Triple Story

Triple Story
bab 61



Annasaya berdiri dibalkon rumahnya ditengah malam selepas tahajud. Dia membaca alfatikhah dan surat almuawidzataini. Setelahnya dia memandang langit bergumam sendiri


"satu waktu aku berharap aku menghilang lenyap dari dunia ini. Disaat dunia terasa gelap. Semua kenangan indah terasa menyakitkan disaat aku sendiri perlahan akan melupakannya. ya Allah apakah aku masih kurang bersyukur?" air mata annasya menetes. Hatinya terasa sangat pilu rasa sakitnya melebihi apapun rasa sakit didunia ini.


Dia memandang langit gelap yang penuh bintang-bintang terlihat senyum indah anak-anak dan suaminya. Nasya meneteskan airmata semakin deras. Tangannya ingin meraih 1 bintang diatas sana.


"senyum itu aku harap akan selalu tersimpan dalam memoriku" bisik nasya pada dirinya.


"apa aku akan lebih baik jika aku pergi? apa mereka akan baik-baik aja kalau aku lenyap? ya Allah sungguh aku tak mau merepotkan anak-anak dan suamiku. Aku begitu takut dengan orang-orang yang mencintaiku. Selama hari-hari indah itu aku menderita. Aku membenci diriku sendiri yang begitu lemah. Perasaanku tak seperti yang mereka pikirkan" nasya menangis lagi, "apa yang harus aku lakukan hiks... hiks..." nasya memeluk dirinya sendiri dalam isak tangisnya.


Nasya memgusap airmatanya dalam tangisnya dia merosot duduk perlahan dibalkon kamarnya. Dia menyenderkan kepalanya ditembok. Dia menjulurkan kakinya sambil terus terisak sendiri di malam gelap ini.


Araf meraba tempat tidur disampingnya dia tak mendapatkan nasya dia pikir nasya sedang beribadah seperti biasa. Perlahan araf mengedarkan pandangannya tak mendapatkan nasya dikamarnya. Dilihatnya balkon terbuka araf melihat jam diponselnya sudah hampir subuh. Araf segera bangkit ke arah balkon betapa terkejutnya araf mendapati nasya tertidur dilantai dengan kondisi duduk dilantai balkon.


"astaghfirullah sayang" Araf langsung menggendong nasya yang terlelap. Dia tak bangun saat araf mencoba membangunkannya. Karena takut nasya pingsan araf mengoleskan minyak angin pada nasya. Tak berapa lama nasya terbangun.


"mas..." nasya mengerjapkan matanya melihat araf yang sedang mengoleskan minyak dikakinya.


"Alhamdulillah kamu udah sadar sayang" araf mengusap kepala nasya dengan lembut dan oenuh kasih sayang.


"emang aku kenapa mas? dari tadi aku kan tidur" Araf menghembuskan nafasnya


"sudah tidur lagi ya" araf memeluk kepala nasya menciumi dengan lembut.


***


Habil pulang disaat nasya hendak makan, dia meletekkan tasnya disofa mendekati ibunya. Dia melihat sekeliling tak melihat keberadaan araf.


"assalamu'alaikum ma" habil mencium pipi nasya


"wa'alaikumsalam kamu udah makan belum?" tanya nasya pada anak pertamanya itu.


"belum ma... ayo makan" habil menyuapkan nasi kemulut nasya


"apaan sih mama masih bisa makan sendiri" nasya menolak disuapi habil


"ma..."


"hmmm"


"habil pengen suapin mama, seperti mama suapin habil saat kecil"


Nasya meremas wajah habil gemas, "ihhh gemesnyaaa"


Habil memberikan sendok berisi nasi dan lauk untuk nasya dia pun membuka mulutnya dan memakan nasi dari suapan habil.


"anak baik" puji nasya yang hanya disenyumi habil


"ayah kemana ma?"


"oiya ya ayah kemana ya?" nasya celingukan mencari suaminya. Habil seperti paham jika ibunya pasti tak tau atau mungkin lupa araf dimana.


