
Habil berjalan dilobi kantornya diiringi 4 orang yaitu 1 asisten pribadi, 1 sekretaris dan 2 orang direktur mendampinginya. Sambil berjalan dia mendengarkan laporan dari sekretaris dan asistennya mengenai perkembangan perusahaan. Wajah habil terlihat dingin tanpa ekspresi. Dia selalu seperti itu semenjak dia mengambil alih perusahaan nyaris dirinya tak pernah tertawa ataupun tersenyum lagi. Wajahnya selalu terlihat dingin dan tak bersahabat. Mungkin karena tekanan pekerjaan diusianya yang masih tergolong muda. Sebenarnya hal ini sudah diketahui oleh araf namun dia tak bisa berbuat apapun karena dia sendiri harus menjaga nasya yang kini benar-benar melupakan semuanya bahkan namanya sendiri pun kini dia sudah lupa setelah 5 tahun mengalami alzheimer.
Habil duduk dikursi kebesarannya dengan banyak kertas dimejanya juga laptop dan 3 buah komputer. Setelah mendengarkan beberapa jadwal hari ini habil meminta semua orang keluar dari ruangan. Setelah semua orang keluar dia fokus pada pekerjaannya.
Jam makan siang telah tiba, sekretaris habil mengetuk pintu.
tok... tok... tok...
"masuk" perintah habil
"pak waktunya makan siang dengan pt. indrasastra" sang sekretaris memberikan sebuah ipad. Habil berdiri tanpa menoleh pada ipad tersebut. Saat habil dilobi hendak memasuki mobil sebuah suara memanggilnya.
"habil..." sontak sekretaris dan asisten habil pun ikut menoleh. Dilihatnya seorang gadis cantik dengan rambut dikuncir setengah dan wajah tanpa riasan. Tapj masih terlihat cantik. Gadis itu segera berlari pada habil. Dengan nafas terengah-engah gadis itu tersenyum didepan habil.
"hai bil... apa kabar?" habil menyipitkan matanya memandang gadis itu dari atas kebawah lalu ke atas lagi.
"kamu... lupa sama aku ya?" gadis itu terbata melihat betapa acuhnya habil padanya, "aku rilley" ujar rilley dengan tertunduk.
Sekretaris habil berbicara pelan pada habil, "pak rapat akan diadakan 20 menit lagi"
"kamu tunggu diruangan saya. Selepas rapat saya kembali" ucap habil tegas kemudian menoleh pada sekretarisnya, "antar dia keruangan saya berikan yang dia butuhkan sampai saya kembali" ucap habil dingin.
"baik pak" sekretaris cantik itu pun menunduk memberi hormat pada habil. Setelah kepergian habil sekretaris itu melihat pada rilley, "mari ikut saya nona" Rilley mengangguk ragu. Dia mengekori sekretaris habil tentunya dengan pandangan aneh dari karyawan disana.
Sesampainya diruangan habil sekretaris itu membukakan pintu dan meminta rilley duduk disofa, "silahkan anda menunggu tuan habil disini. Kalau ada yang dibutuhkan bisa menghubungi saya"
Rilley melihat pada sekretaris itu, "terima kasih" sekretaris tersebut meninggalkan rilley sendiri diruangan itu setelah memberikan secangkir teh hangat dan cookis pada rilley. Rilley berkeliling ruangan habil memandang takjub pada cinta pertamanya yang sudah sangat sukses diusia muda. Dia melihat meja habil dan hanya terdapat foto habil dan keluarganya.
Rilley sedang libur kuliah untuk itu dia berinisiatif untuk berkunjung ke indonesia. Dia sangat merindukan habil lelaki yang sudah 5 tahun tak ditemuinya. Bahkan dalam 3 tahun terkahir habil terkesan cuek dan jarang membalas pesannya. Kini dia paham betul kenapa habil bisa seperti itu. Karena diusianya yang masih 19 tahun dia menjadi tulang punggung dan harus bekerja keras.
Setelah lebih dari 45 menit rilley menunggu akhirnya habil datang juga. Saat masuk rilley melihat habil yang dingin bukan habil yang dulu hangat dan banyak senyum.
