Triple Story

Triple Story
bab 69



Habil menyisiri rambut nasya yang panjang dan indah itu. Walaupun nasya kini sudah hampir total lupa segalanya tapi tubuh dan rambutnya selalu terawat. Araf dan anak-anaknya selalu mengutamakan kebersihan dan kesehatan nasya.


"ma.. malam ini habil pulang agak terlambat ya" habil berpamitan sambil menyisir rambut nasya.


"emang mau kemana bil?" araf mendekat pada mereka dengan mengusak rambutnya dengan handuk kecil.


"ngedate dong yah" ucap habil sambil tersenyum


Araf mendekat pada istrinya, "ma... anak kita dah mulai pacaran sebentar lagi kita mau punya menantu" araf pura2 berbisik. Habil tersenyum mencium pipi ibunya memeluk leher nasya dari belakang.


"walaupun gadis itu ga secantik mama, tapi in shaa Allah dia anak baik. Mama sama ayah juga udah pernah ketemu sama anak itu juga papanya"


"berarti kami udah kenal bil?" tanya araf yang diangguki habil.


"besok habil bawa kesini yah"


"ya..."


"pacaran ga ada dalam islam kalau kalian kalau udah saling cocok lebih baik menikah" habil dan araf saling pandang mendapati nasya berucap seperti itu tapi matanya menatap keluar jendela dengan kosong.


"doakan ya ma" habil mencium telapak tangan ibunya


****


"hallo bil...." rilley kaget dengan kedatangan sekretaris dan orang2 yang katanya diutus oleh habil. Dia pun menelepon habil mengkonfirmasi kebenarannya.


"ya rill..." sambil berjalan ke ruangannya sehabis meeting dia mengangkat teleponya


"ini kenapa kamu nyuruh orang untuk aku pakai gaun terus make up kita mau kemana emangnya?"


"aku mau ajak kamu ngedate rill. Jam 1 aku jemput" belum selesai rilley bicara habil memutuskan pembicaraan. Dia langsung keruangannya lekas menyelesaikan pekerjaannya. Rilley pun tanpa diajak bicara dia menurut saja.


Setelah shalat dzuhur habil bergegas menjemput rilley kehotelnya.


"aku dilobi cepat turun ya" habil menelepon rilley sesampainya dia dihotel. Rilley bergegas turun setelah memastikan semua rapi. Habil sedang duduk disofa saat sekretarisnya memanggil habil.


"tuan..." habil mendongak dia takjub melihat rilley yang biasa polos tanpa make up kini full make up. Habil menggelengkan kepalanya kemudian dia berdiri disamping rilley mensejajarkan dirinya. Habil tersenyum miring lalu menyilangkan sebelah tangannya agar rilley dapat menggandeng dia. Habil dan rilley berjalan menuju helena sekretaris habil yang berdiri didekat sofa tempat habil berdiri. Habil memandang sekretaris cantik didepannya yang sudah bekerja padanya dari semenjak dia ditugaskan mengambil alih perusahaan karena sekretaris ayahnya mengundurkan diri setelah melahirkan.


"terima kasih helena hari ini kamu dan jimmy bisa langsung pulang" ujar habil dengan memandang pada sekretarisnya yang menunduk didepannya.


"terima kasih tuan" ucap helena sambil membungkukkan tubuhnya.


Habil mengendarai mobil sendiri rilley duduk dengan tenang disamping habil. Dia memandang habil yang semakin tampan setelah beberapa tahun tak dilihatnya.


Habil menoleh pada rilley seketika rilley mengalihkan pandangannya kesamping jendela, "kenapa ngeliatin begitu?"


"eng.. engga siapa yang ngeliatin ge er" rilley salah tingkah dibuatnya.


"kamu lebih cantik kalau polos"


"eh..." rilley langsung menoleh pada habil dengan wajah bingung.


"aku bilang kamu lebih cantik kalau polos apa adanya seperti biasa bukan yang begini" ucap habil menegaskan


"lah kan kamu yang bikin aku jadi begini" rilley melihat ke pakaian yang dikenakannya. Habil hanya tersenyum mendengar jawaban rilley.


"emang kamu mau bawa aku kemana sih dengan gaun cantik terus dandan menor begini?"


