
Hail berjalan menyusuri trotoar mencari sebuah alamat dipinggiran kota moscow rusia. Sudah 2 hari dia menghilang dari jakarta tak ada yang mengetahui kepergiannya bahkan seorang hasybi yang teliti tak menyadari kepergian adiknya. Padahal kurang dari seminggu dia akan menikah. Hail tak beristirahat setelah sampai dia langsung mencari alamat rumah yabg sufah dia cari sebelum kedatngannya. Sampailah ia disebuah rumah kayu dekat sebuah danau dipinggiran kota moscow rusia. Dia mengetuk pintu berulang x keluarlah seorang wanita setengah baya berambut coklat. Wajahnya tirus dengan banyak bintik disekitar pipi dan hidungnya.
"YA mogu chem-nibud' pomoch' (ada yang bisa saya bantu?" sapa seorang wanita yang berdiri menjulang didepan hail. Wanita yang lebih tinggi dari hail itu melihat hail dari atas sampai bawah.
Karena hail tak paham bahasa rusia dia langsung mengenalkan dirinya dalam bahasa inggris, "hai mam, let me introduce you my name hail, i come from indonesia. i am rilleys friend" (hai nyonya izinkan saya perkenalkan diri saya nama saya hail, saya berasal dari indonesia. Say adalah teman rilley)
Entahlah hail merasa benar atau tidak dalam perkenalan dirinya dia tak begitu paham dengan tradisi rusia yang dia lihat dari kedatangannya orang2 yang berwajah kaku tak ada senyum. Wanita yang ada didepan hail pun terlihat tak ada senyum. Bahkan melihat hail dari atas sampai bawah.
"you say you are rilleys friend but you dont know if rilley left the house?" Wanita itu berteriak didepan hail. Dia seperti menumpahkan kemarahannya pada hail. Hail hanya diam saja. Dia shock bukan main dibentak orang asing di negara asing.
"i'm sorry mam i don't know" hail menunduk sebentar. Wanita itu pun berteriak dengan bahasa rusia yang tidak dipahami hail agar hail segera pergi dari sana. Dengan kasarnya wanita tersebut juga menutup pintu. Hail menghela nafas dalam2. Perjalanannya jauh2 dari jakarta ke rusia sia2 karena orang yang dia cari sudah pergi dari rumah.
Hail berjalan lagi menyusuri jalanan moscow. Dia duduk dibangku pinggir jalan sambil meneguk sebotol air mineral. Hail menatap kedepan jalanan, "hah... bang maaf gue gagal bertemu rilley. Gue akan terus berusaha lebih keras lagi mencari rilley setelah pernikahan bang hasybi huffhhh"
Hail tak mengulur waktu lagi dia segera menyetop taxi dia segera beranjak ke bandara domodedovo agar dia bisa langsung pulang ke jakarta. Hail nyaris belum beristirahat dia hanya tidur didalam pesawat. Beruntung aplikasi membantunya menemukan alamat yang dia cari dengan cepat.
Hail menatap jalanan diluar jendela taxi, rasanya sangat berbeda dengan saat dia disingapura dulu. Bangunan2nya terlihat sangat cantik. Jika singapura sangat modern maka dirusia sangat menjunjung tinggi seni. Karena arsitektur bangunannya benar2 terlihat seninya. Bentuk2 yang cantik dan khas membuatnya tak bosan dipandang mata. Hail terpukau dengan bangunan disana.
45 menit kemudian hail sudah sampai dibandara setelah membayar uang ongkos taxi hail segera checking ke kelas bussiness. Saat dia di vip lounge dia segera membuka smartphonenya. Banyak pesan masuk terutama dari hasybi dan ayahnya. Habil? sepertinya dia sangat sibuk hingga tak ada pesan 1 pun dari dia. Setelah membalas seperlunya dia berselancar lagi dengan smartphonenya untuk mencari keberadaan rilley.
