Triple Story

Triple Story
bab 78



Hail terkejut mendapati balasan dari zivanya dia terdiam menatap ponselnya sejenak. Lama tak membalas pesan zivanya, menggigiti kukunya karena merasa gugup. Entah apa yang membuatnya merasa gugup bahkan saat dia dulu wisuda ataupun sidang skripsi dia selalu percaya diri.


Lama tak membalas dia mendapat 1 pesan masuk dia buru2 membukanya disangkanya zivanya ternyata cio hail langsung tak bersemangat. Hail membaca pesan cio dengan malas.


Cio:


assalamu'alaikum hail gue cuma mau pamit sama lo karena besok w udah ga dijakarta lagi. Maaf kalau selama ini lu ngerasa terganggu dengan adanya gue. Gue cuma mau bilang ga tau kenapa gue susah buat move on dari lu. Gue suka sama lu dari dulu dari gue ketemu lu diperlombaan kimia waktu gue jadi asistennya hasybi. Saat kita menang lu dengan senyum cerah dan pakaian layaknya badboy memeluk hasybi memberi selamat. Yang gue takjub lagi saat lu bela habil dilapangan tanpa berpikir lu bakalan kena sanksi. Buat gue lu luar biasa il. Hail... *walaupun lu selalu sinis sama gue itu ga menghentikan hati gue untuk suka sama lu. Diam2 gue juga sering kesingapura hanya untuk melihat lu saat gue bener2 rindu sama lu.


Hail perasaan ini bukanlah omong kosong penantian lebih dari 7 tahun tapi gue masih ga bisa dapatin hati lu. Gue ngerasa mungkin udah saatnya gue menyerah karena memang perasaan ga bisa dipaksakan. Kalau dulu gue bersaing dengan bu inara gue masih percaya diri. Sekarang gue insecure saat saingan gue yang ternyata seorang mualaf yang masuk ponpes. Gue ga layak untuk bersaing dengan gadis baik akhlaknya seperti dia pandai masak pula. Gue bukan apa2 dibanding dia.


Maaf kalau pesan gue terlalu banyak. Terima kasih waktunya dah mau baca pesan gue ini. Semoga lu bahagia selalu il. Gue selalu berdoa untuk kesehatan dan kebahagiaan lu*


Assalamu'alaikum


Lagi2 hail terdiam setelah membaca pesan dari cio, dia merasa bersalah karena selalu kasar dan sinis terhadap cio. Tapi sampai kini dia juga belum bisa memberikan hatinya pada gadis itu. Entah apa yang membuatnya tak bisa membuka hati pada wanita. Semenjak kepergian inara hail nyaris tak pernah dekati wanita. Bahkan gadis2 yang sengaja mendekatinya tak pernah dia respon dengan baik. Jika dulu saat sekolah hail terkenal playboy namun saat kuliah dia terkenal sebagai lelaki kutub utara yang dingin dan sulit dicairkan walaupun pemanasan global (wait kok bisa nyambungnya kesana ya).


Hail duduk ditempat tidurnya dengan menyandarkan kepalanya di kepala kasur. Dia memejamkan matanya menghembuskan nafasnya berkali-kali, "sekarang bukan saatnya memikirkan mereka. Cio, zivanya jika sutu saat salah satu dari kalian ditakdirkan Allah untuk aku, aku akan terima. Tapi untik saat ini prioritasku adalah keluargaku. Semoga Allah berikan kalin kebahagiaan selalu" gumam hail.


Kemudian hail mulai berselancar dan mencari tau tentang rilley gadis blasteran yang disukai habil hingga habil sakit. Hail tau jika habil sangat memyukai rilley perasaan habil untuk gadis itu sangat dalam. Berbeda dengan saat dulu dia menyimpan rasa pada maya selama 3 tahun. Setelah jalan habil bahkan tak lagi mau bertemu dengan gadis itu.


Hail ingin membantu abangnya untuk mendapatkan kembali gadis itu.


tok... tok... tok...