"sudah ma... biarin aja nanti juga ayah pulang" habil masih menyuapi ibunya dengan lembut. Nasya menatap pada putranya mengangguk saja apa yang diucapkan oleh habil.


flashback on


Annasya mendudukkan baby triple h ke sebuah bangku bayi agar makan dengan tertib. Annasya dengan sabar menyuapi anak-anaknya yang masih balita sambil bercanda ria. Mengelap bibir, dagu, wajah anak-anaknya yang belepotan makanan.


Setelah selesai nasya mengajak anak-anaknya bermain didalam ruangannyang sufah diset araf dengan penuh mainan yang aman untuk bayi.


"hmmm gantengnya mama mmuuacchh" annasya menggendong salah satu putranya yang memberikan mainan padanya. Diikuti yang lain yang ingin juga digendong nasya. Nasya tertawa melihat polah tingkah anak-anaknya yang berebutan meminta gendong padanya.


"assalamu'alaikum" araf membuka pintu dia berdiri diambang pintu. Triple h yang belum bisa jalan baru bisa merangkak berebut menghampiri araf.


"yayah... yayahhh" semua kompak bergembira memanggil araf.


Annasya tersenyum memandang anak-anaknya yang kini menghampiri araf. Diciuminya pipi anak-anaknya dengan gemas.


"curang ya... sekarang mama ditinggal setelah ayah datang" nasya menghampiri araf menyalami suaminya.


"iri ya... kamu sini ayah cium" araf memonyongkan bibirnya untuk mencium nasya namun ditahan oleh hail dengan tangannya.


"hail ga bolehin ayah cium mama iya?" tanya araf pada anaknya yang malah tertawa. Akhirnya araf malah menciumi para putranya dengan gemas membuat mereka tertawa.


flashback off


Araf sudah merapikan pakaiannya dan pakaian nasya. Dia segera turun dan mencari istrinya. Dilihatnya nasya sedang disuapi oleh habil. Dari kejauhan araf bersyukur dikaruniai anak soleh seperti triple h. Habil yang dewasa sebelum waktunya tak pernah mengeluh dengan hidup yang dijalaninya. Diusianya yang seharusnya masih belajar dan bermain dia harus lebih fokus pada perusahaan dan keluarga.


Araf mendekat pada istri dan anaknya.


"udah selesai belum?" tanya araf pada nasya dan habil


"udah yah" jawab habil yang menyingkirkan piring kosong menggesernya ketempat lain.


"ya udah yuk siap-siap" araf merangkul istrinya


"mau kemana yah?" tanya habil penasaran


"ayah kan udah bilang mau bawa mama ke semarang. Mama mau nengok mbah kung sama mbah uti" jawab araf.


"mas.. habil ikutkan?" nasya mendongak ke arah araf yang lebih tinggi dari dirinya.


"gimana bil?" araf bertanya pada habil


"iya ma habil ikut. sebentar ya habil berkemas dulu" habil berlalu dari ruang makan.


"jangan lama-lama ya bil nanti kita ketinggalan pesawat" ucap nasya yang disenyumi oleh habil dan araf.


Araf membawa nasya ketoilet membersihkan nasya dan mengganti pakaian nasya ke pakaian yang lebih hangat dan rapat.


"mas..."


"hmmm?"


"aku bisa pakai baju sendiri"


"emang kenapa sih kalau aku pakein?"


"tapi aku bukan bayi. Aku juga belum lumpuh kok!" kesal nasya


"heh ngomong apa sih kamu? Emang salah kalau suami pengen makein istri baju?" araf berdiri didepan nasya yang dia dudukkan didepan cermin, "aku pakein ya kerudungnya"


"mas..." nasya mulai jengah


"udah aha nurut aja mulai sekarang aku akan lakuin apapun untuk kamu. Kamu hanya perlu nurut aja" araf merapikan kerudung instan yang dipakai nasya, "nah istriku udah cantik banget" araf mendaratkan kecupan dikepala nasya.


"mas... aku masih bisa melakukannya kamu ga usah segitunya"


Araf menggenggam kedua tangan nasya dipangkuan nasya, "ga perlu nunggu sampai kamu ga bisa melakukannya untuk aku melakukannya sama istriku. Aku lakuin ini karena aku cinta kamu. Sekaran, dulu dan selamanya (terdiam sejenak mencium kening nasya) udah yuk kita jalan"