
Kaulah satu-satunya tempatku mengadu
Satu-satunya yang kumiliki
Kau masih satu-satunya yang kuingin seumur hidup
Kau masih satu-satunya yang kucinta
.
.
.
Araf terkejut saat memasuki kamar mendapati nasya tengah duduk dilantai dengan banyak muntahan didepannya. Dia langsung melemparkan tas dan jasnya ke atas sofa.
"astaghfirullahhal 'adziim" araf langsung membopong nasya ke atas kasur dan menyeka mulut nasya dengan tissue. Dia menelpon maid yang berada dibawah untuk segera kekamarnya dan membersihkan muntahan nasya.
"kamu gapapa sayang?" araf mengusap rambut nasya yang sedang berbaring membelakangi araf. Nasya hanya menggeleng pelan dengan menutup matanya.
"kamu salah makan ya hari ini? hmm?" dengan lembut dan sabar araf mengoleskan minyak angin ditengkuk dan perut nasya.
"mungkin" jawab nasya masih enggan membuka mata. Dipegangnya tangan dan kaki nasya sambil dioleskan minyak angin.
"apa yang kamu rasain? hmm!" nasya hanya meletakkan jarinya dibibir agar araf diam dan tak lagi bertanya. Araf langsung memeluk nasya. Nasya melingkarkan tangannya diperut araf meletakkan kepalanya didada araf mencari kenyamanan disana.
Tak berapa lama maid masuk dan memebersihkan muntahan nasya. Tak lupa araf meminta teh jahe agar perut nasya membaik.
"mas..." masih dengan memejamkan matanya nasya memanggil araf.
"ya sayang"
"jangan wangi-wangi ya kalau kelur rumah aku ga suka" nasya mengendus-endus tubuh araf.
Araf tertawa kecil, "ga ada yang lucu kenapa ketawa?" tanya nasya sambil mencubit kecil dada araf membuat araf kesakitan.
"aduhhh ampun-ampun" erang araf, nasya memeluk araf makin erat, "sekarang jawab aku kenapa kamu bisa muntah? ada salah makan?"
"aku sendiri ga tau mas tadi lagi mau masuk kamar tiba-tiba perutku sakit ga lama muntah" araf mengusap perut nasya.
"sekarang gimana?"
"udah baikan kan kamu usap perut aku hehe" araf gemas melihat nasya yang manja dan terlihat sangat imut dikecupnya bibir nasya.
"kamu tau ga sih aku udah panik bukan main liat kamu muntah" araf menciumi kening nasya.
"hmmmm segitu cintanya suamiku. I love you" nasya mengecup singkat bibir araf dan kembali menempelkan kepalanya di dada araf.
Araf merasa heran dengan nasya yang agak aneh hari ini. sudah lebih dari 20 tahun mereka menikah baru kali ini nasya bilang cinta padanya. Araf makin mengeratkan pelukannya, "i love you too my jenong" araf mendaratkan ciuman dipuncak kepala nasya.
"ihhh aku ga jenong!" nasya memukul lengan araf disambut tawa araf.
tok... tok... tok...
"aku bukain pintu dulu" araf melepas pelukan nasya berjalan ke arah pintu mengambil minuman yang dimintanya tadi. Kemudian araf meraih bangku dan duduk disamping nakas kemudian meniupkan teh tersebut sebelum diseruput nasya, "pelan-pelan"
Nasya meminumnya perlahan setelah minum nasya tersenyum pada suaminya, "mas..."
"hmmm"
"apa aku harus sakit dulu ya untuk dapat perhatian kamu dan nguasain waktu kamu?" araf langsung terdiam beberapa detik setelah meletakkan gelas diatas nakas.
"kamu ngomong apa sih hemm" araf mengambil posisi seperti semula memeluk nasya.
"mas selalu sibuk hampir ga ada waktu buat aku. Kita ketemu kalau ga malam ya weekend itu pun kalau kamu ga ada meeting diluar negeri atau luar kota" nasya mengeluatkan uneg-unegnya selama ini. Araf tertawa kecil mencium gemas istrinya yang kinj seperti anak kecil.
