Triple Story

Triple Story
bab 83



Hari sudah malam saat araf sekeluarga pulang kerumah mereka begitu pun pengantin baru yang langsung pulang kerumah araf untuk keesokan harinya mereka akan menempati paviliun belakang klinik.


Habil sangat senang bertemu rilley hari ini, dia berencana besok untuk ke rusia dan melamar rilley. Terlepas dari dia mendapat restu atau tidak. Habil mengetuk kamar orangtuanya.


tok... tok... tok...


"masuk" suara berat araf menyuruh mereka masuk. Habil masuk dan melihat pemandangan yang membuatnya merasa adem. Dia melihat araf sedang menyisiri rambut panjang nasya dengan lembut padahal dia tau pasti araf sendiri pasti sangat lelah namun dia tak melupakan kewajibannya mengurus nasya terlebih dahulu sebelum dirinya.


"ada apa bil?" araf menoleh sekilas pada habil


Habil duduk bersimpuh disamping nasya dan mengoleskan lotion pada tangan dan kaki ibunya, "ayah habil besok mau minta izin untuk kerusia melamar rilley" ucap habil sambil tertunduk.


"ayah ikut ya" habil langsung mendongak


"kalau ayah ikut bagaimana dengan mama? seenggaknya walaupun pulang balik membutuhkan waktu 4 hari yah" terlihat kekhawatiran diwajah habil mengenai ibunya.


"mama akan baik2 saja percayalah" ucap nasya pada putranya dia tersenyum dengan lembut membuat tenang yang memandang.


"ayah sudah konsultasikan dengan hasybi dan hail sementara mereka akan membantu ayah mengawasi mama lagipula ada perawat juga" ucap araf yang sebenarnya dirinya juga tak mau meninggalkan istrinya tapi demi kelancaran hubungan anaknya dia akan melakukan apapun.


"ayah yakin?"


"iya nak"


Habil memandang wajah ayahnya diusianya yang sudah 40-an tetapi masih terlihat tampan tanpa kerutan.


"terima kasih ayah, mama"


Araf hanya tersenyum pada anaknya. Setelahnya habil pamit undur diri.


Habil duduk sendiri dikursi menghadap kolam renang yang luas didepannya. Banyak hal yang dia pikirkan saat dirinya menatap langit tanpa bintang diatas sana.


"bang... ngapain malem2 ngelamun disini?" hail datang dan langsung merebahkan dirinya dilantai tepi kolam yang dingin.


"jangan rebahan disitu dingin nanti masuk angin" ucap habil pada adik bungsunya.


"gapapa bang" jawab hail, "lu kenapa bang kaya lagi banyak beban?"


"besok gue berencana kerusia untuk ngelamar rilley"


"terus masalahnya?"


"ayah mau ikut"


"ayah udah bilang kok ke gue sebelum bang hasybi nikah. Gue setuju"


"terus gimana sama mama?"


"ada gue, bang hasybi, perawat, maid yang jumlahnya 12 orang. Apalagi yang lu khawatirin?" tanya hail yang bangkit dari duduknya menatap abangnya yang selalu penuh kekhawatiran.


"itu belum termasuk joana yang siap bantu gue ngurus mama" hasybi datang menyahut ucapan hail dan langsung duduk disisi habil.


"kalian masih pengantin baru maaf dah ngerepotin kalian. Harusnya kalian masih menikmati masa2 kalian jadi pengantin baru" ujar habil


"iya nanti sehabis bang habil dari rusia bang hasybi bisa honeymoon kan bang" hail menyahut


"malah gue sama joana ga pernah mikir buat honeymoon. Joana sendiri ga mau kerja dia cuma mau jadi ibu rumah tangga yang ngurus gue sama mama. Dia sendiri yang bilang daripada duitnya buat honeymoon mending beli rumah" hasybi merebahkan dirinya di bangku panjang dengan bertumpu pada lengannya.


"oiya soal rumah, tunggu sebentar disini" habil bangkit dan berlari masuk rumah hail dan hasybi saling pandang. Tak lama kemudian habil keluar.


