Triple Story

Triple Story
bab 16



coba dari awal ku bilang


dari awal kita bertemu kau tak pernah ada rasa


karena kau tak pernah untuk rasakan


rasa yang begitu sakit


yang selalu kurasakan


oh aduh aku begini karena cinta


oh aduh ku begini karena sayang


tapi kau tak pernah mau mengerti


biar semua telah kusimpan dihati


.


.


.


Hail melihat inara memberikan minuman pada hilman diparkiran tempat biasa hilman menunggu. Wajah hail yang awalnya cerah menjadi mendung saat melihat interaksi mereka. Hail menunduk menghembuskan nafas kasar. Dia berbalik ke lapangan seharusnya sekarang adalah jam pelajaran kimia namun hail enggan masuk karena suasana hatinya sudah sangat buruk. Dia menuju lapangan basket indoor disekolahnya dia bermain dengan sangat kesal. Selama ini hail selalu membuat setiap wanita kesal dengan tingkahnya namun kali ini sepertinya karma sedang menjalankan misinya pada hail.


Hail terus mendrible bolanya dengan kasar dan men-shoot pun dengan sangat kasar. Karena saking kesalnya hail melempar bola sambil berteriak keras, "ahhhh.....!!!!" beruntung saat ini jam pelajaran berlangsung hingga sekolah sepi terutama lapangan basket tempat hail bermain sendiri.


Hail terduduk setelah melempar bola dengan sangat keras dia ngos-ngosan. Sambil mengatur nafas dia mensejajarkan kakinya kedepan. Dia menengadahkan kepalanya saat dia sedang memejamkan matanya ada sebuah suara menyapanya, "minumlah kamu pasti lelah" seketika hail membuka matanya.


"ahhh lu lagi ngapain lu ngikutin gue?!" tanya hail kasar karena memang suasana hatinya sedang sangat buruk.


Gadis itu mengulurkan kedua tangannya, "namaku cio"


Hail melengos tak menyambut tangan gadis yang beberapa hari lalu memberikan kado yang entah kado itu diletakkan dimana oleh hail karena memang hail tak pernah peduli.


"kamu pasti patah hati ya"


"bisa ga lo tinggalin gue sendiri, gue ga suka diganggu!" ucapan hail terasa tajam ditelinga karena tak ada nada ramah disuaranya.


"aku suka sama kamu, aku ga akan menyerah untuk bisa dapetin kamu" gadis itu mendekat pada wajah hail membuat hail risih.


"minumlah aku pergi dulu" ujar gadis itu melenggang pergi meninggalkan hail sendiri. Hail melirik pada minuman yang ditinggalkan cio, hail berdiri dan melemparkan minuman itu kedalam tong sampah.


Hail meraih tasnya didalam kelas tak mempedulikan kelas yang memperhatikan dirinya. Arthur dan sean mendekat pada hail menarik lengan hail, "mo kemana il? sebentar lagi kelasnya bu inara kan" arthur mencegah hail pergi.


"gue badmood" jawab hail dengan tampang seramnya. Saat hail keluar dari kelas dia berpapasan dengn inara. Inara mencegah hail yang hendak pergi.


Inara memperhatikan wajah hail yang tak bersahabat dan sorot matanya terlihat tajam seperti hendak membunuh siapa pun didepannya.


"hail tunggu...." Inara berusaha memegang lengan hail namun ditepis hail dengan gerakan cepat hail tiba-tiba ada dibelakang inara dan beranjak pergi.


"hail kalau kamu pergi dijam pelajaran saya, saya ga akan pernah kasih kamu nilai bagus!" teriak inara namun hail tak peduli.


Tak habis akal inara mengirim pesan pada hilman.


Mas hilman:


mas hail sepertinya mau kabur


inara:


ok terima kasih


Setelah mengirim pesan hilman segera beranjak dari tempatnya dan mencari keberadaan hail melalui gps. Namun memang dasarnya anak pintar gps diponsel hail dimatikan.


Hilman pun menelepon nasya.


dddrrrrrtttt..... ddrrrr....


