Triple Story

Triple Story
bab 22



Jumat malam acara dimulai setelah makan malam bersama permainan dimulai. Mereka diminta berpasangan. Hail ditarik oleh seorang wanita yang selama ini mengejarnya dia adalah cio, "hai..." cio tersenyum senang berhasil menarik tangan hail.


Hail melepas tangannya dan mencari-cari keberadaan hasybi yang sudah lepas dari pandangannya karena ditarik oleh cio, "hail..." teriak cio yang tak diburis hail. Hail masih mencari-cari kebaradaan abangnya.


"hail..." cio menarik tangan hail dengan paksa.


"apa sih?!" hail merasa kesal


"lu itu pasangan gue!" teriak cio


"gila" hail berlalu begitu saja dia msih mencari keberadaan hasybi. Cio masih mengikuti hail namun hail tak peduli. Dibawah pohon dia melihat hasybi sedang menatap ke arah keramaian berdiri dengan tangan disilangkan. Saat hail hendak mendekat terlihat seorang wanita mengejutkan hasybi dari belakang hail tersenyum ternyata dia adalah joana.


"hai... kok lu sendiri ga cari pasangan?" tanya joana sambil tersenyum. Hasybi hanya menggeleng. Hail mendekat pada mereka.


"bang gue nyariin lu juga" hail setengah berteriak.


Hasybi menoleh pada adiknya, "lu tiba-tiba ngilang" jawab hasybi.


"maaf bang" hail menunduk menyesal


"il... sekarang gue mau jadi pasangan hasybi lu bisa kan lepasin dia untuk malam ini?" joana bertanya sambil melihat pada hail. Hasybi menoleh pada joana.


"gue ga mau nanti lu ga bisa dipercaya lagi!" hail enggan melepas abangnya.


"cih... kaya anak kecil!" cibir cio


"ini siapa il? mangsa baru?" joana melirik pada wanita berambut blonde dengan mata biru yang cantik.


"gue ga kenal" jawab hail ketus yang hanya diangguki oleh joana.


"il lu sama dia aja sana gue sama joana gapapa kok. Lagian gue tau joana" seru hasybi.


"ga bang lu itu amanah bang habil gue ga mau lu sama yang lain" hail terlihat serius.


"gapapa il... abang percaya kok sama joana" tiba-tiba dari belakang habil datang dan berseru.


"abang serius?!" hail bertanya pada abangnya yang diangguki hail


"kita harus bisa percaya sama hasybi mulai sekarang" habil memegang pundak hasybi.


"jo kalau sampai abang gue..."


"il gue bukan bayi lah!" kesal hasybi


"ayo kita gabung kesana" habil mengajak semua ikut bergabung ke lapangan.


Permainan berpasangan dimulai dengan berdansa bersama, melatih kekompakan dengan berbagai permainan yang sudah dirancang habil dan tim. Habil memegang kamera untuk mengambil video hasybi yang terlihat bahagia dan banyak tersenyum bersama joana. "baru kali ini gue liat hasybi bisa tersenyum biasanya selalu mode serius. gue harus abadiin dan kirim ke mama" habil bermonolog.


"gimana bi hari ini?" tanya joana saat acara selesai joana mengajak hasybi duduk dipinggiran lapangan.


"lo sendiri?" hasybi yang awalnya mengangguk dia menoleh pada joana dan bertanya.


"thanks jo" ucap hasybi. Joana melebarkan senyumnya dia tak pernah sekali pun mendengar hasybi berterima kasih dan baru kali ini dia mau berterima kasih.


