Triple Story

Triple Story
bab 48



Habil bekerjasama dengan rumah sakit agar annasya bisa dipulangkan. Habil masuk kedalam rumah saat hail tengah menunggunya, "bang..." panggil hail saat melihat habil jalan tertunduk terlihat sangat lelah. Habil langsung mendongak mendapati hail didepan mata.


"lu udah pulang?" habil duduk disofa seorang pelayan membawakan segelas air setelah meneguk minuman itu habil menatap adiknya.


"gimana keadaan mama?" tanya hail khawatir


"gue belum sempat jenguk dipenjara, saat mama ditangkap gue lagi kuliah. Yang ada cuma ayah. Besok kita bareng-bareng nengok mama" Hail mengangguk saja tanpa bicara. Terlihat gurat wajah lelah pada abangnya, hail hanya bisa diam saja tak menjawab. Hail menatap kepergian habil kekamarnya.


"pasti berat banget buat abang mengatasi semuanya sendiri disini" pikir hail saat melihat kepergian abangnya yang berjalan dengan gontai. "Ayah dimana ayah?" hail memanggil salah seorang art-nya dan menanyakan keberadaan ayahnya, "bi... ayah dimana?" karena semenjak kepulangannya hail tak menemukan keberadaan ayahnya.


"maaf den semenjak ibu dipenjara bapak jarang pulang. Yang pulang hanya den habil aja" hail mengangguk saja.


Hail meraih ponselnya dia menghubungi ayahnya dia tau ayahnya pasti sangat sedih. Semua menyalahkan kecerobohan ayahnya walau bagaimana pun kesalahan tak sepenuhnya didiri ayahnya. Beberapa kali ponsel berdering sampai akhirnya diangkat oleh araf.


"halo il... kamu udah dijakarta?" suara dari seberang sana terdengar sengau.


"iya yah... ayah dimana?"


"dikantor masih banyak yang harus ayah kerjakan" jawab araf jujur.


"kita makan malam yuk yah... hail belum makan"


"ya.. ayah tunggu"


Hail beranjak kelantai 2 mengetuk kamar habil, "bang..." tak ada sahutan hail langsung masuk kekamar habil yang rapi, bersih dan wangi. Memang sejak kecil mereka diajarkan nasya untuk membenahi kamar mereka sendiri tanpa bantuan art. Art hanya membersihkan rumah dan kamar utama. Kamar pribadi mereka sendiri yang harus membersihkan. Hail mendengar suara air mengalir ditoilet. Hail menunggu abangnya keluar dengan duduk ditepi ranjang. Melihat foto mereka ber-5 dengam nasya yang dicium oleh hail dan araf.


Hail tersenyum melihatnya dan mengelus sampai dia terkejut dengan suara pintu tertutup keras, "hail... kenapa il?" habil mengusak rambutnya yang basah dia masih terlilit handuk.


"bang... kita makan malam yuk sama ayah" sejenak habil terdiam mematung.


Dia menghela nafas pelan menurunkan handuk ditangannya, "benar juga ayah pasti juga merasa sangat sedih" pikirnya.


"ok tunggu gue selesai ganti baju"


"gue tunggu dibawah ya bang" habil hanya mengangguk.


Habil diam saja sepanjang jalan tak ada percakapan antara dia dan hail yang duduk dibelakang. Karena mereka belum punya sim mereka tak diperkenankan membawa mobil sendiri.


Setelah membeli makanan diresto sebelum kantor habil dan hail meneruskan perjalanan hingga sampai dikantor. Jam sudah menunjukkan pukul 11.30 malam saat mereka sampai dikantor araf yang tentunya sudah sepi dan gelap tak ada karyawan. Habil tak habis pikir kenapa ayahnya tak mau pulang dan lebih memilih dikantor.


"assalamu'alaikum" hail membuka pintu kantor menyalami ayahnya yang tengah berdiri didekat jemdela diikuti habil.


Araf menatap kedua putranya, habil masih sama enggn menatap ayahnya. Hail lekas menyiapkan makan malam walaupun mereka makan dalam diam.


"anak-anak tolong maafkan kesalahan ayah" araf menunduk meminta maaf meletakkan piring dan sendok yang disanggahnya ke atas meja, "ayah merasa gagal..."


