
Hail turun setelah dari atap hendak beranjak kekelasnya saat cio datang dan mencegah hail. Setiap hail bergeser cio pun ikut bergeser mencegah jalannya hail. Hail menghela nafas kesal, "kenapa?" tanya hail dengan wajah juteknya.
Cio tersenyum manis memberikan selembar surat, "ini..."
"apa ini?"
"undangan" jawab cio dengan senyum manisnya
"undangan apa?" heran hail
"pernikahan kita" cio mendekat pada wajah hail dan tersenyum
"pfftt..." arthur dan sean menahan ketawanya
"undangan ulang tahun aku, kebetulan ulang tahun aku itu selepas kalian ujian. Jadi setelah kalian stress karena ujian kita bisa have fun dipesta aku kalian juga dapat kok nih" terang cio sambil memberikan undangan pada 2 teman hail
"ok thanks" hail beranjak dan melewati cio
"pastikan kamu dateng, kalau ga kamu akan tanggung akibatnya" ancam cio pada hail
Hail membalikkan badannya, "in shaa Allah" hail tersenyum untuk pertama kalinya dengan cio. Arthur dan sean melewati cio mengikuti hail.
Cio tersenyum senang melihat hail tersenyum padanya untuk pertama kalinya hail bersikap baik dan tidak berkata kasar padanya.
......
Joana melangkah masuk kedalam rumah triple h dengan santainya. Dia sudah terbiasa keluar masuk rumah triple h seperti rumah sendiri karena dia adalah anak daffa teman araf sedari smu.
"assalamu'alaikum tante...." sapa joana pada nasya yang sedang duduk manis dibangku pinggir kolam renang sambil melihat putra-putranya renang.
"wa'alaikumsalam sayang..." nasya menyambut joana dengan senyum hangat.
"tante dari mama..." joana menyerahkan box kue
"pas banget tante lagi pengen ngemil" wajah nasya yang tak tertutup cadar terlihat sumringah.
"kamu disini ya sampai makan malam, nanti tante yang telepon mama kamu" ucap nasya yang diangguki joana. Joana merasa senang karena dia bisa melihat hasybi. Dia sangat jarang bisa melihat hasybi terlebih sekolah mereka berbeda. Joana seumur dengan hasybi hanya saja joana masih smp kelas 2 sedang hasybi sudah smu kelas 3.
"jo... ikut renang sini!" teriak hail.
"ga ah ga mood gue" jawab joana. Dia hanya duduk menopang dagu sambil memperhatikan hasybi yang sedang renang dengan saudara-saudaranya. Joana sangat menikmati momen ini terlebih melihat hasybi tersenyum itu adalah hal paling langka yang paling ditunggu joana.
"bang gue udahan ah..." hasybi naik terlebih dahulu dan mengambil handuk dari tangan joana.
"jo nanti lu ikut makan malam sama kita?" habil meraih handuk disisi joana dan bertanya pada joana yangbsedang fokus melihat ke arah hasybi.
"iya bil, eh tar malem bakar-bakar sosis yuk" joana memberikan ide agar dia bisa lebih lama dikeluarga ini karena joana tau hasybi akan segera berangkat kejerman untuk kuliah kedokteran. Apalagi dia juga akan mengambil spesialis pastinya lebih lama.
"yuk masuk" ajak hasybi tapi dia sendiri sudah berjalan lebih dulu diikuti hail yang menemplok pada hasybi.
"ma..." nasya yang sedang menata makanan dimeja makan menoleh saat hail dengan manjanya memeluk mamanya.
"ya sayang..."
"ma... malam ini kita bakar-bakar yuk. Bbq-an gtu ma" ucap hail
"iya boleh. Kalian belanja sana nanti biar mama suruh bi minah sama yang lainnya menata oerlengkapan ditaman samping kolam renang" ujar nasya
"makasih mama mmuuaachhh" hail mencium pipi mamanya. Nasya tersenyum melihat tingkah manja hail. Padahal sebentar lagi dia akan punya adik.
