
Habil sudah rapi dan menunggu dibawah. Tas kecil disampingnya sudah siap untuk dibawa. Sebelum pergi habil mengirim pesan pada hail agar tak pulang karena mereka akan pergi ke semarang. Hail mengerti dia pun membatalkan tiket hari ini untuk diganti minggu depan.
Tak lama kemudian araf turun bersama nasya.
"udah siap bil?" tanya araf saat melihat habil duduk dan asyik memainkan ponselnya.
"iya yah. Habil juga udah kirim pesan ke hail untuk ga pulang"
"bagus. yuk jalan" habil mengekori ayah dan ibunya berjalan ke arah garasi. Pak agus sudah siap didalam mobil. Setelah araf membukakan pintu untuk nasya dia kemudian masuk kedalam mobil duduk disamping nasya. Sedang habil duduk didepan bersama supir.
Penerbangan jakarta-semarang berjalan dengan lancar. Nasya pun tak mengalami hal yang tak diinginkan. Sepanjang perjalanan nasya hanya diam saja begitupun araf dan habil. Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam saat mereka sampai dirumah orangtua nasya. Mbok nah art nasya sedari dia kecil masih setia bekerja disana.
"mbok nah" nasya langsung memeluk perempuan tua yang sudah mengabdikan setengah dari umurnya untuk bekerja pada keluarganya.
"alhamdulillah masih bisa ketemu ya non" mbok nah terharu dan membalas pelukan nasya.
"mbok nasya biar istirahat ya udah malam. Oiya tolong siapkan air mineral sama teh jahe dikamar ya mbok" pinta araf
"iya den. den habil mau apa?"
"ga usah mbok nanti saya urus sendiri" habil tersenyum dan berlalu meninggalkan mbok nah yang mengangguk. Habil berjalan ke arah kamar tamu, dia membuka pintu dan masuk kedalamnya.
Keesokan harinya setelah sarapan araf, nasya dan habil kekuburan keluarga nasya untuk ziarahi orangtua nasya. Setelah menemukan orangtua nasya mereka duduk berdoa membaca doa ziarah kubur disambung yasin dan tahlil. Nasya menangis sambil membacakan ayat suci mengingat kedua orangtuanya yang kini sudah berpulang. Setelah selesai nasya menaburkan bunga dan air mawar.
"ayah... sekarang nasya kena alzheimer penyakit yang diderita kakek. Nasya sedih yah, nasya takut hilang hafalan al-qur'an nasya dan lupa mendoakan ayah dan bunda" batin nasya sambil menangis. Araf memeluk nasya dari samping. Setelah selesai mereka beranjak dari sana dan kembali kerumah.
"yah apa ga lebih baik kita pulang kejakarta malam ini?" habil merasa firasatnya tak baik semenjak kedatangannya kesemarang.
"kasihan ibumu bil, dia pasti lelah" ucap araf yang duduk dibelakanng. Habil hanya diam tak menjawab. Sesampainya dirumah araf membawa nasya membersihkan diri ditoilet kamar. Setelahnya araf memberikan obat pada nasya tak lama kemudian nasya tertidur.
Setelah nasya tertidur araf beranjak dari kamar ke ruang tengah dilihatnya habil sedang membaca beberapa artikel diponselnya, "ga tidur bil?"
Habil mendongak mendapati ayahnya dengan secangkir kopi ditangannya, "ga lah yah masih siang. Mama udah tidur yah?"
Araf menganggukkan kepalanya sambil membuka laptopnya. Belum sempat araf bekerja 2 wanita masuk kedalam rumah dia tak lain adalah siti istri dari pakde wiryo dan lina bulik dari nasya
"araf... dimana nasya?" dengan suara keras siti berteriak membuat kegaduhan.
"mau apa kalian?!" sentak araf yang langsung berdiri dari duduknya.
"dimana nasya? aku cuma mau minta sama nasya agar mengurangi hukuman suamiku!" siti menangis sedang lina hanya melihat saja.
