
Hail masih terus teringat dengan pertemuan terakhirnya dengan zivanya. Entah kenapa dia merasa tak enak hati pada ziva gadis chinese singapura yang menyukainya sejak lama hingga dia memutuskan untuk masuk islam demi dirinya.
Saat dikamar otak hail terus berputar memikirkan ini. Dia pun menelepon nomor ziva yang meneleponnya terakhir kali. Tapi sayangnya nomornya sudah tak aktif lagi.
"mungkin dipesawat" gumam hail. Disaat yang sama hail mendapat telepon dari sean teman hail sejak sekolah menengah hingga kuliah disingapura. Kini sean masih disingapura karena ada sebuah perusahaan besar disana mempekerjakan dia setelah lulus kuliah.
"hallo il"
"iya sean tumben lu telepon gue malam2 ada apa?"
"il... gue lagi sama nyokapnya ziva..." suara sean diperkecil seperti ada rasa takut dan ragu bersamaan.
"iya terus?" tanya hail bingung
"lu tau ga dimana kebaradaan ziva?" ragu2 seab bertanya
"loh kok tanya gue? Emang sih 2 hari lalu gue sempet ketemu karena dia yang telepon gue. Tapi setelahnya kita ga ada kontak lagi. Emang ada apa se?" Hail bangkit dari tempat tidurnya.
"nyokapnya bilang 2 tahun ink dia aneh karena belajar agama islam dan memutuskan masuk islam alhasil bokapnya marah dan mengusir dia seminggu yang lalu karena ga mau punya anak yang beda agama. Terus setelah diusir dia beli tiket ke jakarta. Mereka pikir cuma pengen holiday aja si ziva ga taunya malah ngilang sampai sekarang. Tiket kepulangan ziva juga ga terkonfirmasi kalau ziva udah pulang keaingapura. Dia menghilang il" jelas sean panjang lebar.
"apa?!"hail terkejut bukan main siapa sangka jika ziva akan senekat itu.
"dan orang tuanya nyari tau kenapa dia bisa berubah seperti itu ternyata karena dia suka sama lu. Tapi selama ini ga ada yang tau cuma ziva aja yang memendamnya dalam hati. Setelah mereka tau semua terlambat karena ziva udah ilang. Gue pikir dia sama lu" sean bertanya dengan hati2 pada hail.
"2 hari lalu emang kita sempat ketemu dicafe tapi cuma sebentar. Disana juga ziva cuma mengutarakan perasaan dia. Tapi..." hail ragu2
"tapi apa il?" sean seperti terdengar khawatir
"gue tolak perasaan dia. Gue ga tau kalau dia ternyata..." hail tak lagi meneruskan ucapannya. Dia menjadi semakin merasa bersalah pada ziva.
"nyokapnya nangis il... lu bisa bantu ga cari dia dijakarta? Mungkin dia masih disana" ucap sean
Tanpa pikir panjang hail mengiyakan, "iya se gue usahain bantu cari, kalau ada hasil gue hubungin lu"
Setelah menutup telepon hail mengusap wajahnya kasar, "lu kenapa senekat itu sih zi ahh..." hail menjambak rambutnya sendiri karena kesal.
Sudah berhari-hari hail mencari keberadaan ziva dijakarta dia mengerahkan tenaga dan pikirannya untuk mencari gadis malang itu. Dia pun meminta bantuan detektif swasta agar bisa membantunya mencari keberadaan zivanya.
Saat tengah malam hail baru saja kembali dia merasa sangat lelah.
"ya Allah kemana lagi aku harus cari dia" gumam hail sambil menyandarkan kepalanya disofa.
Tak lama hail merasa ada seseorang menepuk pundaknya. Hail menoleh dan melihat ibunya dibelakang dirinya.
"mama" hail langsung bangkit dari duduknya membimbing ibunya agar duduk disofa. Nasya ikut duduk tapi dia mengambil sebuah album foto melihat isi didalamnya saat dia sedang mondok dulu. Nasya mengelus foto tersebut.
