Triple Story

Triple Story
episode 34



Waktu berlalu begitu cepat tidak terasa anak-anak annasya dan araf telah lulus dan mereka mulai menata hidup mereka untuk hal yang jauh lebih baik. Keberangkatan hasybi dan hail hampir berbarengan. Hasybi berangkat terlebih dahulu disusul 2 jam kemudian. Annasya melepas kepergian anaknya dengan hati yang lapang dan ikhlas agar anaknya dapat meraih cita-citanya dan berguna suatu hari nanti.


Saat perjalanan pulang nasya tampak murung, araf melihat ke arah istrinya menggenggam tangannya lembut, "terima kasih untuk ga nangis depan anak-anak ya sayang" araf tersenyum duduk disisi nasya dijok belakang. Sedang habil duduk didepan bersama supir. Nasya mengangguk sebenarnya dia sangat ingin menangis tapi dia menahannya agar anak-anaknya bisa berangkat dengan tenang.


"Minggu depan aku ada pekerjaan disingapura kita bisa berangkag bersama sambil melihat keadaan hail" ucap araf. Nasya mengangguk saja tak menjawab. Habil yang tak mendengar kawaban dari sang ibu merasa ibunya sedang memendam kesedihan.


"ma... mau makan streetfood enak ga?" tanya habil langsung berbalik ke arah ibunya yang duduk dibelakangnya. Nasya langsung melihat ke arah putranya. Dia menggeleng pelan, "mama lelah sayang mama pengen istirahat. Perut mama juga mual" jawab nasya lembut. Habil memahami ibunya dia duduk menghadap kedepan lagi. Araf mendekat pada istrinya dia tau jika istrinya sudah mulai mual dia harus berada dipelukan araf agar mulai tenang. Annasya jika dia hamil selalu twnag jika berada dipelukan araf bahkan sering tertidur. Araf meraih kepala nasya dan meletakkannya didadanya menepuk pundak nasya pelan. Perlahan nasya pun memejamkan matanya.


"mas parfum kamu baru ya baunya enak banget" ucap nasya membuat araf dan habil saling pandang. Araf terkejut nasya bisa lupa dengan parfumnya.


"udah tenangin diri ya jangan sedih aku ga mau kamu sedih terus stress kasihan anak kita didalam" araf mengelus perut nasya yang sudah buncit. Nasya mengangguk dan mulai tertidur.


Sesampainya dirumah nasya masih tertidur araf pun menggendong nasya dan membawanya kedalam rumah. Setelah sampai dikamar dia merebahkan nasya diats ranjang.


"ayah..." panggil habil diambang pintu. Araf menoleh pada anaknya setelah menyelimuti nasya dia beranjak ke hadapan anaknya.


"bisa kita bicara sebentar?" tanya habil pada ayahnya. Araf mengangguk dia berjalan mendahului habil ke arah ruang kerjanya yang kedap suara. Sebelum mengikuti araf habil terlebih dahulu menutup pintu kamar utama.


"ayah... kenapa mama jadi pelupa begitu?" habil bertanya setelah duduk disofa ruang kerja araf. Araf tampak berpikir sejenak dia kemudian menghela nafas perlahan seperti melepas beban yang berat.


"bil dulu waktu mama hamil kamu dia pun sama seperti ini menjadi seorang yang pelupa kamu jangan khawatir seiring berjalannya waktu mama akan sembuh dengan sendirinya jika dia sudah melahirkan" araf menatap putranya menjelaskan agar pytranya tidak khawatir walau sebenarnya araf sangat khawatir dengan kondisi nasya.


"owh... begitu yah..." habil hanya mengangguk


"habil..." araf menatap serius pada putranya, "ayah harap kamu bisa mulai membantu ayah diperusahaan. Karena ayah berencana untuk pensiun jika mama udah melahirkan. Ayah ingin membahagiakan mama" araf terlihat serius dengan ucapannya. Habil merasa ada yang salah tapi dia tak mengucap apapun dihadapan ayahnya karena dia tak ingin ayahnya terbebani. Habil hanya mengangguk saja dan tersenyum.


Habil beranjak dari ruang kerja ayahnya. Dia melanglah ke arah kamar utama melihat pada ibunya yang masih terlelap dengan kerudungnya. Cadarnya sudah dibuka oleh araf sebelum pergi. Habil mencium kening ibunya dan membetulkan letak selimut ibunya, "mama sehat terus ya panjang umur supaya bisa melihat anak-anak mama sukses, menikah dan punya anak" habil mencium telapak tangan nasya dan diletakkan dipipinya. Araf yang melihat hal tersebut diambamg pintu terharu bukan main hampir dia ingin menitikkan airmata. Araf beranjak dari sana dan berjalan ke arah kolam renang. Begitulah araf jika merasa sedikit stress dia akan berenang untuk meredakan beban pikirannya.


****


Seketika nasya terduduk lemas, "benar juga ya bi anak-anakku udah berangkat kemarin" ucap nasya dengan nada sedih. Bi minah meletakkan susu hamil dimeja nasya dan selembar roti bakar permintaan nasya.


"udah ibu ga boleh sedih ini dimakan dulu biar baby dalam perut ibu sehat" nasya menoleh ke arah pembantunya dia tersenyum hangat.


"bi terima kasih ya udah mau bekerja disini sampai sekarang" ucap nasya dengan tatapan penuh rasa terima kasih.


"sama-sama bu. Ibu, bapak sama anak-anak adalah orang baik itu kenapa kami betah bekerja bersama keluarga ibu. Saya selalu berdoa untuk kesehatan keluarga ini" jawab bi minah dengan getir menahan tangis karena terharu.


Nasya tersenyum, "amin..."


Bi minah beranjak ke dapur berkumpul bersama art yang lain yang sedang membereskan perlengkapan setelah menyiapkan sarapan.


"bi... keluarga bu nasya baik banget ya bi, sering kasih kita bonus ga cuma saat lebaran aja. Kalau mereka lagi bahagia, kerjaan kita banyak, akhir tahun juga. Mereka juga ga pernah marah-marah sama art yang buay kesalahan ya bi" seorang art yang masih muda sedang mencuci perabot sambil berucap pada bi minah kepala art dirumah ini yang berjumlah belasan.


"iya bi makanya saya betah kerja disini ga berasa udah 10 tahun bi" ucap art lain yang sedang mengelap meja kompor.


"makanya kalian baik-baik kerja disini, jangan aneh-aneh. Susah dapat majikan yang seperti keluarga ini. Doakan selalu mereka sehat, rezeki lancar supaya hidup kita juga tenang" ucap bi minah pada anak buahnya yang betada disana.


"amin ya rabbal'alamin" sahut mereka semua membuat bi minah tersenyum.


Araf dan habil turun bersamaan dari kamar mereka dilantai atas. Mereka mengambil posisi duduk masing-masing. Araf melihat nasya sedang melamun, "kenapa sayang?"


Nasya menoleh pada suami dan anaknya, "rasanya sepi banget mas" ucap nasya dengan nada sedih.


"kamu doakan anak-anak lekas lulus ya supaya kita bisa berkumpul lagi seperti dulu"


Nasya mengangguk mendengar ucapan suaminya. Habil merasa sedih melihat ibunya dia pun menunduk menhan tangis yang ingin keluar. Dia lekas berdiri dan memeluk ibunya, "ma masih ada habil disini habil janji akan lebih perhatian dan ga akan biarkan mama kesepian" nasya membalas pelukan habil dan menepuk pelan pundak anak pertamanya itu.