"ha.. hai bil" sapa rilley saat melihat habil masuk dia berdiri dan menyapa terlwbih dahulu.
"hmmm" hanya itu jawaban habil membuat rilley shock untuk sesaat rilley terpaku tak dapat bicara. Hingga habil duduk didepannya.
"udah berapa lama kamu diindo?" tanya habil sambil membolak balikkan kertasnya.
"aku baru sampai tadi pagi" jawab rilley pelan
Habil menoleh pada rilley, wajah oval dengan mata biru itu uang selalu dirindukannya, "astaghfirullah" habil langsung mengalihkan pandangannya, "ehemm..." habil berusaha menetralkan perasaannya.
"sepertinya aku ganggu ya... maaf... kalau gitu aku pamit" ucap rilley dia hendak berdiri saat itu habil menarik tangannya.
"3 hari lagi aku kembali ke rusia" jawab rilley. Ada perasaan tak terima dihati habil karena rilley hanya sebentar diindonesia.
"kamu ngapain ke indonesia kalau cuma sebentar?" ketus habil membuat rilley mencelos. Dia pun tertunduk.
"aku cuma pengen ketemu kamu" ujar rilley pelan, "aku pamit assalamu'alaikum" rilley berjalan keluar. Habil masih terdiam tak ingin mencegah kepergian rilley. Sebenarnya habil pun merindukan rilley. Namun dia sendiri tak tau harus bagaimana mengungkapkan.
Saat rilley sudah berada diluar gedung dia melihat gedung perkantoran itu, "seharusnya aku ga kesini" ucap rilley pelan, "seandainya kita ga pernah ketemu aku ga akan merasakan rindu yang teramat dalam seperti ini" rilley meremas dadanya, "rasanya sakit saat orang yang sangat dirindukan tak peduli lagi"
Saat rilley hendak keluar gerbang dia menabrak seorang lelaki yang sangat mirip wajahnya dengan habil hanya yang membedakan pakaian mereka saja. Jika habil terlihat rapih layaknya pekerja kantoran lain halnya dengan lelaki didepannya entah dia ingin memanggil hasybi atau hail. Lelaki didepannya memakai kemeja kotak2 yang ga dikancing dengan kaos polos didalamnya dan celana jeans.
"sorry..." ucap hail itu
"gapapa" jawab rilley
"eh tunggu kayanya gue pernah liat lu dimana ya?" hail mendekap tangan didepan dada.
"owh ternyata dia hail" pikir rilley kemudian rilley tersenyum, "hail apa kabar?" rilley menyodorkan tangannya.
"darimana lu tau kalau gue hail?" hail memicingkan matanya
"barusan gue ketemu habil diatas ga mungkinkan dia tau2 turun kebawah hanya dalam itungan menit apalagi sampai ganti pakaian. Hasybi seinget gue kuliah dijerman lagian gue rasa hasybi ga akan negor gue deh. Kalau pun nabrak paling bilang sorry tanpa liat ke gue" analisa rilley.
"hahahaha lu paham banget kita ya. hmmm siapa lu?" hail mendekati wajahnya ke arah rilley. Sontak rilley mundur dan menyentil kening hail, "auwwww... sakit tau!"
"lagian suruh siapa deket2. Gue rilley anak smp yang pernah kalian tolong dulu disekolah" hail mengangguk. Seketika wajahnya redup ingat inara.
"udah lama ga ketemu kabar lu sendiri gimana?" tanya hail.
"gue baik il alhamdulillah. Oiya gue turut berduka cita atas meninggalnya bu inara"
"udah berlalu dan udah lama juga kita cuma bisa berdoa untuk dia. Lu ngapain disini?"
"gue pengen ketemu habil tapi kayanya dia sibuk banget" rilley memandang pada gedung tinggi didepannya.
"abang gue sekarang banyak berubah rill semenjak dia ngegantiin posisi bokap diperusahaan. Dia jadi orang yang serius dan kaku" suara hail sepeti tersirat perasaan kasihan.
"gue paham karena dia harus jadi tulang punggung diusia dia yang masih remaja. Beban dan tanggung jawab dia besar banget"
"lu suka abang gue ya" pertanyaan hail membuat rilley terdiam