"mama rindu ponpes ya?" suara hail pelan sambil ikut melihat foto pondok pesantren nasya. Nasya mengangguk tak menjawab langsung pertanyaan hail.
"mama mau kesana" ucap nasya pelan yang terdengar jelas ditelinga hail.
Keesokan harinya setelah nasya sarapan dia berjalan menuju meja tv dan mengambil album foto yang semalam dilihatnya bersama hail.
Araf, habil dan hail mengikuti nasya melihat nasya yang sedang melihat dengan serius album foto didepannya.
"yah dari semalam mama melihat album foto pesantrennya. Sepertinya mama merinduka ponpesnya" ucap hail pada ayahnya.
"ayah tau il... sepertiny memang begitu"
"apa ayah ada rencana membawa mama kesana?" hail melihat ayahnya yang sedang duduk memandangi ibunya.
"untuk saat ini ga mungkin il..." araf menggelengkan kepalanya.
"ayah takut mama ngedrop lagi?" araf menganggukkan kepalanya.
"kita bisa bawa dokter dan suster untuk ikut yah... kita pakai jet pribadi aja untuk keberangkatan dan kepulangan agar mama juga ga terlalu lelah" habil sisulung selalu mendapat jalan keluar dalam masalah yang dihadapi. Araf menoleh pada putranya dia bangga melihat hail dan habil yang sudah dewasa dan menjadi anak baik.
"kita konsultasikan dulu dengan dokter ya" Habil dan hail mengangguk saja ucapan ayahnya
Setelah konsultasi dengan dokter dan ketersediaan dokter dan perawat untuk ikut mereka araf, nasya dan hail mempersiapkan diri untuk berangkat ke semarang. Hail sudah membooking hotel disana mereka tak mau menginap dirumah masa kecil nasya karena tak ingin hal yang sama mereka alami lagi.
Sesampainya diponpes nasya segera masuk berjalan pelan dituntun oleh hail. Dia memapah ibunya yang berjalan pelan mengitari ponpesnya. Tempat dia sedari kecil menuntut ilmu.
Para Ustadzah yang mengajar disana sudah dijelaskan oleh araf perihal kondisi nasya. Mereka sangat sedih mendapati anak cerdas kebanggaan mereka kini mengalami alzheimer.
Nasya sampai pada sebuah taman dia duduk ditempat dia biasa duduk tapi disana sudah ada seorang gadis yang duduk terlebih dahulu sambil membaca iqra.
"kamu murid baru disini?" nasya menyapa gadis yang usianya sekitar 18/19 tahun itu gadis tersebut menoleh betapa terkejutnya dia ada hail disana. Begitu pun hail dia sama terkejutnya.
"zivanya...."
Gadis itu langsung menoleh mendapati nasya dan hail ada didepannya. Dia terkejut mendapati hail ada didepannya.
"ha... hail..."
Nasya mendekat pada gadis didepannya, zivanya langsung menyalami nasya.
"zi... kita harus bicara, aku akan membawa mama kedalam tunggu aku disini jangan kemana2" perintah hail yang diangguki zivanya. Hail langsung membawa ibunya kedalam. Setelah hail memberikan ibunya obat fia langsung beristirahat ditwmani ayahnya.
"zi..." hail duduk disamping zivanya. "2 hari ini kamu kemana?"
"waktu aku memutuskan masuk islam aku tau pada akhirnya aku akan diusir. Makanya aku searching ponpes agar aku bisa belajar agama islam. Saat aku hendak pulang kesingapura aku tau aku ga akan ada tempat disana. Itu kenapa aku langsung kesini karena aku dengar bisa mendapat tempat sekaligus belajar agama. Disini aku menjadi guru bahasa inggris" jelas zivanya
"ibumu mencari kamu zi... bukankah kamu masuk islam karena aku? saat aku ga mau bersamamu harusnya kamu kembali"
"bukan il... aku jatuh cinta pada islam karena aku udah mengenal jauh sebelum aku kenal kamu"