"masuk" hail yang masih fokus dengan laptopnya tak memperhatikan siapa yang masuk kedalam kamarnya.


"masih sibuk il?" suara araf terdengar dekat, hail langsung mendongak


"ayah... ada apa yah?" hail langsung menggeser laptopnya kesampingnya dan mendatangi ayahnya.


"udah... udah... kamu duduk aja. Ayah cuma mau ngobrol sebentar sama kamu"


"soal apa yah?" tanya hail bingung tak biasanya ayahnya memdatangi kamarnya hanya untuk bicara. Bahkan nyaris araf tak pernah memasuki kamar anak2nya.


"apa kamu udah dapat alamat rilley di rusia?" araf memandang hail dengan serius.


"setelah pernikahan hasybi dilaksanakan ayah akan mendatangi keluarga rilley. Ayah tau habil sangat menyukai rilley. Selama ini ayah ga pernah melakukan tugas ayah sebagai orangtua dengan baik. Sekarang ayah hanya ingin membantu meraih kebahagiaan anak2 ayah" araf menerawang kauh matanya mematap langit2 kamar hail.


"ayah selama ini ayahlah yang berjuang agar kami mendapatkan kehidulan yang lebih dari kata layak. Ayah bekerja keras karena ayah menyayangi kami. Ayah dan mama selalu ingin memberikan yang terbaik. Terima kasih sudah bekerja keras menjadi orangtua kami" Hail memeluk ayahnya erat. Keluarlah bulir airmata dari pelupuk mata hail. Araf menepuk-nepuk pundak putranya.


"ayah minta tolong sama kamu cari alamat mereka dirusia ayah yang akan bicara pada orangtua rilley"


"iya yah" hail mengusap airmatanya begitu pun araf yang jadi terharu juga


"ya sudah ayah kembali kekamar dulu kasian mama kalau ditinggal terus" hail menganggukkan kepalanya.


***


Setelah habil merasa lebih baik dia mulai bekerja kembali. Dia kini menjadi pecandu kerja banyak yang harus dia lakukan. Dia bahkan nyaris tak mengurus dirinya sendiri. Makan sering terlambat, pola hidup tidak sehat. Habil menjadi lebih kurusan hanya dalam tempo 1 minggu. Padahal pernikahan hasybi sudah semakin dekat. Habil bahkan tak lagi ada waktu untuk menghubungi rilley. Mungkin inilah cara habil melupakan rilley.


Kelurganya terutama ayah dan adik2nya sangat prihatin melihat habil. Araf berpikir mungkin setelah pernikahan hasybi dia akan kerusia untuk menaklukan hati orangtua rilley demi kebahagiaan anaknya.


"bil..." araf memanggil habil yang baru pulang bekerja dijam 11 malam.


"ayah belum tidur?" habil melihat pada ayahny yang duduk dimeja bar sambil meminum segelas coke ditangannya, "malam2 jangan minum coke ya ga baik untuk kesehatan" habil meraih coke ditangan araf menggesernya menjauh.


"bagaimana dengan kamu?" habil menoleh pada ayahnya


"maksud ayah?" habil menatap tajam pada araf. Araf melihat ke arah putranya.


Araf meraba wajah tirus habil, "sakit hati ayah melihat kamu sangat bekerja keras demi keluarga sampai ga merhatiin kesehatan. Harusnya kamu masih bisa hang out sama temen2mu. Lihat kamu sampai kurus begini" wajah araf terlihat sangat sedih. Habil meraih tangan ayahnya mengusapnya dipipi habil.


"apa habil harus kurus dulu ya yah supaya ayah mengusap habil seperti ini. Habil butuh kehangatan tangan ayah" tanpa kata araf memeluk anaknya erat membelai rambut habil.


"maafkan ayah" isak araf dan habil bersamaan


"bukan salah ayah hanya habil aja yang pengen manja" ucap habil dengan memeluk erat ayahnya. Entah kenapa penatnya terasa lepas saat ayahnya membelai dan memeluknya dengan erat seperti ini seperti beban berat dipundaknya hilang seketika.