Triple Story

Triple Story
bab 6



Inara meneguk segelas lemon tea sambil memandang keluar berharap hilman segera datang. Hal itu tak lepas dari penglihatan hail. Hail cemberut melihat inara terus melihat ke arah luar. Dia paham jika inara sedang menunggu kedatangan hilman supir sekaligus bodyguard triple h.


Tak sampai 10 menit hilman datang setelah memarkirkan mobilnya hilman keluar dari mobil. Inara tersenyum kecil hail pun menoleh saat melihat inara tersenyum ternyata melihat hilman. Karena kesal hail menggebrak meja dan beranjak, "brakkk" hail mengejutkan semuanya.


"kamu kenapa hail?" tanya inara bingung.


"saya mau pulang bu" ketus hail dengan wajah kesal bukan main. Habil dan hasybi saling pandang dia tau jika hail sepertinya sedang cemburu.


"loh kan urusan kita belum selesai"


"urusan ibu sama habil dan pak hilman saya ga ada urusan!" hail hendak melangkah tapi ditahan oleh habil.


"il kalau kita pulang tanpa pak hilman nanti mama akan banyak tanya. Kita ga bisa sembunyiin kejadian ini yang berakibat kamu ga akan dikasih izin untuk kuliah disingapura" tutur habil lembut


"seenggaknya demi gue il, gue pengen banget ke jerman" ucap hasybi dengan wajah memelas meminta pengertian hail


"hail... kita bicarakan sebentar aja ya" kali ini inara menggenggam tangan hail namun ditepisnya. Hail pun duduk kembali tak lama hilman datang dan mengambil duduk disamping inara. Inara diapit oleh rilley dan hilman.


"ini pak hilman saya sudah pesankan" dengan senyum semanis mungkin inara memberikan segelas mochachino ice pada hilman yang dibalas senyum hilman dan ucapan terima kasih. Hail yang melihat itu merasa sangat kesal karena api cemburu.


"ok kita mulai aja tadi sebenarnya ada apa habil?" inara bertanya pada habil karena dia melihat habillah yang protektif melindungi rilley.


"tadi waktu saya menunggu adik-adik saya ditaman saya ditabrak dia yang lagi lari menghindari preman tadi bu" jelas habil sampai sini inara menoleh pada rilley


"Sebelum saya tanya masalahnya saya mau tanya nama kamu siapa?" inara menghadap ke wajah rilley


"rilley terryna martinez bu" ucap rilley


"kamu smp kelas berapa?" tanya inara lagi


"kelas 9 bu"


"kamu mau jelaskan kenapa mereka mengejar kamu?" inara bicara lembut pada rilley dilihatnya rilley sangat takut dia menunduk tak lama kemudian airmatanya turun.


"jangan takut ibu adalah guru disekolah ini, ibu akan membantu kamu sebisa ibu jika kamu mengalami kesulitan" inara menggenggam tangan rilley. Hilman menatap gadis keibuan didepannya dengan senyum mengembang lebar.


"pak hilman kenapa senyum-senyum?" tanya hail yang sebenarnya tau apa yang membuat hilman tersenyum. Hilman pun berdehem dan wajahnya dibuat datar lagi seperti biasa.


"iya ga biasanya pak hilman senyum" hasybi yang memang memiliki EQ rendah tak mengerti. Habil hanya menepuk pundak hasybi dan menyuruh diam.


Kembali ke rilley


"sebenarnya ini aib keluarga bu" rilley menunduk semakin dalam


"gapapa cerita aja siapa tau kita bisa bantu" ucap inara meyakinkan. Ditatapnya mata habil yang cantik berwarna madu itu kemudian ke arah inara dan inara mengangguk.