"mama, bang habil dan hail mereka terlalu berlebihan memperlakukan gue seperti anak kecil. Bahkan gue tau kalau bang habil takut banget gue kena ocd. Padahal gue cuma ga mau terlalu banyak bergaul agar gue bisa fokus belajar. Gue cinta kebersihan bukan karena ocd karena mama selalu bilang kebersihan sebagian dari iman. Diantara semua kelurga gue cuma ayah yang memperlakukan gue layaknya anak biasa bukan yang punya kelainan macam yang bang habil khawatirkan. Jujur gue emang alergi debu dan ga bisa makan sembarangan tapi bukan berarti gue ga bisa hanya gue harus coba membiasakan diri" hasybi menjelaskan keluh kesahnya. Joana memperhatikan dengan seksama, hasybi yang dia tau tak pernah mau terbuka dan irit bicara kini bisa bicara cukup banyak pada joana.


Dari jauh habil memperhatikan adiknya yang sedang duduk berdekatan dengan joana. Dia tersenyum, "apa cuma joana yang bisa dekat sama lu bi selain keluarga" gumam habil.


Disisi lain habil melihat hail yang terus diikuti gadis blonde berkaca mata yang cantik bukan main. Terlihat hail merasa jengah dan kesal. Habil melipat tangannya, "playboy gue pada akhirnya dibuat kewalahan sama seorang cewe" habil tak berminat menolong karena dia tau hail dapat mengatasi sendiri.


"il... tunggu!" cio berteriak membuat semua orang disana menoleh kepada mereka.


"mau lo apa sih?! bisa ga ga usah ganggu gue!" hail membentak cio dengan suara keras.


"tumben hail marah biasanya dia ga pernah teriak sama cewe" bisik-bisik orang disekitar mereka. Cio hanya melihat pada hail fokus pada hail tanpa peduli bisik-bisik disekitarnya.


"il kenapa lo ngindarin gue" tanya cio


"cio atau siapa pun nama lo, gue ga kenal sama lo thanks udah jadi pasangan gue malam ini. Sekarang jangan ikutin gue lagi ok!" hail beranjak dari sana menuju tendanya.


Hasybi dan joana yang melihat ke arah hail dan cio bicara, "kok tumben hail menolak pesona cewe secantik dia?" tanya joana pada diri sendiri.


"hail ga sembarangan lah pilih cewe untuk diajak jalan walaupun katanya dia playboy. Dia ga suka sama cewe agresif macam dia" hasybi menjawab pertanyaan joana.


"siapa sih cewe itu?" tanya joana penasaran


"mana gue tau" jawab hasybi cuek.


"ah iya lu kan manusia paling ga mau tau ya"


"ishhh..." kesal hasybi dia kemudian bangkit hendak meninggalkan joana.


"mo kemana bi?" tanya joana yang ditinggal sendiri


"tidur" jawab hasybi singkat tanpa menoleh kebelakang


🌸🌸🌸🌸


Annasya sedang duduk diatas ranjang sambil melihat ke arah ponselnya sambil tersenyum. Araf yang baru keluar dari toilet melihat pada istrinya yang tersenyum senang melihat ke arah ponsel bertanya sambil mengusak rambutnya dengan handuk, "senyum-senhum sendirk kenapa sih sayang?"


Nasya menoleh pada araf, "mas aku jadi kangen anak-anak"


"besok kita kesana ya sekarang kan udah malam. Habil kirim video?" tanya araf sambil menyisir rambutnya.


"iya mas disini keliatan banget hasybi senang banget mas. Dia juga banyak tersenyum sama gadis ini. Menurut habil cuma joana gadis smp bekas teman sekelas hasybi yang bisa dekat dan bergandengan tangan tanpa hasybi tepis" jelas nasya.


"kalau anak-anak kita sekolah normal ga akselerasi mungkin hasybi dan gadis ini masih sekelas ya mas" ucap nasya.


"kita punya anak-anak terlalu pintar" seperti ada rasa penyesalan dalam kalimat nasya.


"sayang kita harus bersyukur anak-anak jadi anak soleh dan cerdas diluar sana banyak orang tua tak seberuntung kita" araf memberi pengertian pada nasya yang disahuti istighfar oleh nasya