
Sebulan telah berlalu sejak kepergian anak-anaknya. Annasya sebenarnya merasa kesepian terlebih saat habil berangkat kuliah dan suaminya pergi bekerja. Dia sering pergi kerumah hana namun kini hana sendiri lebih sering ikut zaki keluar kota anak-anaknya sibuk dengan sekolah dan les macam-macam. Faiqa? terlebih dia adalah wanita yang super sibuk selain sebagai dosen dia juga sibuk dengan urusan ibu-ibu persit. Anak-anaknya lebih sering berada di rumah orangtua faiqa yang sudah pensiun.
Nasya sendirian duduk diayunan tepi kolam dia memandang taman bunga indah didepannya. Sambil mengelus perut buncitnya dia bergumam, "bahagianya kalau kamu udah lahir mama ga akan merasa kesepian lagi sayang. Kita bisa main ditaman bunga itu sambil mengajarkan kamu berjalan" nasya tersenyum ke arah perut buncitnya. Tiba-tiba nasya merasa ingin makan bakso dekat tempat kuliahnya dulu. Dia pun meminta supir untuk mengantarnya karena araf selalu melarang dia membawa mobil sendiri.
Sebelum pergi dia mengirim pesan pada suaminya.
imamku:
mas aku lagi pengen makan bakso didekat tempat kuliah aku dulu
tak sampai 10 menit araf membalas
araf:
iya sayang ingat jangan sendirian harus diantar supir
nasya:
iya mas
Setelah berganti pakaian dan memakai cadar nasya segera beranjak ke kampusnya dulu hanya untuk makan bakso. 15 menit perjalanan karena tidak macet nasya segera turun setelah supir memarkirkan mobilnya.
"bapak mau tunggu dimobil apa ikut saya makan?" tanya nasya pada supirnya.
"maaf bu saya ga ikut ya, saya udah makan tadi" jawab si supir dengan hormat.
"owh ya udah saya makan dulu ya nanti kalau udah selesai saya kesini" pamit nasya pada supirnya.
"iya bu" jawab sisupir
Nasya memesan bakso seporsi bakso jumbo. Nasya menghabiskan 2 mangkok bakso dan 3 botol teh kemasan. Dia merasa cukup setelah membayar nasya segera keluar dari warung bakso. Namun saat nasya keluar dia bingung hendak kemana. Dia lupa dimana supirnya memarkir mobil. Nasya terus berjalan tanpa arah menoleh kesana kemari. Hingga dia merasa lelah dia terduduk ditengah trotoar sambil memegang kepalanya yang mulai merasa pusing. Nasya sudah berjalan jauh dari tempat dia memakan bakso. Orang lalu lalang memperhatikan nasya hingga ada seorang security kampus melihat kearah nasya dan menghampiri nasya.
"ibu gapapa?" tanya seorang security yang melihat nasya seperti orang bingung.
"saya... saya... dimana ya pak?" tanya nasya dengan tatapan sedih. Security tersebut merasa heran dia tak bisa mengenal wajah perempuan didepannya karena memakai cadar.
"mari bu ikut saya ke pos nanti biar saya cari bantu keluarga ibu" security itu memegang lengan nasya. Saat nasya hendak berdiri, habil menghampiri seorang security. Dia mengenal pakaian dan tas yang nasya pakai.
"mama..." panggil habil setelah dekat.
"habil" nasya tersenyum dibalik cadarnya.
"anak kenal ibu ini?" tanya security pada pemuda didepannya.
"iya pak dia ibu saya, terima kasih ya pak atas bantuannya" habil membungkukkan badannya.
"iya nak kalau gitu bapak tinggal dulu permisi"
"ma..." hail menggenggam erat tangan ibunya sambil berjalan, "mama kesini sama siapa?"
"sama supir" jawab nasya dengan menatap kedepan jalan. Habil langsung menelepon supir untuk menjemput mereka dihalte kampus.
