Triple Story

Triple Story
bab 77



Pagi2 setelah shalat subuh berjamaah hasybi meminta ayahnya untuk berkumpul sebentar. Araf meminta perawat menjaga nasya terlebih dahulu. Setelahnya dia bertanya pada para putranya, "ada apa nak?"


"ayah... hasybi mau bahas soal abang" hasybi memulai pembicaraan. Habil, hasybi dan hail duduk bersila didepan araf.


"iya nak silahkan"


"abang bisa mulai jelaskan" pinta hasybi.


"ayah... habil menyukai seorang gadis, gadis itu rilley dia pernah kesini 2 gahun lalu. Tapi kami tinggal ldr. Dia di rusia"


"lalu?" araf menatap lekat pada putranya


"habil udah serius setelah dia lulus kuliah habil ingin menikahinya. Tapi sayangnya kami terkendala restu yah" habil menundukkan kepalanya araf terdiam mendengarkan cerita anaknya.


"kamu mencintai anak itu?" habil menganggukkan kepalanya


"masalahnya disini adalah jika abang menikahi gadis itu ayah si anak meminta abang untuk stay dirusia dan membantu bisnis mereka. Rilley anak tunggal yah" hasybi membantu habil untuk menjelaskan. Araf menganggukkan kepalanya menyentuh pundak putranya.


"kamu berat karena ga mau meninggalkan kami ya?" habil menganggukkan kepalanya lagi tak menjawab, "nak... dengerin ayah... kalau kamu serius dengan gadis itu ingin nikahin dia datangilah orangtuanya. Kejarlah bahagiamu nak. Ayah dan mama baik2 saja disini kami bisa menjaga diri kami sendiri. Kami ga mau jadi beban kamu. Kami merestui nak, kalian bisa mengunjungi kami kapan pun kalian senggang. Jaman sekarang teknologi semakin canggih kamu bisa menghubungi kami, video call jarak bukan masalah. Lagipula diaini ada hasybi dan hail"


"Ayah habil adalah anak lelaki, anak lelaki milik ibunya dunia akhirat. Habil pun bertanggung jawab atas hidup kalian dihari tua kalian. Habil ga bisa mengabaikan itu yah" habil menangis. Araf, hasybi dan hail memeluk habil.


"bang... abang ga melepas atau mengabaikan ada kami, kami juga ada kewajiban mengurus ayah dan mama. Percayakan sama kami bang" ucap hail yang ikut menangis.


"nak jangan menjadikan beban kami masih sehat jangan khawatir" araf menepuk pundak anaknya.


"kalian bukan beban kalian adalah harta habil. Habil rela kehilangan mereka habil hanya butuh waktu aja yah untuk melupakan" ucap habil kemudian menarik nafas dalam2, "kalian tetaplah pilhan habil karena kalian keluarga habil. Terima kasih udah mencintai dan mengerti habil" habil tertunduk lagi.


Araf memeluk putranya erat, menepuk pelan punggung habil, "terima kasih kalian putra2 terbaik ayah" araf meraih semua putranya dalam pelukannya.


"ya sudah sekarang kamu istirahat ya ga udah kekantor biar kantor diurus hail dan asisten kamu. Kamu istirahat dulu sampai kamu sembuh" ujar araf yng diangguki habil.


Seperti biasa araf langsung mengajak nasya sarapan bersama dia sarapan sambil menyuapi nasya setelahnya membantu nasya meminum obatnya. Setelah kedatangan hasybi, araf banyak terbantu karena hasybi terus memantau perkembangan nasya tanpa harus selalu kedokter.


"bang hasybi..." hail mengejar hasybi saat hasybi hendak masuk kedalam mobilnya.


"ada apa il?"


"bang apa kita hubungi rilley menanyakan tentang kelanjutan hubungan bang habil"


Hasybi diam sejenak, "mungkin kita bisa bertanya sama rilley dulu. Setelah tau bagaimana perasaan rilley kita cari jalan keluarnya" hail mengangguk setuju.


