang sebenarnya terjadi. Mungkin jika araf bicara nasya akan lebih bisa menerima tanpa luka.
Nasya sudah dipindahkan keruang rawat inap, leni dan bayu masih tertidur saat nasya tersadar dari tidur panjangnya selama 2 hari. Dia tak melihat araf, dia hanya melihat habil yang sedang menunaikan shalat subuh bersama hail. Tersungging senyum dibibir nasya melihat anak-anaknya yang rukun dan saling menyayangi.
Habil dan hail mengucap salam setelah rakaat terakhir, tak lama pintu kamar terbuka dari ekor matanya dia melihat araf masuk dengan membawa bungkusan seperti makanan. Nasya pura-pura tertidur lagi karena dia masih enggan untuk melihat araf. Habil dan hail bangkit menyalami ayahnya. Habil masih bersikap dingin pada araf dia selalu menghindari tatapan mata araf. Juga menghindar untuk ngobrol bersama araf. Araf sangat memahami jika habil belum bisa menerima keadaan ini.
Saat sarapan bersama leni berucap, "mami ga mau tau raf kamu harus pecat erika. Sudah cukup kekacauan ini dibuat" sinis leni.
"iya mi" jawab araf singkat
"bagaimana kamu akan menjelaskan keadaan nasya?" kali ini bayu berucap tanpa menoleh sedikit pun pada araf.
araf, "...."
"kasihan nasya sangat ingin memiliki seorang anak perempuan tapi kali ini dia harus merelakan anaknya meninggal dan rahimnya diangkat hiks..." leni menangis disela-sela makannya.
Nasya yang mendengar ucapan leni merasa shock bukan main. Dia kehilangan janinnya juga rahimnya? nasya meneteskan airmata dalam mata tertutup. Untung saja semua sedang saraoan hingga tak menyadari tangisan nasya dalam diamnya.
"ssstttt, kamu jangan bicara keras-keras nanti nasya dengar dia shock lagi" ujar bayu memperingatkan.
"pagi ini hail berangkat kesingapura, nanti jumat malam hail kembali lagi. Setelah kepergian hail, hail titip mama sama kalian. Terutama ayah hail mohon jangan lagi sakiti mama" hail menatap tajam pada ayahnya yang dibalas tatapan sendu dan lelah dari araf.
"ini sudah takdir ga ada gunanya menyalahkan ayah terus menerus. Kita harus terima dan berlapang dada setelah mama siuman berusahalah membuat mama tak terlalu merasa kehilangan. Mama hanya punya kita" ucapan habil kali ini benar-benar menusuk sanubari araf. Setelahnya mereka semua terdiam dan menyuap makanan masing-masing.
Pukul 7 pagi hail mencium kening ibunya hendak berpamitan pada nasya yang dikiranya masih belum sadar. Walaupun nasya tau anaknya hendak pergi dia masih enggan membuka matanya.
"ma... cepat sembuh ya. Hail kangen pelukan mama. Ma.. hail kembali lagi jumat malam setelah jam kuliah hail selesai" hail mencium telapak tangan nasya yang diberikan jarum infus.
Setelah berpamitan pada ibunya hail kekamar inara. Inara sudah mulai sadar tapi dia lebih banyak melamun dan tak bisa diajak bicara. Pandangan matanya kosong seperti orang yang mengalami trauma sangat dalam. Hail mendekat pada inara yang duduk diranjang pasien dengan tatapan mata kosong, "bu... hail pamit ya.. nanti hail kembali lagi jumat sore. Hail harap ibu lekas sembuh supaya hail bisa ajak ibu jalan, nonton dan belajar lagi. Hail kangen ibu" hail mencium tangan inara yang masih tetap diam tak bergeming dari tempatnya. Hilman yang menyaksikan merasa sesak dan menangis melihatnya.
Hail diantar kebandara oleh araf karena habil harus kuliah pagi-pagi. Leni dan bayu menunggu nasya sampai araf kembali setelahnya.
"yah... tolong jangan buat mama menderita kalau ayah ga sanggup untuk menjaga mama hail akan bawa mama kesingapura. Kami sudah besar yah kami bisa menjaga mama tanpa ayah" araf tercengang mendengar ucapan hail. Araf menunduk meremas kaleng minuman soda ditangannya.
"hanya orang bodoh yang terjerumus kelubang yang sama yah. Hail harap ayah bisa memahami pepatah ini" hail beranjak dari ruang tunggu menuju imigrasi tanpa menoleh pada ayahnya.
Araf merasa bersalah pada nasya sepanjang jalan araf terus melamun memikirkan tindakan bodohnya. Hampir saja dia terserempet mobil lain hingga araf memaksa untuk menepikan mobilnya. Araf menangis menyesali perbuatannya. Dia meraih ponselnya dan menelepon daffa, "assalamu'alaikum daf"
"....."
"..."
"ok gue tunggu kabar lo secepatnya"
Baru saja araf menutup ponselnya, leni menelepon araf, "ya mi ada apa?" tanya araf
"raf... nasya menghilang" suara leni terdengar panik. Araf pun terkejut bukan main.
"nasya udah sadar mi?"
"iya raf. Tadi mami lagi ketoilet sebentar sedang papi kamu berangkat kekantor setelah ditelepon asistennya masalah perusahaan" leni mulai menangis.
"mami tenang dulu ya... mama minta tolong suster dan para perawat juga security untuk mencari keberadaan nasya disekitar rumah sakit"
"iya raf"
Araf mengemudikan mobilnya kearah rumah sakit namun belum masuk area rumah sakit araf mendapat telepon dari billy asistennya untuk datang kekantor karena ada hal penting yang tak bisa diwakilkan oleh daffa. Araf pun berbalik dan berjalan kearah kantor. Dia menelepon ibunya mengabari tak bisa datang secepatnya karena ada masalah dengan perusahaan.
Sesampainya dikantor araf langsung keruangannya, billy memberikan dokumen yang harus dilihat oleh araf, "pak ini adalah contoh aplikasi yang dibuat oleh perusahaan pesaing kita. Bapak bisa lihat ini adalah aplikasi yang kita buat untuk perusahaan yang menandatangi kerjasama kita bulan lalu" billy menjelaskan.
"kok bisa bocor?" tanya araf heran
"kami sering mendapati ini selama 3 tahun belakangan. Kami pun menyelidiki ini bersama pak david dan mendapati (billy membuka file selanjutnya) bu erika dalang dibalik kebocoran ini"
Araf terlihat tak terkejut karena dia sudah mengantisipasi ini sebelumnya. Sekali pengkhianat tetap aja pengkhianat pikir araf.
"kita harus segera pecat dia" perintah araf tatapan matanya terlihat dingin.
"kami sudah melayangkan surat pemecatannya pak hari ini beliau mengemasi barangngnya"
"sebelum pergi pastikan dia tak mencuri apapun periksa dengan teliti"
Billy membungkukkan badanya saat araf hendak pergi.
brakkk....
pintu ruangan araf terbuka dengan kasar masuklah erika