"biar hasybi aja sama joana yang beli lu kan belum ganti baju. Nanti gue biar bantu art nata tempatnya" hasybi menoleh pada habil.
"abang ga inget kata mama, kalau bukan muhrim ga boleh berduaan nanti yang ke-3 itu syaithon" ucap hasybi.
"oiya ya... yaudah hail buruan ganti baju" perintah habil yang langsung diikuti hail.
Joana, habil, hasybi dan hail berangkat ke supermarket dekat rumah mereka belanja seperlunya.
"bang kita panggil yuk sekalian om ivan, tante qila, alana sama gibran" ucap hail yang sedang mendorong trolly.
"iya bang biar rame" sahut hasybi
"ya udah gue telepon dulu mereka" habil mengirim pesan pada sepupu dan om tantenya.
Selesai berbelanja habil meminta art membantu mereka menata belanjaan. Selepas shalat maghrib mereka berkumpul dikolam renang termasuk araf yang semenjak kehamilan nasya dia pulang lebih awal.
Nasya tak mempeesiapkan makan malam karena anak-anaknya berencana Bbq-an mereka juga mengundan saudara-saudaranya. Leni, bayu, zaki, hana danu juga faiqa datang. Rumah nasya jadi terlihat ramai.
"bil... mama mau dong dibakarin yang besar itu sosisnya tapi sedikit gosong ya" pinta nasya pada habil yang sedang membakar sosis bersama ivan dan hasybi. Sedang hail, alana, gibran dan aqila sedang menusukkan daging dan sosis ke tusukan sate.
"bahagianya ya melihat kita semua bisa berkumpul" ucal leni sambil menatap pada cucu-cucunya.
"iya mba apalagi kak danu jarang banget kan bisa ikut kumpul" ucap faiqa disamping suaminya.
"wajarlah suamimu kan aparat negara" jawab leni
"lo cari apa sya?" tanya hana pada nasya yang sedang sibuk bolak balik seperti mencari sesuatu.
"mas kamu darimana?" tanya nasya saat berbalik melihat suaminya duduk diaamping bayu ayah mertuanya.
"dari tadi aku disini sya... kamu kenapa?" tanya araf yang langsung berdiri meraih nasya agar duduk disampingnya.
"jangan-jangan dikehamilan ini lu jadi pelupa juga sya" tebak hana
"hah masa sih?" tanya nasya, hana langsung menepuk jidatnya. Yang lain pun hanya menggelengkan kepalanya.
"ma... ini sosis mama, yang ini buat yang lain" habil memberikan 2 piring sosis bakar.
"loh punya mama kok gosong bil?" tanya nasya membuat habil bingung
"lah kan tadi mama yang minta gosong"
"owh iya ya?" nasya mengangguk dan meraih sosisnya dan memakan sosis itu.
"sya are you ok?" faiqa meraih tangan nasya. Nasya tersenyum dan mengangguk saja.
"dia menikmati banget sosisnya seperti anak kecil pi" ucap mami yang melihat keanehan pada diri nasya.
"namanya orang hamil mi, wajarlah" jawab bayu
Araf melayani nasya yang sedang memakan sosis sesekali dia menyeka mulut nasya dengan tissue. Sebenarnya araf juga khawatir dengan kondisi nasya terlebih nasya sangat sering menjadi pelupa terkadang sampai linglung seperti orang bingung. Araf sangat ingin memeriksakan nasya ke dokter namun dia belum menemukan alasan yang tepat agar nasya mau berobat selain ke dokter kandungan.
"aku harap kamu selalu baik-baik aja sayang" batin araf
"semoga penyakit keturunan dari ayahnya mahesa tak menurun pada nasya" batin danu yang sebenarnya sangat khawatir juga dengan kondisi keponakannya.