
Hail terdiam mendengar ucapan zivanya gadis china bertubuh mungil yang dia tau menyukainya semenjak dia kuliah disingapura. Gadis ini juga yang selalu memberikan makan siang disaat dia istirahat sekolah. Zivanya adalah anak pemilik catering tempat kampus hail selalu dikirim makanan. Zivanya suka pada hail saat gadis itu membawa banyak makanan dia merasa kerepotan. Banyak yang hanya melihat saja tapi berbeda dengan hail dia membantu zivanya membawa box makanan ke ruangan rektor. Dari sanalah dia jatuh cinta pada pandangan pertama dan mencari tau semua hal tentang hail.
kembali ke ponpes
Hail terkejut mendengar penuturan zivanya, "jadi kamu masuk islam bukan karena aku?"
"kepedean kamu il hihihi" zivanya terkikik sendiri melihat hail yang salah tingkah dengan menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"saat aku masih smp aku berteman dengan anak indonesia kami 1 sekolah bahkan 1 kelas. Dia selalu memakai hijab dan membaca alqur'an disaat istirahat jam sekolah. Dari sana aku mulai jatuh cinta dan ingin mempelajari islam. Dia membimbingku namun setelah lulus smp dia pindah ke indonesia aku berhenti mempelajari karena takut ketahuan orangtuaku. Tapi takdir berkata lain, Allah mempertemukan kita dikampus. Padahal aku ga pernah mau mengantar makanan tapi hari itu aku mengiyakan perintah ayah untuk mengantar makanan kekampus kamu. Jadilah kita dipertemukan saat aku tau kamu muslim aku mulai belajar lagi agama islam. Aku sering datang ke sebuah masjid dijalan sultan dan mengikuti kajian disela2 kesibukan sekolah aku. Sampai aku lulus sekolah tahun ini aku mengatakan pada papa dan mama kalau aku ingin masuk islam mereka murka tapi keputusan aku udah bulat. Aku diusir dari rumah aku ga tau mau kemana saat itu kamulah yang ada dipikiranku. Berbekal alamat seadanya aku berusaha mencari kamu selama 3 hari diindonesia. Hampir aku menyerah tapi Allah masih mempertemukan kita. Saat itulah aku mengutarakan hatiku tapi kamu menolak aku" zivanya menatap pada hail yang tertunduk.
"maaf" hanya itu yang diucapkan hail
"ga masalah il... bukan salah kamu juga. Kalau aku jadi kamu aku juga pasti menolak karena kita belum saling kenal sebelumnya" zivanya tersenyum
"terus kenapa kamu bisa terdampar disini?" tanya hail bingung
"disaat aku dalam kebingungan dibandara..." menatap hail yang seperti meminta penjelasan maksud dari kata bingungnya, "bingung mau kemana maksudnya. Aku ga mungkin kembali ke singapura karena udah pasti papa akan memaksa aku kembali ke agama semula. Sedangkan dijakarta aku ga ada teman. Sampai pada akhirnya aku bertemu dengan farida teman aku saat smp dulu. Akhirnya kami ngobrol dan farida menawariku untuk bekerja diponpes ini sambil belajar agma islam. Aku bilang pada farida kalau aku belum kuliah tapi farida bilang aku bisa ambil kuliah malam setelah mengajar Alhamdulillah Allah memudahkan jalanku" lanjut zivanya.
"zi... maafkan aku. Aku ga tau kalau kamu mengalami kesulitan seperti ini" sesal hail
"ga masalah il... dengan begini membuat aku menjadi lebih mandiri dan ga bergantung dengan orang lain"
"soal orangtuamu aku harus sampaikan karena orangtua kamu khawatir. Aku sempat dengar dari sean jika ayahmu masuk rumah sakit" zivanya terkejut dibuatnya. Hail mengeluarkan ponselnya dia menelepon sean.
"halo se.."
"iya il"
"gue udah dapat alamat zivanya diindonesia lu bisa kasih tau ke orangtuanya" hail menutup telepon dan mengirim pesan pada sean.
"walau bagaimana pun mereka orangtua kamu zi... kamu harus menghubungi mereka" saran hail yang diangguki oleh zivanya.
