Triple Story

Triple Story
bab 55



Penyakit bukanlah musibah tergantung dari sisi mana kita melihat. Setidaknya itulah yang kini nasya dan kelaurganya rasakan. Jika nasya tak sakit akankah dia beristirahat dan terus bersama pasien untuk menyibukkan dirinya yang telah ditinggal anak-anaknya kuliah. Akankah dia ada waktu untuk bersama dengan araf sepanjang hari saat weekend karena araf pun penggila kerja dia bisa bekerja 7 hari bahkan lebih sering tak pulang keluar kota berhari-hari. Waktu untuk nasya lebih sedikit dibanding waktu bersama sekretaris dan asistennya. Maka dari itu nasya tak pernah lupa bersyukur dengan dia diberi sakit anak-anaknya kembali dan suaminya tak lagi terlalu sibuk.


Egois???


Tak bolehkah sesekali nasya menjadi egois?


"hai bi... apa kabar?" suara seorang wanita yang familiar memanggil hasybi yang sedang berenang bersama saudara-saudaranya. Hasybi menoleh pada asal suara dilihatnya joana tengah berdiri dipinggir taman menghadap kolam renang.


"baik" jawab hasybi singkat kemudian menyeburkan diri kedalam kolam. Joana mengambil duduk didekat taman menghadap ke kolam, disana sudah ada alana dan aqila yang sedang berjemur.


"jo..." aqila meneguk minumannya setelah memanggil nama joana.


"hmmm..." sahut joana yang masih memandang lekat pada hasybi. Lelaki yang dirindukannya itu.


"lu ga capek apa ngejar hasybi manusia super cuek, dingin ngalahin bongkahan es dikutub begitu"


"lu sendiri kalau bukan tantenya bakalan suka ga?" joana menoleh menatap aqila.


Aqila mengedikkan bahunya, "secara sifat gue lebih suka hail. Habil gue akuin dewasa tapi masih pendiam banget susah ditebak. Kalau hail karena dia konyol dan humoris bukan hasybi yang kakunya masya Allah" aqila menggelengkan kepalanya.


"tapi hail playboy" alana menyahut


Joana menatap alana penuh selidik, "lu sendiri pilih siapa lan?"


"habillah. Dewasa, pengertian, pinter, ganteng lagi. Menurut gue diantara triple h habil lebih perfect" alana melebarkan bibirnya, "sayangnya mereka sepupu gue hiks." Joana terbahak mendengarnya begitu pun aqila yang tertawa sangat keras.


"sampai kapan lu nungguin hasybi jo?" tanya aqila yang melihat joana sedang memainkan pipet minumannya.


"sampai dia bisa melihat gue" Joana menatap pada hasybi terus menerus.


"dasar bucin!" alana dan aqila melempar kacang atom pada joana.


"bukan bucin gue cuma punya keinginan apa salah?" joana bergumam pelan.


"ga ada yang salah dengan cinta yang kita rasakan. Yang salah hanyalah waktunya yang kurang tepat" gibran datang ikut nimbrung pembicaraan para wanita.


"hmmm..." joana menoleh pada gibran


"sok tua lu bang" alana menepuk pundak gibran yang duduk disisi alana.


"Hahaha...." gibran tertawa sendiri.


Annasya duduk sendiri dikursi goyang dekat jendela menghadap taman. Hari ini anak-anak faiqa dan hana datang untuk berkumpul. Nasya tersenyum melihat mereka yang sedang asyik.


"liat apa sya senyum-senyum begitu" seeprti biasa hana akan menyibukkan dirinya didapur dimana pun dia berada. Dia akan membuat kudapan untuk anak-anak.


"bikin apa kamu na?" nasya melongok melihat kepada nampan yang dibawa hana


"cuma cookis cokelat, yang simple aja" hana menyerahkan cookis dipiring pada nasya. Nasya menerimanya dengan senang hati. Nasya selalu suka kue buatan hana. Bahkan jika hana sedang bereksperimen dia akan mencobanya terlebih dahulu. Persahabatan yang telah menjadi persaudaraan yang dijalin oleh hana dan nasya.