"itulah yang harus dirasakan seorang penjahat!" teriak araf, "kalian pergi dari sini!" suara araf tak lagi pelan. Habil yang memang tak tau menau hanya diam saja.
"aku ga mau pergi sebelum ketemu nasya!" siti berteriak sekuat tenaga. Annasya yang sedang tertidur merasa terganggu dengan suara berisik diluar.
Annasya keluar dari kamar saat dia mendengar suara keributan. Dia berdiri dipintu kamar mendiang ayahnya yang berada dikamar bawah. Dilihatnya bulik lina dan bude siti sedang berdebat dengan araf dan habil.
"bil kamu urus mereka kalau perlu lapor polisi untuk mengusir mereka!" perintah araf yang kemudian berlari ke arah nasya yang sudah banjir denga air pipisnya. Araf membopong nasya ketoilet meminta mbok nah art dirumah itu untuk menyiapkan pakaian nasya sedang araf membersihkan nasya.
Habil dengan sigap menarik lina dan siti keluar mereka histeris, "kamu ini ga sopan sama orangtua! lepasin!" siti berteriak begitu pun lina.
"kalian sendiri apa masih sopan masuk kerumah orang tanpa salam dan marah-marah hah! sekarang kalian pergi dari sini sebelum saya panggil polisi untuk menyeret kalian kepenjara!" geram habil.
"owh... jadi begink hasil didikan nasya! ga anak ga ibu sama aja ga ada sopan santunnya!" teriak siti yang ditahan lina.
"udah mba udah..." lina seperti agak malu dan takut karena dilihat orang banyak.
"biar aja! biar semua orang tau bagaimana nasya dan suaminya ga sopan sama kita terlebih anaknya!" sentak siti.
Habil lekas mengambil ponselnya menelepon ke kantor polisi, "hallo kantor polisi? tolong dirumah kami ada 2 orang wanita gila meneror rumah kami. Iya pak rumah kami dijalan mawar..." seketika lina dan siti terkejut habil benar-benar melaporkan mereka kekantor polisi.
"satpam!" teriak habil seorang satpam komplek keluar dengan tergopoh-gopoh, "tahan mereka sampai polisi datang!" habil segera pergi setelah memerintah satpam rumahnya dan satpam tersebut menuruti ucapan habil.
Mereka berteriak namun habil tak mempedulikan lagi. Dia hanya ingin segera masuk dan melihat kondisi nasya.
tok... tok... tok...
Habil mengetuk pintu kamar utama
"masuk..." perintah araf
Habil masuk dilihatnya araf senang memakaikan kerudung pada nasya.
"gimana mama yah?" habil langsung pada intinya
"kamu tolong ke minimarket terdekat carikan ayah popok dewasa setelahnya ayo kita pulang. Kita harus segera bertemu dokter yang menangani mama" habil melihat nasya yang hanya memandangi araf
"kamu siapa?" nasya menileh pada habil, seketika habil tersentak dia berlari memeluk nasya.
"ma..." habil menangis sejadinya.
"udah... udah lekas beli kita pulang" araf sendiri tak sanggup menahan airmatanya. Habil melepas pelukan ibunya berjalan meninggalkan kamar mereka dan segera ke minimarket. Saat habil kembali dilihatnya polisi sudah datang, habil segwra masuk memberikan popok pada araf kemudian keluar bertemu para polisi dan menjelaskan duduk perkaranya.
"pak saya cuma mau ketemu keponakan saya!" siti bersikeras
Lina, "udahlah mba ga ada gunanya lebih baik ayo kita pulang"
Habil berucap pada salah seorang polisi, "maaf pak ibu saya kurang sehat dia ga bisa diganggu"
Polisi mengerti mereka segera membawa siti dan lina keluar dari rumah tersebut.
Habil lekas mengemasi barang-barangnya dia memesan 3 tiket ke jakarta. Araf yang sudah siap memasukkan koper kedalam mobil. Nasya melihat kesekeliling araf perlahan membimbing nasya masuk kedlaam mobil tak lama kemudian habil keluar dan bergabung didalam mobil.