
Habil pulang menjelang isya sebelum makan malam. Habil tak menemukan rilley yang menyambutnya seperti biasa. Habil menyerahkan tas kerjanya pada art yang menyambutnya pulang dan membawa tas tersebut ke ruang kerja. Saat Habil naik ke atas dia melihat rilley keluar dari kamar ayahnya.
"kamu ngapain dari kamar ayah? ayah sakit?" tanya habil
"kamu aku wa ga dibaca? ayah babak belur tadi sore waktu jalan-jalan sendiri pulang-pulang badannya lebam...."
Belum selesai rilley bicara Habil bergegas membuka kamar ayahnya, dilihatnya ayahnya sedang dibantu hail untuk duduk hendak makan malam.
"ayah kenapa il?" Habil menyalami ayahnya dan memperhatikan tiap goresan luka diwajahnya.
"ayah bilang tadi waktu olahraga sore dia liat ibu-ibu dihajar sama laki-laki dia mau coba bantu tapi malah ayah yang babak belur" baik menjelaskan
"siapa orang itu berani banget berbuat begini sama ayah!" geram Habil
"besok gue selidikin bang"
"lapor polisi il" perintah Habil yang diangguki hail
"ayah udah mau lapor polisi tapi perempuan itu memohon sama ayah supaya jangan lapor polisi katanya dia ga mau suaminya masuk penjara" araf mencoba mencegah anaknya untuk lapor polisi karena permintaan wanita yang ditolongnya itu.
"tapi..."
"udah ayah gapapa ayah baik-baik ja" potong araf agar para putranya tidak lagi memperpanjang masalah.
###
Pagi2 hail olahraga disekitar komplek rumahnya, saat melihat pos security dia pun mampir kesana sebentar. Dia melihat ada 2 orang security di pos dia pun menghampiri mereka.
"pagi pak...." dengan senyum ramah hail menyapa para security mereka pun antusias dan menjawab salam hail berbarengan.
"pagi den hail...." mereka berdiri dan memberikan tempat pada hail.
"gimana pak komplek aman?" tanya hail
"alhamdulillah aman pak selama ini belum ada laporan pencurian atau sejenisnya" jawab satpam yg agak tua bernama selamet.
"tapi pak selamet kemarin ada bapak-bapak guling-gulingan didekat danau. waktu saya tanya dia bilang habis bertengkar" jawab seorang lagi yang terlihat masih sangat muda yang diperkirakan seumur hail.
"owh iya den kemarin manto sama saya waktu berangkat kerja nemu bapak den hail tuan araf lagi guling-gulingan di dekat danau sana. waktu saya tanya katanya dia habis berkelahi den sama orang. Saya pikir tuan dirampok saya mau telpon polisi kata tuan ga usah" pak selamet mencoba menjelaskan
"kalian tau orang yang bertengkar sama ayah saya ciri-cirinya gimana?"
mereka berdua menggeleng bersamaan, "waktu kita sampai kan cuma liat tuan sendirian" jawab manto
"apa disana ga ada kamera pengawas?" tanya hail lagi
"ada den.... tapi...." manto menatap takut pada pak selamet.
"ada apa?" tanya hail penasaran
Pak selamet menghela nafas, "sebenarnya saya ga mau bilang den tapi karena aden juga harus tau (berdiri) ayo aden liat sendiri aja di layar"
Pak selamet berjalan terlebih dahulu diikuti hail dan manto, pak selamet membuka rekaman cctv kemarin sore saat araf sedang berjalan sore sendiri.
Hail terkejut mendapati ayahnya yang seperti sedang bertengkar tapi tidak ada yang diajaknya bertengkar. Dia bergelut sendiri melompat dan jatuh seperti ada yang memukul padahal tidak. Hail berdiri mematung dengan heran.
"pak selamet tolong jangan bilang pada siapapun termasuk semua kembaran saya. rekaman ini saya ambil saya akan mempelajarinya" ucap hail dengan nada lemah.
"baik den" jawab selamet dan manto serempak.