Habil duduk disebuah kantin bersama 2 orang temannya doni dan andre. Mereka kembali bersama di universitas yang sama hanya berbeda jurusan saja. Saat habil sedang asyik membalas chat adik-adiknya disampingnya duduk seorang gadis tomboy bersama 2 orang temannya yang feminim dan cantik.
"makan apa lu bil?" sapa cewe tomboy itu disamping habil dengn melongok makanan didepan habil yang berupa soto ayam. Habil menoleh pada wanita disampingnya menjauh sedikit duduknya dari wanita itu.
"bil... lu kenapa sih dideketein dasha kek ngeri gitu?" vera yang duduk disamping doni bersuara
"tau w ga nularin virus kali bil" gerutu dasha kesal. Habil tak menggubris ucapan dasha dia segera bangkit dan meninggalkan mereka.
"habil kenapa sih?" tanya devi pada andre didepannya yang tadi duduk disamping habil.
"habil tuh ga suka dideketin cewe bukan muhrim" ucap andre seketika membuat dasha, bera dan devi terkejut bersamaan.
"hari gini mana ada laki kaya gitu?" ucap devi tak percaya.
"itu buktinya..." doni menunjuk pada habil yang membelakangi mereka berjalan ke arah taman. Dasha seketika takjub 'masih ada ya lelaki kaya gitu didunia' pikir dasha.
"tapi dia pernah suka sama cewe 3 tahun terus direbut doni deh" andre berucap sambil mengunyah bakso
"maksud lu maya? masa habil pernah suka maya?" vera heran dan tak percaya
"lu kenal maya?" tanya doni
"iyalah siapa yang ga kenal ratu clubbing dari smu abinaya school" vera sedikit melirik pada doni yang kini sudah menjadi pacarnya, "mantan terindah lu. Udah ah yuk guys" vera beranjak diikuti 2 temannya.
"ver... vera baru juga dateng lu mau kemana?" doni menarik tangan vera
"udah badmood" vera melepas tangan doni
"ver.." teriak doni yang tk digubris oleh vera dan teman-temannya.
"lagian lu pake bahas maya!" kesal doni pada andre sedang kan andre hanya tertawa melihat doni yang selalu bucin jika berpacaran.
_
"assalamu'alaikum hallo rill apa kabar?" habil sedang menerima telepon dari rilley gadis yang ditolongnya waktu itu.
"wa'alaikumsalam bil aku baik. kamu sendiri gimana?" tanya rilley penuh semangat. Dia sangat suka jika habil meluangkan waktunya untuk menelepon atau sekedar berkirim pesan.
"Alhamdulillah aku baik rill, gimana sekolah kamu disana? menemui kendala ga?" tanya habil yang kemudian mengambil duduk dihalte bus kampusnya.
"Alhamdulillah ga bil, paling kendalanya ya bahasa aja kali ya. Aku kan ga terlalu lancar bahasa rusia. Oiya bil, aku sekarang udah ga di austria. Daddy udah nikah lagi terus kita move ke rusia daddy bilang ingin memulai hal baru ditempat yang baru"
"bagus sih rill kenapa ga minta diindo aja?"
"udah pernah aku usulin tapi kayanya daddy sama aunty ivana ga setuju. Mereka sih ga nolak tapi ga mengiyakan juga. Pada akhirnya sekarang kita di moscow nih"
"In shaa Allah kalau aku libur semester mama aku sehat aku akan berkunjung kesana untuk holiday"
"beneran bil?" sorak rilley
"in shaa Allah"
"aku tunggu"
Habil tersenyum sendiri sambil menelepon hal itu tak lepas dari pengawasan 3 gadis yang tadi berada dikantin.
"gue rasa habil kaga jomblo deh" ucap dasha berasumsi
"kayanya sih gitu" devi menyahut
"ahh tapi doni sama andre kan sahabatnya masa ga tau sih?" vera bertanya tapi tak ada yang menjawab