"ini" habil memberikan kunci rumah pada adiknya, "anggap aja hadiah pernikahan dari gue" lanjut habil. Hasybi melihat kunci dengan bingung.


"itu bukan kunci paviliun, itu kunci rumah sebelah. Tetangga kita jual rumah butuh banget uang makanya gue beli untuk lu. Surat2nya masih diurus Veni pengacara perusahaan"


Hasybi langsung memeluk habil, "makasih banget ya bang"


"yang penting kalian jadi keluarga sakinah, mawadda, warrahmah kasih gue keponakan jangan ditunda2" ucap habil.


"senangnya melihat kalian akur begini, semoga kita bisa berkumpul nanti disyurga" nasya datang bersama perawat yg menuntun nasya berjalan ke arah anak2nya.


"amin ya Allah" sahut triple h


"nak..." nasya mengambil duduk dibangku single menatap anak2nya, "ada ataupun ga ada ayah sama mama didunia kami harap kalian akan selalu akur dan saling menjaga seperti ini"


Hail mendekati ibunya dan memeluk manja tangan ibunya.


***


"yah... pesawat kita berangkat jam 11 malam ayah udah siap? qta hanya 4 hari yah soalnya habil ga mau ninggalin mama lama2" habil menelepon ayahnya dari kantor. Dia menyelesaikan semua pekerjaannya sebelum diserahkan pada hail sedangkan jimmy asistennya dia bawa untuk mengurus apapun yang dibutuhkan habil nanti.


"udah nak, oiya nanti kita kan transit diabudhabi ada yang mau bertemu ayah disana" jawab araf


"siapa yah?" habil mengerutkan dahinya karena yang dia tau semenjak ayahnya tak lagi bekerja dia jarang sekali berhubungan dengan teman2nya.


"om billy dia kan sekarang stay disana"


"owh ok yah nanti biar jimmy yang urus ke maskapai"


"iya nak"


Jam 4 sore habil pulang kerumah diikuti oleh jimmy yang sudah menyiapkan perabotannya untuk dibawa.


"jim kamu suruh pak deni jemput rilley ke bandara"


"sudah tuan"


"bagus"


"kamu udah pulang bil?" araf sedang duduk bersama nasya sambil mengupaskan jeruk untuk nasya yang sedang menata album foto. Terapi ini bagus untuk penderita alzheimer melatih otak. Hasybi selalu memberikan perawatan terbaik untuk ibunya.


"udah yah, ayah sendiri udah merapikan brang bawaan?"


"udah kok tinggal nenteng"


"habil... anak mama yang tampan... kamu udah pulang sekolah" nasya melebarkan tangannya meminta pelukan pada habil. Habil datang dan memeluk ibunya yang selalu mengira dirinya pulang sekolah jika bertemu disiang hari.


Habil memeluk dan mencium ibunya, "hmmm anak mama yang pintar udah makan belum?"


"udah ma. mama lagi apa?"


"uhhh tampannya anak mama" nasya tersenyum senang setelah mengusak rambut habil.


Senyum nasya benar2 membuat habil yang jarang berinteraksi langsung karena kesibukannya tiba2 membuat habil merasa sedih. Dia memeluk nasya erat seperti orang yang takut kehilangan. Araf menepuk punggung habil.


"kamu udah besar, sebentar lagi mama harus carikan kamu jodoh" gumam nasya sambil mengelus kepala habil membuat habil menangis dalam diam.


"ma... habil udah ada jodoh nanti kita nikahkan aja ya"


"kamu pacaran?" nasya menatap putranya lekat.


"sayang kita makan yuk, kamu kan belum makan" ajak araf pada istrinya agar tak membahas lebih panjang lagi.


Habil hanya melihat kepergian ayah dan mamanya dengan pandangan sendu. 'mama maaf habil menikah tapi mama masih dalam keadaan sakit' pikir hasbil.


"tuan" habil terkejut dengan panggilan dari asistenya jimmy.


"ya" habil menghela nafas menetralisir perasaannya.


"semua sudah siap tuan" ucap jimmy


"bagus kamu memang selalu bisa diandalkan" habil menepuk pundak jimmy dia pun naik kekamarnya untuk mandi dan berganti baju.