***


Hari ini hail menyelesaikan pekerjaan dengan cepat karena memang sebagian besar sudah diselesaikan habil. Hail pulang kerja langsung kerumahnya karena akan ada acara makan malam keluarga. Seluruh keluarga akan berkumpul begitu pun joana dan keluarganya.


Selepas maghrib hail baru sampai dirumah, rumahnya terlihat ramai dengan kedatangan kakek, nenek, faiqa, danu dan kelurganya juga para sepupu dan ayah ibu mereka. Setelah hail menyalami mereka dia berpamitan kekamarnya untuk mengganti pakaian.


"raf papi sama mami ga nyangka sikembar dah besar. Sekarang hasybi sudah meraih gelar dokter spesialis dan mau nikah" ucap papi.


"yaaa itu kan karena joana yang gencar ngejar hasybi kek" ucap alana sambil main game diponselnya


"hahaha" semua tertawa mendengar ucapan alana


Selepas isya mereka joana dan keluarganya datang. Nasya menyendiri dibangku goyang dengan album foto ditangannya yang masih tetap diawasi oleh perawat. Faiqa menemani nasya, "hai sya..." nasya hanya melihat tersenyum dan fokus lagi pada album foto dipangkuannya.


"lagi liat foto siapa?"


"anak2" jawab nasya singkat


"anak2 sekarang udah besar ya sya" nasya hanya menganggukkan kepalanya.


Makan malam berjalan dengan lancar, acara lamaran ditetapkan seminggu lagi. Karena daffa tak bisa lama2 tinggal dijakarta banyak yang harus dikerjakan diluar negeri. Araf menyetujui begitu pun keluarga besar araf.


Setelah kepulangan joana dan keluarganya habil pamit langsung masuk kekamarnya. Dikamarnya habil berdiri disamping jendela besar kamarnya, "rill semoga kamu bahagia tanpa aku. Maafkan aku" gumam habil pelan yang hanya dirinya yang mendengar suaranya.


***


1 hari


2 hari


3 hari


Hingga seminggu lamanya tak juga ada jawaban dari rilley. Bahkan pesannya tak dibaca oleh rilley di sosmednya.


"gimana il?" hasybi yang masuk tanpa mengetuk pintu mengejutkan hail


"abang ngagetin aja. Belum ada jawaban bang" ucap hail yang melepaskan headset dikepalanya.


"apa rilley bener2 mau melupakan bang habil ya"


"bisa jadi"


"kadian abang kita harus bantu il"


"cariin cewe lagi aja bang"


Hasybi melotot pada adiknya, "kita ga kaya lu yang gampang banget move on dan gonta ganti cewe"


"ck ihhh itu kan dulu bang" kesal hail


"mang sekarang ga?"


"ya ga lah tobat gue bang"


"hahaha ga percaya gue" hasybi menepuk-nepuk pundak hail dan meninggalkan hail dikamarnya.


Saat hasybi keluar ponsel hail berbunyi tak ada nama disana, "halo..."


"halo il apa kabar?"


"siapa ini?"


"gue cio... akhirnya setelah bertahun2 dapet juga gue nomor hp lu"


"ada apa?" hail memutar bola matanya malas.


"il... lu ga mau apa ksih gue kesempatan? gue ga mau nyerah"


"itu urusan lu. Dah malem gue ngantuk" tanpa kata hail menutup ponselnya.


"apa gue keterlaluan ya sama cio. Selama ini gue selalu nolak dia tapi emang hati gue ga mau deket dia akkhhh" hail menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Hail merebahkan dirinya dikasur dia memejamkan matanya. Sekilas bayangan zivanya memakai hijab melintas dipikiran hail. Dia dengan cepat membuka matanya, "kok bayangan zivanya tiba2 melintas sih" hail duduk diranjangnya.


Hail mengusap wajahnya kasar kemudian melihat ponselnya mencari nomor wa zivanya yang dia punya hanya nomor singapurnya. Hail mengirim pesan


hail:


assalamu'alaikum


Hail pikir tak akan mendapat balasan karena yang dia tau nomor zivanya tak aktif tapi ternyata zivanya membalas.


"wa'alaikumsalam"


Hail terkejut mendapat balasan dari zivanya