"ayah tiri saya menjual saya ke boss besarnya bu karena seminggu lalu boss besarnya datang melihat saya. Dia memberikan sejumlah uang pada ayah tiri saya. Karena saya ga mau saya kabur dari rumah dan tinggal digudang belakang sekolah" ucapnya lirih


"apa?" triple h dan inara serempak berteriak


"tempat itu kan kotor banget rill" hail bergidik jijik


"mana gelap lagi berani banget lu" hasybi menimpali


"ga ketahuan penjaga sekolah?" tanya habil dengan tatapan khawatir yang dirasa rilley menenangkan. Rilley menggeleng.


"sampai saat ini belum ketahuan. Tapi aku udah ada rencana untuk pindah besok. Karena aku udah dapat pekerjaan di warung sebelah sana. Ibu warung bersedia kok menampung aku sampai aku lulus dan menemukan ayah kandungku" jelas rilley sambil menunjuk warung kecil yang ada diseberang jalan


"mama udah berangkat ke hongkong sebulan lalu untuk jadi tkw dipaksa papa bu. Karena hutang papa banyak"


"papa kandung kamu ada dimana?" hasybi bertanya


"dia orang austria namanya fillane martinez. Aku ga punya detilnya hanya foto ini dan alamatnya aku lupa. mama pergi ninggalin papa untuk kembali ke indonesia 4 tahun lalu dan menikah dengan papa tiri aku setahun lalu" jelas rilley.


"aku ga janji tapi aku akan usahakan cari tau tentang papa kamu secepatnya" hail menatap rilley yang diangguki rilley diselingi senyuman.


"terima kasih banyak" mata rilley menatap penuh harap hail hanya mengangguk


"karena kamu udah ga aman lagi tinggal disekolah kamu tinggal sama ibu saja ya sampai kamu bisa menemukan ayah kandung kamu" inara memberi penawaran


"apa boleh begitu bu?" rilley bertanya, "saya takut mereka akan berbuat onar dirumah ibu" rilley lemas


"gimana kalau dirumah kami?" habil bertanya entah pada siapa yang pasti semua menoleh pada habil.


Hail dan hasybi mengerutkan keningnya, "yang waras aja bang" ketus hasybi


"kalau bawa dia kerumah yang ada nanti mama sama ayah banyak tanya bang" ucap hail menjelaskan yang dibenarkan habil


"kita bisa alasan kalau dia saudara jauh pak hilman" habil memberi ide


"bang gue ga tau ya entah IQ lu sekarang udah menurun atau lu yang berlagak bodoh!" hasybi menatap tajam pada abangnya dibalas dengan tatapan tajam pula


"loh ga ada yang salah kan den?" hilman mencoba membenarkan ide habil membuat hasybi dan hail berdecak kesal.


"lu liat dengan mata lu bang, jelas-jelas rilley keliatan banget bule-nya. Lu liat juga pak hilman...." hail tak meneruskan ucapannya tapi semua memandang pada hilman. Semua mengangguk membuat hilman bingung.


"saya kenapa?" tanya hilman tak mengerti


"bapak item" hasybi to the point kemudian hilman melihat pada dirinya sendiri.


"kamu tuh IQ tinggi tapi EQ rendah" sewot inara tak suka lelaki idamanya dibilang item.


"saya kan hanya jujur" hasybi menjawab tanpa rasa bersalah.


"bener kata bu inara dia lebih baik tinggal sama bu inara" ucap habil membenarkan ucapan gurunya pada akhirnya.


"ya udah kita bantu mereka pindahan sekarang. Barang kamu banyak ga?" tanya habil pada rilley yang duduk didepannya.


"1 koper isi baju sama buku aja kok" jawab rilley


"nah kan ga mungkin tuh boncengan motor bu inara yang gede itu sambil bawa-bawa koper" hail pun bicara.


"tapi kita harus telepon mama dulu takutnya mama khawatir begitu pulang kita ga da dirumah" hasybi memperingatkan.


"biar aku aja yang telepon" habil mengajukan diri


"mau bilang apa bang?" tanya hasybi


"bantuin temen pindahan" jawab habil singkat yang diacungi jempol oleh adik-adiknya.


"kalian benar-benar anak jenius" puji inara yang disambut senyum hail sedang hasybi hanya menaikkan alisnya.