"udahlah ayah musibah ini ga ada yang mau juga seperti ini. Kita harus bekerja sama supaya bisa mengeluarkan mama dari penjara" Habil berucap tanpa melihat kepada ayahnya dia memasukkan nasi disendok kedalam mulutnya.


Hail melihat kearah abangnya yang terlihat masih kesal, kemudian melihat pada ayahnya. Hail mencoba mencairkan suasana, "dalam hidup ga ada yang mulus-mulus aja. Sekarang kita lagi ditimpa musibah dengan bocornya rahasia perusahaan, abinaya corp yang lagi goyah karena skandal dan mama yang bertindak impulsif. Menyesal, meminta maaf mungjin terdengar luar biasa tapi ayah... ga mengulangi hal yang sama itu lebih luar biasa" ucap hail yang kemudian memeluk ayahnya. Araf seketika menangis terisak mendapati anaknya yang lebih berjiwa besar daripada dirinya yang sampai kini tak bisa memaafkan dirinya sendiri.


Habil menghentikan makannya dia sendiri pun meneteskan airmata. Dia beranjak dan ikut memeluk ayahnya. Mereka menangis bertiga dengan araf yang terus meminta maaf menyesali perbuatannya.


Keesokan harinya hail berangkat kepenjara untuk menengok ibunya bersama araf. Sedang habil dia bilang ada keperluan mendesak jadi tak bisa ikut.


Habil pergi kesebuah restaurant beserta 2 pengacara handal arcmedia. Dia bertemu dengan erika, wanita yang asal muasalnya membuat keributan didalam keluarganya.


Setelah duduk bersama 2 pengacaranya habil tak berbasa basi lagi, "ok saya langsung saja. Saya memerintahkan anda mencabut laporan anda terhadap ibu saya" Dengan arogannya habil bicara membuat erika tersenyum sinis.


"bagaimana kalau saya menolak?" tantang erika kepada remaja tanggung yang duduk didepannya.


"pak arifin silahkan" habil memberi kesempatan kepada pengacaranya untuk bicara.


"ehemm..." arifin berdehem sebentar kwmudian mengeluarkan map tebal, "erika widiani usia 43 tahun mempunyai 1 anak perempuan tanpa hubungan sah..."


"tunggu apa hubungannya ini!" getam erika


"dengerin aja!" perintah habil


"sekarang sedang kuliah di universitas swasta dijakarta. Usianya 23 tahun. Terlibat skandal dengan seorang rektor universitas agar bisa diluluskan tahun ini. Anda sendiri berkonspirasi dengan saingan bisnis arcmedia dan terbukti membocorkan rahasia perusahaan kepada pesaing. Mencoba menjebak dan memprovokasi nyonya annasya agar bertindak impulsif dan menaniaya anda dikarenakan anda tau nyonya sedang sakit terkait ingatannya. Maka kami akan melaporkan anda dengan tuduhan pengkhianatan, korupsi, dan atau menyebarluaskan informasi rahasia kepada pesaing dan memprovokasi orang yang sedang sakit. Ancaman hukumannya antara 6 sampai 8 tahun penjara"


"apa???" erika terkejut seketika


"dan untuk anak anda saya akan memulai dari skandal dia menggoda seorang rektor padahal dia sudah memiliki pacar anak seorang pengusaha. Kemudian saya akan pastikan dia tidak akan bisa masuk keperusahaan mana pun diindonesia maupun luar negeri" Ucapan habil seketika menohok erika membuat erika terkejut bukan main.


"kamu hanya anak ingusan jangan main-main sama saya!" bentak erika setelah menggebrak meja.


"anda pikir saya main-main? baiklah silahkan teruskan!" Habil berdiri setelah bicara pada pengacaranya dia pun beranjak dari sana. Erika ketakutan setengah mati, dia tak tau jika anaknya memiliki skandal. Selama ini dia hanya berpikir mencari uang yang banyak agar anaknya bisa hidup dengan layak tanpa khawatir masa depan seperti dirinya. Namun apa yang dia dapat???


Erika duduk lemas disofa setelah pengacara habil menyerahkan dokumen dan meminta erika menandatangani. Seketika erika menangis setelah kepergian pengacara itu. Dia tak memyangka disaat seperti ini orang yang sudah membayarnya bahkan tak mau menolongnya karena mereka sadar dan tak mau berurusan dengan arcmedia ditambah power keluarga abinaya yang tak main-main.