Dia mencari tau sampai ke imigrasi bandara dia mencari tau apa rilley pergi keluar negeri. Dia terkejut karena hari ini dia baru sampai jakarta, "ahhh kalah start gue kenapa ga kepikiran sih gue!" kesal hail.
Hail segera menutup ponselnya keluar dari aplikasi. 2 jam kemudian pesawat yang akan dinaiki hail akan segera lepas landas. 17-18 jam perjalanan akan hail tempuh untuk sampai dijakarta. Sesampainya dijakarta hail akan segera mencari keberadaan rilley.
***
Habil baru pulang sekitar pukul 11 malam saat itu hasybi sengaja tak tidur untuk menunggunya. Mendengar mobil habil datang hasybi langsung bangkit dari rebahannya dan mendekati abangnya yang berjalan dengan tegap.
"bang... abang..." hasybi berlari ke arah abangnya membuat habil terkejut. Kepala rumah tangga mengambil jas dan tas habil dan seorang maid memberikan segelas air mineral pada habil. Habil duduk dan meneguk segelas air.
"ada apa kok kayaknya mendesak gitu?" tanya habil heran karena tak biasanya hasybi bersikap seperti itu.
"abang ngerasa ga sih kalau hail udah ngilang selama 3 hari?" tanya hasybi serius. Habil langsung menatap hasybi dengan pndangan serius.
"masa sih?"
"abang terlalu sibuk ama kerjaan" keluh hasybi
"gue malah ngiranya lu kasih dia tugas keluar kota atau keluar negeri. Hampir aja gue su'udzon sama lu"
"dia sempet bilang sama gue mau hiatus dulu supaya bisa konsentrasi bikin aplikasi baru. Gue pikir ya dia didalam kamar aja semedi"
"ga ada bang dikamarnya, tiap pagi sarapan ga pernah nongol bahkan makan malam juga ga ada. Gue tanya pra maid terakhir mereka lihat 3 hari lalu dia pergi bawa tas punggung sama pakai mantel"
"lu udah hubungi dia?"
"gue udah telepon berkali2 diluar jangkauan terus. Gue juga banyak kirim pesan ke wa sama email dia"
"masih belum dapat balasan?"
"tadi sih udah bang katanya dia lagi memcari inspirasi"
"kalau sampai lusa dia belum balik juga nanti gue cari kemana tuh anak"
Hasybi mengangguk mendengar ucapan habil, "bentar lagi gue mau nikah. Gue cuma mau semua keluarga gue kumpul bang" ucap hasybi lemah.
Habil menepuk pundak adiknya, "tenang hail pasti datang jangan terlalu banyak berpikir"
Hasybi hanya menarik nafas mendengar ucapan abangnya. Habil paham dengan perasaan hasybi tapi dia juga tak tau bagaimana menghibur adiknya yang sedang gundah.
"bi... banyak berdoa agar pernikahan kamu lancar tanpa kendala. Untuk yang lain jangan terlalu dipikirkan. Hail pasti hadir" hasybi menatap abangnya dengan lekat. Gurat wajah lelah habil membuat hasybi merasa bersalah karena dia merasa dirinya egois. Hasybj hanha meresahkan tentang pernikahannya tanpa tau bagaimana lelahnya habil menghadapi perusahaan, keluarga dan hatinya yang sedang hancur karena hubungannya dengan rilley tak berjalan lancar.
Hasybi memeluk habil erat, "bang maafin gue yang egois cuma mikirn diri sendiri tanpa mau tau bagaimana perasaan lu"
"ga ada yang perlu dimaafin i'm ok" ucap habil
Hasybi melepas pelukannya pada habil melihat wajah abangnya yang tirus terlihat semakin kurus dengan tatapan mata mata sayu seperti sangat lelah.
"bang seandainya ada yang bisa gue bantu bilang ke gue ya jangan lu panggul sendiri beban lu"
Habil hanya tersenyum mendapati ucapan adiknya. Dia merenggangkan dasinya dan pamit pada hasybi untuk naim ke atas kekamarnya.