"ajakin kamu nonton opera"


Sesampainya ditempat opera habil dan rilley mendapati tempat duduk mereka ditengah. Ditengah acara rilley tertidur dipundak habil. Habil menggelengkan kepalanya antara malu dan heran dengan gadis disampingnya.


"ahhhh akhirnya selesai juga" rilley meregangkan tubuhnya setelah keluar dari ruang opera.


"kamu ga suka opera ya?"


"hmmm bil kenapa kamu kepikiran ngajakin aku nonton beginian?"


Habil sejenak berpikir, "karena pengen suasana yang beda aja"


"owh gitu... maaf ya" rilley menunduk


"ga masalah"


"kamu tau ga bil aku pengen lakuin hal yang ga pernah aku lakuin sebelumnya sama kamu"


"apa?" tanya habil bingung


"habis ini kamu ada acara lagi ga?"


Habil menggelengkan kepalanya, "yuk ikut aku ke kota tua" rilley menggndeng habil keluar dari gedung opera. Habil mengendarai mobilnya ke arah kota tua seperti yang diminta rilley.


Rilley terlihat senang saat berjalan bersama habil memasuki satu persatu museum, berfoto bersama, meminta habil mengendarai sepeda dan rilley dibonceng dibelakang. Rilley banyak mengambil foto dan habil pun banyak tersenyum. Hal yang paling membuat rilley bahagia adalah melihat senyum habil.


Tak terasa waktu maghrib telah tiba setelah menunaikan shalat rilley menghampiri habil yang sudah lebih dulu selesai shalat.


"kita cari cafe yuk habis makan aku antar kamu pulang" rilley mengangguk kemudian habil menggenggan telapak tangan rilley. Rilley memandang punggung lebar habil dengan senyum mengembang dibibirnya.


"bil..." rilley menghentikan habil yang hendak masuk kedalam cafe batavia.


"ya..." habil berbalik melihat ke arah rilley.


"jangan disini ah aku ga mau"


"kenapa?"


"aku punya tempat yang bagus dan enak" rilley segera menarik tangan habil menuju mobil mereka dan meminta habil menuju ke arah mangga 2. Rilley menunjukkan jalan sampailah mereka disebuah warung makan dipinggir jalan. Tempatnya sangat ramai disana adalah warung makan geprek dengan kiloan sambal yang sedang diulek menggunakan cobek yang super besar. Disana berjejer aneka lauk yang siap digoreng dadakan dengan lalapan bertebaran banyak sekali dimeja yang bisa diambil sesuka hati.


"kita makan disini?" habil berbisik pada rilley dia merasa canggung pasalnya banyak mata yang melihat mereka. Bagaimana tidak, habil memakai tuksedo dan rilley memakai gaun hitam selutut dengan lengan panjang yang dibagian punggungnya seperti balon dan pita besar dibelakang pinggang rilley sepatu hitam hak tinggi. Dikepala rilley juga bertengger topi kecil layaknya bangsawan inggris.


"kenapa engga" rilley melepas sarung tangan jaring ditangannya dan memasukkannya kedalam tas kecil yang dia jinjing sejak tadi, "yuk" rilleg memeluk lengan habil mengambil posisi ditempat yang kosong dipinggir jalan. Setelah memesan menu tak lama kemudian pelayan datang membawakan pesanan mereka.


Tatapan pelayan pun tak lepas dari mereka banyak orang yang berbisik tentang mereka yang makan dipinggir jalan tapi dengan pakaian mewah. Rilley makan dengan lahapnya. Habil memperhatikan rilley, "rill makan pelan2 ga ada yang mau minta juga" habil mengusap mulut rilley yang belepotan minyak dan sambal membuat rilley sejenak terpaku dengan perbuatan habil.


"ahhh ya..." rilley makan pelan


"kayanya cuma kamu doang rill orang bule tapi gragas (dalam bahasa jawa artinya rakus) makan pake tangan lagi hahaha" tawa habil pecah melihat kelakuan rilley.


"kan aku udah biasa begini bil sebenarnya. Lagian kalau dirusia aku ga bisa begini" ucap rilley


Selesai makan tak lama kemudian habil meminta pelayan memberikan bill. Habil mengeluarkan dompetnya rilley melihat jumlah bill dan membayar separuh dari harga makanan.


"udah biar aku aja" ucap habil


"jangan kita ini bukan suami istri belum kewajiban kamu kasih aku makan. Kita bayar separoan ya" Habil terdiam mendengar jawaban rilley.