Hail masuk kerumah dengan wajah lesu, rilley yang melihat adik iparnya seperti tak ada semngat bertanya, "kamu kenapa il?"
"k..." melihat pada wajah lembut rilley, "aku cuma capek k"
"minum dulu airnya nanti jangan lupa sarapan baru boleh istirahat" ucap rilley lembut
"tadi dia bilang mau ketemu sama bu nadia"
Hail langsung beranjak, "bu nadia?" tanya hail
"iya bu nadia yang kemarin bikin ayah bertengkar dengan suaminya sampai ayah babak belur" kesal rilley
"ayah janjian dimana kak?"
"aku kurang tau il tadi aku coba cegah tapi ayah malah bentak aku jadi aku takut"
"ayah bentak kakak?" hail heran karena tak biasanya ayahnya marah atau membentak bahkan pada Joana yang sering membuat ayah kesal tak pernah dibentaknya. Hail tak serta merta percaya dia pun mencari tau sendiri melalui maid dirumah dan kamera pengawas yang dia pasang dan dihubungkan keponselnya. Ternyata benar apa yang Riley bilang.
Kondisi ini membuat hail semakin bingung dengan perilaku ayahnya. Hail pun mencari tau siapa itu bu nadia. Diam-diam hail berencana memasang pelacak dan dia juga memasang perekam di ponsel ayahnya.
📿📿📿
Habil baru saja pulang dia melihat hail yang sedang fokus di taman belakang rumahnya, "aku hampiri hail dulu" Habil menyerahkan tas pada rilley.
Dari jauh hail melihat abangnya berjalan kearahnya. Hail yang sedang melihat pergerakan ayahnya di laptop rekaman yang ia dapat dari para satpam pun segera menutup laptopnya.
"udah balik bang?" Habil mengangguk menjawab pertanyaan hail
"gimana udah nyelidikin sampai mana tentang kasus ayah?" Habil duduk diseberang hail. Hail menghela nafas kasar menggeleng sambil memijat pelipisnya.
"apa kita diem-diem lapor polisi aja?"
Hail memainkan bibirnya dia ragu ingin menunjukkan rekaman yang ia dapat atau ga pada abangnya itu.
"kalian disini rupanya" hasybi datang tiba-tiba dari arah belakang hail mengambil tempat disamping hail.
"bang... sama Joana kesini?" sapa hail
"ga lah dia lagi hamil besar gitu kasian kalau malam-malam abang ajak" jawab hasybi
"gimana soal penyelidikan ayah? udah sampai mana?" hasybi bertanya hal yang sama dengan Habil
"belum dapat apa-apa" jawab habil
Hasybi melihat pada adiknya, "beneran?"
"sebenarnya gue mau nunjukin sesuatu ke kalian berdua karena gue dari tadi mikir keras" hail membuka laptopnya dan menunjukkan rekaman yang dia dapat dari security.
"apa maksud lu ayah ngada-ngada?" Habil menatap tajam pada hail setelah melihat rekaman itu.
Hail hanya diam tak bereaksi, hasybi menarik nafas kemudian berucap, "ini cuma perkiraan gue sebelum gue diagnosis kita harus bawa ayah ke rumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut"
"maksud lu ayah sakit?" tanya hail
"lebih tepatnya tekanan mental" jawab hasybi
"maksud lu ayah...?"
"perkiraan gue ayah gejala skizofrenia tapi karena gue bukan psikolog terlalu dini untuk bilang itu" hasybi menjelaskan, " dan gue rasa bu nadia itu cuma khayalan yang ayah buat jadi nyata"
Seketika Habil dan hail melongo mendengar ucapan hasybi
"apa ini berbahaya?"
"seperti yang lu liat ayah membuat dirinya babak belur itu udah termasuk kategori membahayakan diri belum orang disekitarnya"
"menurut lu kenapa ayah bisa terkena?" tanya Habil dengan pandangan kosong tak percaya
"ini baru perkiraan gue bang kita harus lekas periksain ayah ke psikiater"