****
2 tahun kemudian
Hasybi sudah merapikan pakaiannya dia hendak kembali ke indonesia setelah 7 tahun menempuh pendidikan dijerman. Dia juga sudah mengantongi sertifikat spesialis saraf. Dia lulus dengan nilai terbaik bahkan banyak rumah sakit dijerman maupun luar negeri yang ingin hasybi bekerja dirumah sakit mereka. Tapi hasybi menolak dia hanya ingin segera kembali ke indonesia dan merawat ibunya. Dia akan bekerja di abinaya hospital rumah sakit milik kakek dan neneknya.
ddrrttt.... drrttt...
ponsel hasybi berbunyi tertera nama hail disana, hsybi pun menggeser tombol hijau.
"assalamu'alaikum bang"
"wa'alaikumsalam il..."
"abang jadi pulang hari ini?"
"iya..."
"ok nanti kalo udah sampai jakarta gue jemput"
"makasih ya"
Hasybi melihat kesekeliling rumahnya dia tersenyum sendiri. Dia memyukai tempat yang sudah 7 tahun ia tinggali. Tapi dia kebih menyukai didekat keluarganya terutama ibunya. Ibu yang melahirkannya yang lebih membutuhkan anak-anaknya berada disisinya kini.
Setelah berkeliling sebentar hasybi segera memesan taxi dan beranjak ke bandara.
Sesampainya dibandara hasybi mengirim pesan pada joana,
hasybi
jo aku berangkat hari ini
joana:
iya beb aku berangkat besok karena malam ini papa dan mama akan mengadakan pesta kelulusan aku
hasybi:
maaf ya ga bisa hadir
joana:
ga masalah bi. Baik2 ya semoga selamat sampai tujuan
hasybi:
iya
Hasybi duduk di vip lounge setelah checking tiket dan melewati imigrasi. Hasybi meminum kopi dan memakan sedikit kue kering khas jerman. Hasybi melihat jam ditangannya udah waktunya dia berangkat dia pun berjalan ke arah pesawat.
"see you jerman" gumam hasybi saat pesawatnya lepas landas meninggalkan bandara teghel berlin ibukota jerman.
Hasybi memejamkan matanya dan merebahkan dirinya. Dia mengistirahatkan pikirannya sejenak. Dia membayangkan wajah ibu, ayah dan 2 saudaranya yang sangat dirindukannya.
22 jam jarak yang harus hasybi tempuh antara berlin ke jakarta. "Penerbangan yang melelahkan" gumam hasybi, "tapj akan terbayar sesampainya aku dijakarta nanti. Aku rindu kalian" hasybi mengusap foto keluarga diponselnya.
Pramugari sesekali menawarkan makanan, minuman atau sesuatu yang dibutuhkan hasybi. Malam menjelang hasybi terlelap didalam yang dia tumpangi.
22 jam telah berlalu akhirnya pesawat mendarat dibumi pertiwi. Hasybi merapikan pakaiannya dan duduk dengan tenang. Setelah pesawat benar2 berhenti satu persatu penumpang turun begitu pun hasybi yang langsung tersenyum dan bergegas ke arah imigrasi.
Disisi lain hail sudah hampir 1 jam menunggu hasybi diterminal 3 kedatangan. Araf tak bisa mengajak nasya menjemput hail maka dari itu yang menjemput hanya hail sedang hasybi masih dikantor.
Hasybi keluar dengan menggunakan mantel coklat dan kacamata tebal berbingkai hitam. Hail melambaikan tangan hasybi menghampiri adiknya yang terlihat semakin tampan.
"bang 2 tahun ga liat lu makin kurus aja sih lu bang. Liat tuh tengkorak ampe keliatan" ejek hail yang disertai tawa
"songong lu!" hasybi menepuk pundak hail, "sekarang udah punya sim ga perlu supir lagi ya" hasybi memeperhatikan adiknya
"pak agus harus stand by dirumah bang untuk mama dan ayah sewaktu2"
"pekerjakam supir lainlah"
"buang2 uang aja bang lagian enak nyupir sendiri jadi tau jalan dan ga manja" hail menegaskan kata manja yang hanya dijawab decihan oleh hasybi