Beruntung araf mengirim pesan pada habil jika ibunya ingin makan bakso dikampus tempat nasya kuliah dulu. Habil langsung mengecek gps diponsel nasya dan melihat posisi nasya dikampus kedokteran. Saat habil sedang berlari mencari kesana kemari dia melihat nasya sedang dipapah oleh security. Semenjak nasya menjadi pelupa habil berinisiatif memasang gps diponsel nasya.
"ma..." panggil habil lembut
"hmmm" nasya menatap pada anak sulungnya
"lain kali kalau mau makan sesuatu telepon aku aja ya nanti aku bawain" ucap habil sambil mencium lembut tangan ibunya. Dihalte banyak sekali orang lalu lalang karena mereka tidak melihat wajah nasya mereka menduga jika habik sedang bermesraan dengan pacarnya. Padahal itu adalah ibunya, emang netizen suka menduga-duga oopppsss ðŸ¤.
"emang tadi mama makan apa? mama aja masih lapar rasanya" jawab nasya tanpa merasa bersalah. Habil tersenyum sendiri mendengar jawaban ibunya.
"ya udah mama mau makan apa? kita cari yuk" ajak habil tapi nasya menggelengkan kepalanya.
"kenapa ma?"
"mama pengen pulang rasanya kaki mama sakit bil" ucap nasya sambil memukul pelan pahanya.
Pak agus turun dari mobil saat mereka sedang berbincang dihalte, "maaf den bapak ga tau kalau ibu udah selesai"
"gapapa pak agus. Lain kali bapak kalau antar ibu saya ikuti sampai tempat ya pak jangan meleng" habil memperingati supirnya dengan hati-hati.
"iya den maaf" jawab pak agus menunduk menyesal.
"kamu apa-apaan sih bil, mama bukan anak kecil jangan seperti itu" nasya menggerutu kemudian masuk kedalam mobil. Habil mencium tangan ibunya setelah menutup pintu mobil si supir berpamitan dan melajukan mobilnya dengan hati-hati.
Setelah kepergian ibunya habil menelepon ayahnya, "halo yah..."
"iya bil gimana udah ketemu?" tanya araf pada anaknya sambil merwnggangkan dasi dilehernya.
"udah yah..." jawab habil
"alhamdulillah" ucap araf terdengar menghembuskan nafas setelahnya.
"yah..."
"ya"
"apa ga lebih baik mama kuta periksakan kedokter?" tanya habil pada ayahnya. Dia sangat khawatir dengan kondisi nasya belakangan ini yang sangat berbeda dengan nasya yang biasanya selalu ingat bahkan pada hal kecil sekalipun.
"ayah udah konsultasikan dengan dokter, sekarang mama sedang hamil jadi dia ga bisa melakukan mri atau ct scan kita tunggu sampai mama melahirkan. Untuk sekarang kita hanya bisa memantau mama. Berusaha menjaga dia jangan sampai stress" ucap araf menjelaskan pada anaknya.
"dokter ada diagnosa apa yah?" tanya habil lagi
"baru perkiraan karena belum ada pemeriksaan lebih lanjut, mama demensia bil. Tapi setelah melahirkan mama akan mengikuti pemeriksaan lebih lanjut. Semoga aja hanya karena hormon ibu hamil karena dulu saat hamil kalian mama juga pelupa walaupun tak separah ini. Setelah melahirkan mama kembali seperti semula"
"semoga seperti itu ya yah. Habil ga bisa membayangkan yah kalau mama benar-benar demensia" habil memijit kepalanya. Dia merasa sedih mendengar ucapan ayahnya.
"udah jangan dipikirkan sekarang kamu kembali kekampus. Ayah harap kamu bisa lulus dengan cepat agar ayah bisa mengurus sendiri ibumu. Ayah merasa bersalah dengan kondisi ibumu sekarang"
"habil usahakan yah" jawab habil pelan. Habil mendongak ke atas dia menghela nafas matanya mulai merah, "ya Allah sehatkanlah mama" habil menitikkan airmata. Dia terisak pelan agar tak ada yang melihatnya.