"hana gimana keadaan vita dan nita ya? aku penasaran banget dan hampir 5 tahun kita ga komunikasi sama mereka" hana tersenyum mendengar nasya masih mengingat 2 sahabatnya yang kini sudah tinggal sangat jauh.


Dengan sabar hana menjelaskan, "vita jadinya nikah sama tentara dia hidup pindah-pindah sampai sekarang. Anaknya dah 2. Kalau nita dia jadi ibu rt dikampung halaman suaminya dikalimantan. kan dia nikah sama orang sana. Pengusaha kelapa sawit" Nasya mengangguk-angguk, "eh kita video call sama merrka yuk" Hana mengeluarkan ponselnya menghubungi mereka.


Setelah panggilan dijawab oleh vita tak lama hana menelepon nita. Mereka reuni bersama diponsel nasya terlihat senang.


"kangen kaliannnn" seru vita dan nita.


"sama...." hana tersenyum melihat nasya menjawab mereka.


"tumben kalian ga sibuk?" hana bertanya sambil memakan cookis ditangannya.


"gue kan lagi ga ada jadwal nyalon" jawab vita yang disambut tawa semuanya.


"sempet-sempetnya mikir buat nyalon padahal tuyulnya masih kecil-kecil banget" celetuk hana.


"eh nita sekarang kamu ada dimana?" nasya melihat pada nita yang sedang merajut pakaian bayi. Karena dia sedang hamil besar anak keduanya. Anak pertamanya ikut ibunya dijakarta sedang suaminya selalu mengajak nita jika bisa diajak.


"di papua ha....ha..." nita pura-pura mewek ingin dikasihani. Tapi malah mendapat tawa dari teman-temannya.


"padahal berharapnya gue ke korea gitu biar anak gue kaya oppa-oppa korea" gerutu nita.


"emang itu perut dah berapa bulan?" tanya vita


"tinggal menunggu hari padahal gue dah minta pulang tapi laki gue ga mau ditinggal"


"nanti kalau laki gue ada jadwal kesana gue tengokin lu" hibur vita yang diangguki nita.


"maaf ya aku belum bisa nengokin kamu" nasya berucap dengan sedih.


"gapapa asal lu sering-sering hubungin gue" ucap nita yang disenyumi oleh nasya. Vita dan nita sudah mengetahui keadaan nasya dari hana. Mereka tak membahasnya tak mau melihat nasya sedih. Vita dan nita cukup senang bisa menghibur nasya walaupun lewat video call saja.


"mama...." hail memeluk leher ibunya dari belakang saat nasya dan hana baru selesai videocall. Nasya memegang legan hail yang melingkar dilehernya.


"hmmm...."


"makan siang yuk hail laper ma..." nasya menganggukkan kepalanya.


"kalian ganti pakaian dulu sana nanti bunda siapkan makan siang. Tadi bunda udah masak rendang, sama kentang balado selebihnya bibi yang masak" ucap hana yang disambut teriakan senang anak-anak hana dan nasya.


Setelah kepergian mereka nasya memandang sendu kepada mereka, "hana... aku takut deh tiba-tiba lupa sama mereka" ucap nasya sedih, "tapi aku bersyukur anak-anak dan suamiku jadi punya waktu buat aku"


"jangan terlalu dipikirin sya... orangtua ga akan pernah bisa melupakan anaknya. Walaupun dipikiran kamu mereka hilang. Tapi dihati ga akan pernah hilang sya" hana menghibur nasya yang sudah mulai mellow.


"inget sya lu ga boleh terlalu beban pikiran" ucap hana lagi.


"hai sayang" zaki datang tanpa salam dan langsung mencium istrinya hana.


"ihhh abang mah ada orang ini disini mesra-mesraan didepan aku" gerutu nasya.


"biarin mesra sama istri sendiri kok"


"iri aja lu" hana menepuk lengan nasya


"cih...." nasya menoleh kekanan dan kiri, "mami sama papi ga ikut bang?"


"mami belum sehat bener kalo papi masih dikantor tapi dia langsung pulang nanti jaga mami" nasya menganggukkan kepalanya