"ya pak hilman ada apa?" tanya nasya sambil memberi resep pasien.


"nyonya maafkan saya yang lalai menjaga anak nyonya" suara hilman yang panik membuat nasya khawatir


"apa maksud pak hilman?" tanya nasya dengan suara khawatir takut terjadi apa-apa dengan anak-anaknya.


"saya tidak menemukan den hail nyonya disekolahnya. Saya pun tak melihat kepergian den hail nyonya" jelas hilman. Nasya mengerti memang anaknya yang 1 itu sangat sulit dikendalikan oleh orang lain.


"ya sudah pak hilman tetap disekolah biar saya yang cari hail" ucap nasya yang diiyakan oleh hilman. Nasya bergegas merapikan jas dokternya dan memakai cadar setelah sebelumnya memakai masker. Dia mengabari suaminya


imamku:


mas hail kabur dari sekolah aku akan mencari dia tolong utus orang juga untuk mencari. Aku takut terjadi apa-apa


Tak sampai 10 menit setelah nasya sampai dimobilnya dia mendapat balasan dari araf suaminya


imamku:


jangan khawatir sayang hail pasti ada disasana. Kamu ga usah cari dia biar aku aja yang kesana. Tunggu aja dirumah kami akan segera pulang.


Nasya membaca pesan dari araf dan bernafas lega setidaknya dia tau anaknya ada dimana. Dia pun menurut pada suaminya untuk segera pulang.


******


Habil dan hasybi pulang tanpa hail mereka bingung dan bertanya pada hilman, "pak kita ga tunggu hail?" habil yang tidak tau keberadaan adiknya bertanya.


"saya ga tau den hail dimana den tadi waktu jam pelajaran bu inara dia kabur. Tapi saya ga tau kepergian den hail" ujar hilman menjelaskan yang diangguki habil dan hasybi.


****


Araf melihat kepada anaknya yang sedang berlatih tinju dengan keras. Terlihat hail melampiaskan semua kekesalannya pada samsak didepannya. Araf mengganti pakaiannya dengam celana pendek dan kaos oblong. Araf menghampiri puteranya.


"mau fight sama ayah?" araf menepuk pundak puteranya


Hail menoleh pada araf kemudian naik ke ring diikuti araf. Setelah pemanasan seperlunya mereka segera fight sambil bincang-bincang.


"anak ayah lagi kesal banget ya?" araf hanya menangkis pukulan hail yang memang tak ada apa-apanya.


"iya yah aku lagi kesal sama seorang cewe!" hail memeluk leher ayahnya yang ditahan sekuat tenaga oleh araf.


"siapa cewe itu kok bisa bikin playboynya ayah patah hati?!" araf mendorong hail membuat hail mundur 3 langkah.


"dia guru baru disekolah hail yah... namanya bu inara" hail menangkis pukulan araf.


"pantas dia ga melihat kamu karena pasti dia pikir kamu hanyalah anak-anak" araf mengunci hail hingga tak bisa bergerak.


"itu karena bodyguard yang ayah pekerjakan. Dia jadi saingan aku ahh..." hail menjerit karena merasa sangat kesakitan.


Araf melepas kunciannya, "maksud kamu hilman? inara suka sama hilman?" araf berdiri dihadapan hail yang masih merebahkan dirinya dilantai ring. Sedang araf bertolak pinggang tak percaya.


"siapa lagi?!" kesal hail sambil memejamkan matanya.


Araf berjongkok, "saingan anak ayah ternyata berat"


"yah" hail menoleh pada araf dengan kesal.


"kita pulang sayang mama kamu pasti sangat khawatir mendengar laporan hilman kalau kamu hilang"


"yah..." panggil hail yang masih tak beranjak dari tempatnya rebahan.


Araf menoleh, "hemmm"


"bisa ga bodyguard kita ayah ganti dengan yang lain?" pinta hail dengan nafas masih terengah-engah


"akan ayah pikirkan" ucap araf sambil tersenyum dan meninggalkan hail untuk mengganti pakaian.